Opini

Harga Sebuah Percaya

JUDUL tulisan ini terinspirasi dari buku karya Tere Liye, “Harga Sebuah Percaya”, yang mengisahkan tentang bagaimana

Harga Sebuah Percaya
Serambinews.com
Polres Bener Meriah, Sabtu (23/3/2019) menggelar istighosah dan zikir akbar untuk Pemilu yang aman, damai dan sejuk di Kabupaten Bener Meriah. 

Oleh Asmaul Husna

JUDUL tulisan ini terinspirasi dari buku karya Tere Liye, “Harga Sebuah Percaya”, yang mengisahkan tentang bagaimana setiap orang mempunyai takdir baik yang harus dijemputnya. Namun di tengah situasi tahun politik seperti ini, percaya tidak hanya penting untuk menjemput takdir baik, tapi juga menjadi poin penting bagi politisi karena ia adalah harga bernyawa untuk meraup suara.

Jika ada seorang penjual obat penyakit kulit dan mengatakan bahwa obat tersebut sangat manjur untuk menghilangkan panu, namun di saat bersamaan Anda melihat ada panu di leher dan wajah penjual obat tersebut. Pertanyaannya: percayakah Anda bahwa obat tersebut dapat menyembuhkan panu? Anda pasti akan membenak: jika obat tersebut sungguh mujarab, tentu orang pertama yang sembuh panunya adalah penjual obat itu sendiri.

Penjual obat panu yang gagal menyembuhkan panunya sendiri hanyalah sebuah contoh bahwa untuk meraih rasa percaya, maka terlebih dulu harus dibuktikan. Seseorang akan lebih dipercaya karena tindakannya, bukan hanya sebatas kata. Maka jika hari ini ada pemimpin yang mengingkari janji yang disampaikannya saat kampanye, maka itu sama dengan penjual obat panu tersebut: sama-sama tidak bisa dipercaya. Karena tanpa upaya, kata hanyalah frasa tak bermakna.

Belajar dari CLR
Tentang bagaimana sebuah percaya, kita bisa belajar banyak dari gerakan sosial CLR (Cet Langet Rumoh) yang diinisiasi oleh Edi Fadhil. Gerakan sosial yang bergerak di bidang pembangunan rumah duafa, beasiswa, dan modal usaha bagi masyarakat kurang mampu tersebut menggalang dana dari jamaah facebook. Sebagai satu relawan CLR, saya melihat sendiri bahwa pondasi paling kuat di gerakan tersebut adalah rasa percaya. Di CLR, 70 persen jamaah facebook yang ikut menyumbangkan bantuan untuk gerakan sosial tersebut adalah sama sekali tidak saling kenal dan bertemu wajah.

Lalu bagaimana mungkin para donatur tersebut bisa mengirimkan uang mulai ratusan ribu hingga puluhan juta ke rekening orang yang belum dikenalnya? Kuncinya hanya satu: percaya. Di CLR, setiap dana yang didapatkan akan dipergunakan seutuhnya untuk orang yang membutuhkan tanpa dikurangi sepeser rupiah pun. Tidak ada fee sama sekali untuk relawan di lapangan. Semua lelah dan akomodasi relawan menggunakan dana pribadi, malah sebagian besar ikut memberikan sebagian dana pribadinya jika pembangunan rumah duafa tersebut kekurangan biaya. Di CLR saya melihat sendiri bahwa politik hana fee itu sungguh ada.

Fakta itulah yang kemudian membuat jamaah media sosial percaya dengan sosok-sosok di balik CLR dan mengirimkan sumbangan puluhan hingga ratusan juta tanpa disertai rasa khawatir bahwa uangnya tidak akan sampai kepada penerima. Hanya melalui selembar foto dan beberapa baris kalimat yang bernyawa, pertanggungjawaban selesai. Donatur bisa tersenyum bahagia hanya dengan melihat selembar foto hasil pembangunan rumah duafa dari dana yang dikirimnya, tanpa merasa harus terjun langsung ke lapangan untuk memastikan bahwa tidak ada dusta di antara keduanya.

Begitu juga dengan ranah politik. Saat seseorang sudah percaya, ia akan mendukung dan membantu pemimpinnya untuk sama-sama berkontribusi bagi negeri. Hal ini menjadi penting karena rasa tidak percaya membuat publik curiga, menghujat, dan penuh caci maki. Rakyat akan meminta janji yang dulu terlanjur ditabur saat kampanye. Namun sayang, hasil survei membuktikan bahwa tingkat kepercayaan publik paling tingggi adalah kepada KPK (86%), DPR (51%), dan paling rendah justru kepada partai politik (35%). Artinya, rakyat lebih percaya kepada orang yang tidak dipilihnya dalam pemilu (KPK) dibandingkan yang dipilihnya saat pemilu (DPR).

Benar seperti apa yang dikatakan oleh Charles de Gaulle (1890-1970), seorang negarawan Prancis, bahwa “Politisi tidak pernah percaya atas ucapannya sendiri. Mereka justru terkejut kenapa rakyat memercayainya.” Bunga tak jadi mekar dan rasa percaya hanya menjadi sebuah kelakar. Belum lagi tentang berita hoaks yang bertebaran di media massa yang diantarkan oleh koran, televisi, dan media sosial. Kebohongan diantarkan hingga ke kamar tidur. Sampai ada sindiran satir yang menyebutkan bahwa saat ini berita yang benar di media hanya dua: tanggal terbit dan berita orang meninggal. Walau kini, berita orang meninggal pun belum tentu benar.

Krisis rasa percaya
Jika faktanya publik terus dihujam dengan berita dan janji hoaks, lalu bagaimana mungkin rakyat bisa percaya pada janji penuh bunga? Kenapa timses masing-masing calon wakil rakyat sangat gencar kampanye dan menyerang pihak lawan? Karena tidak semua masyarakat percaya sepenuhnya pada apa yang diucap. Rakyat sudah bosan dihujani janji manis yang usai pemilu hanya akan meninggalkan diabetes. Rakyat berada pada krisis rasa percaya. Ketika yang didengar dan yang dilihat tak seindah yang digaungkan.

Maka tidak heran jika keluar suara dari masyarakat bahwa lima tahun sekali, kita harus siap digempur dengan pembohongan publik. Menjelang pemilu, ada banyak dusta yang menjanjikan sejahtera. Sejahtera dalam kata, miskin dalam fakta. Akan ada jembatan yang dibangun bahkan di tempat yang tak ada sungainya. Namun dengan semua kepalsuan itu, masyarakat “dipaksa” untuk percaya bahwa semua itu adalah benar adanya.

Ketidakpercayaan masyarakat saat pemilu tentu bukan tanpa alasan. Selama ini, masyarakat sudah terlampau sering menelan pahitnya janji manis yang ditabur penuh bunga hanya saat menjelang pemilu. Janji sejahtera, pendidikan merata, keadilan tak pandang kasta, yang menganggur akan kerja, yang miskin akan kaya, adalah sederet janji yang memabukkan jiwa. Namun nyatanya, sejahtera hanya dalam kata, pendidikan berfokus di kota, keadilan hanya bagi mereka yang berpangkat dan kaya, koruptor boleh mencalonkan diri kembali menjadi raja, sedangkan yang baik budi, untuk melamar kerja harus melampirkan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK).

Bagi masyarakat, kondisi ini tentu tidak mudah. Kepalsuan penuh warna yang kerap ditampilkan menjelang pemilihan, membuat masyarakat bingung ke mana harus melabuhkan percaya. Sedangkan di sisi lain, ekonomi semakin terjepit dan disaat yang bersamaan, rupiah, sarung, sembako, diantarkan ke rumah tanpa diminta. Karena saat lapar, pikiran tak sempat diajak kompromi tentang pantas atau tidak, benar atau dusta, ketika selembar kertas bergambarkan Soekarno-Hatta bisa membuatnya menghidangkan makanan di atas meja untuk keluarga.

Kita tidak bisa menyalahkan seutuhnya masyarakat berhadapan dengan calon wakil rakyat yang menjadi dermawan tiba-tiba. Karena mereka adalah sasaran empuk untuk mendapatkan rasa percaya dan merebut suara. Namun satu hal yang perlu diingat bahwa jika ada calon pemimpin yang memulainya dengan politik rupiah, maka percayalah, dia akan mengambil kembali rupiah pengganti saat ia menjabat nanti. Maka jangan buat negara membuang uang secara percuma hingga puluhan triliun untuk pelaksanaan pemilu hanya untuk membuat masyarakat dimabukkan dengan “angin surga”. Buatlah rakyat percaya. Karena kepercayaan yang tulus adalah percaya tanpa diminta. Sungguh, ini bukan tentang kata, tapi harga sebuah percaya.

* Asmaul Husna, peminat isu sosial-politik dan Koordinator Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Lhokseumawe. Email: hasmaul64@yahoo.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved