Nilai Moral Puisi Tuhan Sembilan Senti

Tuhan Sembilan Senti merupakan satu karya sastra, berupa puisi, gubahan Taufik Ismail

Nilai Moral Puisi Tuhan Sembilan Senti
IST
Kepala Balai Bahasa Aceh, Drs. Muhammad Muis, M.Hum. menyampaikan sambutan pada pembukaan acara “Pembinaan Komunitas Baca Se-Kabupaten Bireuen” di Aula Disdikbud setempat, Selasa (19/3/2019).

Oleh: Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I, Dosen Prodi Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

Tuhan Sembilan Senti merupakan satu karya sastra, berupa puisi, gubahan Taufik Ismail. Puisi itu berisi tentang fenomena para perokok di Indonesia. Rupanya iklan-iklan tentang dampak negatif merokok tidak digubris oleh para penikmat rokok.

Hingga muncul anekdot di kalangan para perokok: Jika melihat peringatan tentang bahaya merokok, mereka segera berhenti, bukan berhenti merokok, tapi berhenti membaca peringatan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa merokok sudah menjadi candu dalam kehidupan, laksana seseorang candu untuk menyembah Tuhan.

Maka Taufik Ismail menyindir para perokok dengan istilah: Tuhan Sembilan Senti. Dimana rokok sudah menjadi Tuhan bagi para perokok. Dalam puisi itu, Taufik Ismail menggambarkan realitas perilaku merokok dinikmati oleh lintas profesi dan status sosial, mulai dari para petani, dokter, hingga para ulama yang sedang memutuskan fatwa tentang rokok.

Ruangan ber-AC tidak menjadi soal untuk tidak merokok. Jadi Indonesia merupakan tempat paling nyaman bagi para perokok. Tentu berbeda dengan di negara lain, merokok tidak boleh di sembarang tempat. Maka pantas Taufik Ismail melakap Indonesia sebagai surga jannatun na’im bagi para perokok. Sungguh nikmat menjadi perokok di Indonesia. Perilaku merusak itu dapat dilakukan dimana saja, tanpa menghiraukan kesehatan diri an orang lain.

Sebab itu, puisi Tuhan sembilan senti mengandung nilai moral yang sangat tinggi. Puisi itu hendak menyadarkan para perokok untuk berhenti merokok, dan mengajak pemerintah untuk menertibkan para perokok. Artinya, bukan hanya hak-hak para perokok yang harus dijaga, tapi hak-hak orang yang tidak merokok pun berhak dijaga dari asap rokok. Sedikitpun rokok tidak bermanfaat bagi manusia, termasuk bagi petani tembakau itu sendiri. Hasil ekonomi rokok hanya dinikmati oleh para pengusaha besar di negeri ini.

Sedangkan para petani tembakau dan pekerja di pabrik rokok hanya ‘korban’ dari perkembangan industri rokok yang luput dari perhatian pemerintah.

Nilai moral
Berikut beberapa nilai moral dalam puisi tersebut diantaranya, pertama, merokok merupakan perilaku buruk dan merusak. Perilaku buruk ini dilakukan di sembarang tempat tanpa peduli lingkungan sekitar.

“Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok, sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.”

Bahkan, perilaku buruk ini merambah ke lembaga pendidikan. Padahal, lembaga pendidikan harusnya bebas dari asap rokok. “Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok, di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok”.

Kedua, rokok laksana berhala modern. Kini merokok bukan sekadar gaya hidup (life style), mengisi waktu senggang, melancarkan peredaran darah untuk berpikir, dan aktivitas dinamis dan fluktuatif. Akan tetapi, merokok sudah menjadi candu, bersifat statis, tak bisa tergantikan, dan kebutuhan hidup, laksana kebutuhan Tuhan bagi makhluk. “Berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya, Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini”.

Sebab itu, merokok merupakan satu bentuk ketidakmampuan dalam pengendalian hawa nafsu. Para perokok telah diperbudak oleh hawa nafsu. Ketidakmanfaatan rokok bukan saja tertulis di bungkus rokok, tapi juga terlarang dalam agama. Karena merokok bagian dari perilaku menganiaya diri sendiri dan orang lain. Apalagi merokok dengan serampangan telah menimbulkan polusi udara dan menyebarkan penyakit kepada keluarga. Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok. rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita, Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok, Bercakap-cakap kita jarak setengah meter”.

Ketiga, berlindung kepada Tuhan dari bahaya rokok. Jikatelah memahami tentang bahaya merokok, maka hendaknya semua pihak berlindung dari perilaku merusak dan buruk ini. Sebab, rokok sedikitpun tidak memberikan manfaat bagi kesehatan perokok aktif maupun pasif. Sebaliknya, perilaku tersebut telah menjadikan para petani tembakau, pekerja pabrik rokok, keluarga, dan ruang publik teraniaya.

Maka berhentilah dari perilaku merokok tersebut, sebelum Malaikatmaut mematikannya. “Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini”. Dalam agama diharamkan melakukan perbuatan yang merusak diri sendiri dan orang lain. Jika perkara terlarang dikerjakan, maka akan mendapatkan sanksi (‘uqubah) di dunia dan akhirat.

Dan, keempat, perilaku merokok harus ditertibkan di ruang publik. Pemerintah merupakan pihak yang bertanggung jawab untuk membuat regulasi tentang perilaku merokok. Merokok di ruang publik telah menjadi problematika sosial (patologis sosial) dalam kehidupan sosial masyarakat. Sebab, perilaku merokok dilakukan di sembarang tempat tanpa peka dan peduli, simpati dan empati kepada lingkungan sekitar. Jika perilaku merokok tidak ditertibkan di ruang publik, berarti pemerintah telah lari dari tanggung jawab untuk melindungi segenap warganya, termasuk melindungi dari asap rokok. Oleh karena itulah, Tuhan Sembilan Senti harus ditertibkan di negeri ini.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved