Opini

Menghindari Blunder

BAGI mereka yang suka permainan sepakbola tentu tidak asing dengan kata blunder

Menghindari Blunder
FOR SERAMBINEWS.COM
Panggung kampanye di lapangan sepakbola Pulo Kiton, Kota Juang Bireuen, Maret 2019 

Oleh Rustam Effendi

BAGI mereka yang suka permainan sepakbola tentu tidak asing dengan kata blunder. Apa itu blunder? Sejauh ini tidak ada arti yang baku atau disepakati secara bulat. Namun, ada yang memberi makna “merupakan kesalahan yang dilakukan oleh tim atau individu (baca: seseorang) akibat kekhilafan, kebodohan, atau pun karena sikap yang sembrono alias kurang hati-hati”.

Seorang stopper (pemain belakang bertahan) salah mengoper bola kepada sang kiper, lalu bola direbut lawan dan kemudian dilesakkan ke gawang hingga berakibat terjadinya gol bunuh diri. Atau, bisa juga terjadi akibat kipernya overacting, kemudian bola lepas di tangannya dan disambar lawan, lalu bola pun bersarang ke dalam gawang dan sang kiper pun terpelongo, penuh penyesalan atas kecerobohannya. Itulah beberapa contoh terjadinya blunder tadi.

Tidak hanya dalam permainan sepakbola, dalam dunia politik pun seringkali kita saksikan terjadinya blunder. Misalnya, pengurus partai politik (baca: Ketua Partai) atau para calon anggota legislatif (Caleg) baik DPR RI, DPD RI, maupun DPRD tahu bahwa potensi calon pemilih terbanyak di Tanah Air adalah kaum Muslim. Tapi, ucapan, tindakan atau perbuatannya seperti menafikan hal itu. Mereka seperti sengaja menyayat atau melukai perasaan Muslim yang justru sebenarnya ingin disasar untuk mendulang suara. Mereka lupa, yang disayat atau dilukai perasaan dan hatinya itu adalah pemilik suara yang paling dominan di negeri ini.

Kurang peduli
Mereka sebenarnya paham, jika soal-soal yang menyangkut dengan akidah dan syariah, atau adat dan kebiasaan, merupakan material obrolan yang amat sensitif. Gampang menusuk dan melukai nurani jika tidak disikapi dengan bijak dan hati-hati. Namun, ada juga yang menyentuh nilai ini dan malah terkesan kurang menaruh peduli dan seenaknya.

Padahal, bukankah itu akan menciptakan blunder yang justru dapat mengusik zona “aman” yang sebenarnya habitat paling diidamkan oleh siapa pun dalam kehidupan politik? Blunder yang diperbuatnya akan membuat mereka rentan di-bully, dinyinyirin, dijauhi, atau bahkan dicaci-maki oleh mereka, khususnya para pihak yang merasa terusik karenanya.

Mengapa mereka, baik pengurus parpol atau caleg sering melakukan blunder? Itu antara lain karena ketidak hati-hatian, atau kurang cermatnya dalam memantau dan mengamati kondisi struktural dan kultural yang ada. Mereka lupa jika problema kehidupan yang kian kompetitif dengan beban yang kian tidak ringan ini, cenderung membuat orang-orang begitu mudah bereaksi terhadap sesuatu yang tidak lazim. Mereka gampang tersulut emosinya kala ada yang memantiknya, meski pun secara fisik tidak sampai terluka.

Jika ada yang mengusik hal-hal yang berkait terutama dengan agamanya, tidak akan bisa diterimanya. Mereka diam, tapi sebenarnya akan memberi hukuman bagi si pengusik saat tiba masanya. Di sisi lain, blunder juga bisa terjadi akibat mereka (politikus) seringkali asyik dengan pikirannya sendiri. Mereka kurang peduli dengan dinamika lingkungan yang ada dan sedang terjadi.

Tidak lama lagi akan berlangsung pesta demokrasi pemilihan umum (pemilu) serentak; yaitu pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg). Semakin mendekati hari H, tampak suasana kian meriah. Aktivitas kampanye bertambah gencar, baik secara kepartaian maupun perorangan. Tersirat jika kian hari persaingan pun semakin ketat.

Seluruh parpol dan para kadernya, khususnya para caleg, saling menunjukkan kapasitas mereka untuk meyakinkan calon pemilih. Alat peraga kampanye terus disebar di mana-mana sebelum tiba masa larangan. Agenda pertemuan dan keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat atau di lapangan diintensifkan. Dan, menariknya sesama caleg terjadi proses intip-mengintip kelemahan masing-masing.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved