Keren, Bordir Aceh dari Montasik Makin Banyak Peminat

aneka kreasi bordir layak masuk dalam daftar buah tangan. Mulai dari dompet, tas, hingga pakaian dengan berbagai corak dan ukuran

Keren, Bordir Aceh dari Montasik Makin Banyak Peminat
SERAMBINEWS.COM/HARI MAHARDHIKA
Tas dan selempang bordir Aceh karya 'Cantik Souvenir', Montasik, Aceh Besar. 

Laporan Nurul Hayati I Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Kembali dari pelesiran tanpa menenteng oleh-oleh adalah sebuah kesalahan.

Jika anda berkunjung ke Aceh, aneka kreasi bordir layak masuk dalam daftar buah tangan. Mulai dari dompet, tas, hingga pakaian dengan berbagai corak dan ukuran.

Gampong Dayah Daboh, Kecamatan Montasik, Kabupaten Aceh Besar ini dikenal sebagai sentra bordir khas Aceh.

Baca: Ibunda Bayi Bocor Jantung di Nagan Meninggal

Berdiri sejak 1996, saat ini di desa tersebut telah ada sekitar 50-an pengrajin yang terbagi atas 12 kelompok. Satu di antaranya, yaitu Cantik Souvenir.

"Alhamdulillah untuk tahun ini kami pribadi penjualannya meningkat. Walaupun pasar lagi sepi nggak terima barang, alhamdulillah kami mendapat orderan dari beberapa dinas terkait dari bulan 10 (2018) sampai saat ini," ujar Sri, salah seorang pengrajin 'Cantik Souvenir' kepada Serambinews.com, Selasa (26/3/2019).

Ia mengaku, baru-baru ini mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Bank Indonesia (BI).

 Keahlian membordir usaha keluarga ini diwariskan secara turun temurun.

Baca: Mahasiswa Unimal Berorasi di Kampus, Ini Tuntutan Kepada Pemerintah Pusat

Proses pembuatannya dimulai dari membuat pola, menjahit dasar, dan menerapkan motif.

Dikerjakan dengan mesin jahit khusus yang memproduksi 5-10 produk per hari.

Motifnya berupa pinto Aceh, pucok rebong, dan kerawang Gayo dengan menerapkan warna-warni khas Aceh.

Mau pesan khusus atau membeli langsung? bisa.

Baca: Simpatisan Irwandi Yusuf Sempat Gelar Demo di Bandara Malikussaleh Jelang Jokowi Tiba

"Mudah-mudahan orderannya terus ada. Karena kalau pesanan nggak ada ditambah pasar sepi, kapalo (alamak)," ujar Sri. 

Dibanderol mulai harga Rp 10 ribu – Rp 300 ribuan per satuan. Menjadi sumber mata pencaharian bagi sebagian kaum perempuan desa setempat.

Kini, karya warga Montasik tersebut bahkan telah merambah pasar dunia. Saatnya produk lokal naik kelas. (*)

Penulis: Nurul Hayati
Editor: Hadi Al Sumaterani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved