Salam

Kampanye Terbuka Tak Boleh Anarkis

Pemilu 2019 yang masa kampanyenya teramat panjang, yakni delapan bulan, kini memasuki tahapan

Kampanye Terbuka Tak Boleh Anarkis
SERAMBINEWS.COM
Ilustrasi kampanye terbuka 

Pemilu 2019 yang masa kampanyenya teramat panjang, yakni delapan bulan, kini memasuki tahapan yang amat dinanti-nantikan oleh para peserta pemilu, baik calon presiden/wakil presiden (capres/cawapres) maupun calon anggota legislatif (caleg). Tahapan dimaksud adalah kampanye terbuka.

Berdasarkan jadwal yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), mulai Minggu (24/3) kemarin pesta demokrasi tahun ini memasuki tahapan kampanye terbuka atau disebut juga dengan istilah rapat umum.

Kampanye terbuka Pemilu 2019 berlangsung hingga 13 April mendatang. Artinya, mulai kemarin penyelenggara pemilu sudah membolehkan peserta Pemilu 2019 untuk menggelar kampanye atau rapat umum di tempat-tempat terbuka. Misalnya, di lapangan, stadion, atau tempat umum/terbuka lainnya.

Selain kampanye terbuka, kampanye melalui media massa (cetak dan elektronik) berupa iklan juga sudah boleh dipasang oleh peserta Pemilu 2019 sejak 24 Maret hingga 13 April, sehari menjelang hari tenang pemilu.

Sebagaimana diberitakan Serambi kemarin, jadwal kampanye itu berlaku serentak di seluruh Indonesia. Khusus untuk pasangan capres/cawapres, di setiap provinsi termasuk Aceh, penyelenggara pemilu memberi jatah kampanye sepuluh kali, baik untuk pasangan nomor urut 01 maupun nomor urut 02 beserta partai pengusung dan pendukungnya. Masing-masing mendapat jatah kampanye terbuka sepuluh kali atau sepuluh hari dengan jadwal yang sudah ditentukan.

Nah, momen kampanye terbuka ini bukan saja penting dan strategis, tetapi juga sekaligus krusial. Dikatakan krusial karena kampanye terbuka biasanya mengundang atau mengerahkan banyak massa. Kampanye politik juga dilakukan dalam semangat untuk memengaruhi sebanyak-banyaknya calon konstituen demi memenangkan kontestasi. Jadi, jika tidak dimenej dengan baik atau dilakukan tanpa mematuhi aturan yang ada bisa-bisa kampanye terbuka menimbulkan pergesekan, chaos, bahkan tindakan anarkis. Padahal, demokrasi kita tak menghendaki hal yang demikian.

Oleh karenanya, semua peserta pemilu sebelum menggelar kampanye sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan, haruslah terlebih dulu mengantongi surat izin yang dikeluarkan pihak kepolisian sesuai lokasi tempat digelar kampanye. KIP bersama pihak kepolisian harus mengatur sedemikian rupa jadwal kampanye. Jangan sampai di suatu kawasan yang berdekatan dan pada jam yang hampir bersamaan diizinkan kampanye dua kubu yang bertentangan. Massa pendukungnya yang bertemu dalam posisi berlawanan arah di sebuah ruas jalan bisa-bisa saling ejek, saling lempar, atau bahkan bentrok. Juru kampanye pun kita harapkan tetap menjaga lisannya agar tidak menjelek-jelekkan pasangan atau calon lain, sebab lisan yang tak terjaga bisa memicu ketersinggungan dan akhirnya menyebabkan bentrok. Patuhi juga larangan tak boleh membawa anak-anak di ajang kampanye.

Akhirnya, kita ucapkan selamat melaksanakan kampanye terbuka, tapi ingatlah ini bukan ajang terbuka untuk mencaci maki atau mendiskreditkan pihak lain. Tetap jaga ketertiban dan harmoni, hindari pergesekan di lapangan, dan yang paling utama adalah perdamaian Aceh jangan sampai terusik, apalagi ternoda saat kita melaksanakan pesta demokrasi lima tahunan ini. Mari kita wujudkan pemilu yang damai, tertib, sejuk, lancar, dan berkualitas. Semoga.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved