Citizen Reporter

Buku-buku tentang Aceh di Perpustakaan Mesir

ISKANDARIAH adalah sebuah provinsi dari negara Republik Arab, Mesir. Provinsi ini terletak di utara Mesir

Buku-buku tentang Aceh di Perpustakaan Mesir
IST
ARIDHO HIDAYAT ALIF

OLEH ARIDHO HIDAYAT ALIF, alumnus Pesantren Modern Al-Zahrah, Bireuen, penerima Beasiswa LPSDM Aceh 2014, sedang studi magister di IARS, melaporkan dari Kairo, Mesir

ISKANDARIAH adalah sebuah provinsi dari negara Republik Arab, Mesir. Provinsi ini terletak di utara Mesir, yaitu salah satu provinsi yang berada pada kawasan wajhul Qibly atau yang berada di bagian belahan selatan negara Mesir. Iskandariah adalah kota pinggir laut yang luas membentang menemani keindahan pantai Laut Mediterania, kota yang terletak sepanjang pantai kurang lebih 20 km. Laut Mediterania atau Laut Tengah adalah laut antarbenua yang cukup terkenal, mencakup Eropa, Asia, dan Afrika. Provinsi Iskandariah beribukotakan Iskandariah, kota kedua terbesar di Mesir setelah Kairo. Letaknya 208 km di sebelah barat Laut Kairo.

Iskandariah atau dalam bahasa Latinnya Alexandriana adalah sebuah kota pelabuhan ternama di Mesir. Provinsi seluas 2.300 km2 ini memiliki panorama keindahan pantai yang cukup memesona, kota yang didirikan oleh Alexander The Great atau Iskandar Yang Agung, pada masa 332 SM. Bahkan nama Alexandria pun diambil dari nama sang raja, penguasa legendaris Yunani-Macedonia tersebut.

Alexandria memiliki segudang tempat bersejarah yang dapat memperkaya khazanah pengetahuan jika kita mengunjungi tempat-tempat tersebut. Keunikan tempat-tempat wisatanya tidak hanya terikat pada satu masa, tetapi mampu menjadi saksi persinggahan sejarah-sejarah besar peradaban bangsa di dunia, seperti Yunani, Romawi, Mesir Kuno, dan Islam.

Dalam tulisan yang singkat ini, saya yang sedang menempuh studi Magister Pendidikan di Institute of Arabic Studies and Researches (IARS) Kairo akan mengajak para pembaca untuk berkenalan dengan perpustakan Alexandria, Bibliotheca Alexandrina. Perpustakaan ini didirikan oleh Ptolemi I (323-284 SM), salah seorang komandan perang Dinasti Ptolemi pada era Yunani, yang berkuasa di Mesir. Namun, perjalanan pustaka terbesar pada masanya tersebut sirna dengan datangnya invasi Julius Caisar pada 48 SM dari Romawi ke Mesir sehingga tidak kurang 400.000 dari keseluruhan koleksi buku yang mencapai 700.000 buku hingga masa Ptolemi III, hangus, musnah terbakar akibat serangan Julius Caisar tersebut.

Nasib perpustakaan bersejarah ini hampir saja menjadi sebuah mitos atau legenda setelah hampir 20 abad lamanya terbengkalai. Lalu, Unesco dan Pemerintah Mesir, serta sejumlah lembaga keilmuan dunia memulai pembangunan dan konstruksi kembali pada 1995, walaupun ide pembangunannya sudah lahir pada 1974. Akhirnya, dengan dana US$220 juta, Bibliotheca Alexandrina dapat diresmikan kembali penggunaannya oleh Presiden Husni Mubarak pada 16 Oktober 2002.

Selain ruang baca utama yang luasnya mencapai 70.000 m2, pustaka ini juga memiliki ruangan konferensi, ruang multimedia, ruang pameran, museum, ruang riset, galeri seni, planetarium, laboratorium restorasi naskah kuno, ruang khusus bagi pembaca tunanetra, ruang khusus anak-anak, pemuda, dan lain-lain. Walaupun rak-rak yang tersedia di perpustakaan ini dapat menampung kurang lebih 8 juta judul buku, tapi sekarang koleksi perpustakaan hanya berkisar 250.000 judul buku dan terus dilakukan penambahan setiap tahunnya.

Untuk dapat masuk ke pustaka ini pun cukup mudah, pengunjung hanya membayar tiket masuk di pos-pos tiket yang berada di luar pustaka sebesar 2 Livre Egyptienne (Le) atau pound Mesir (sekitar Rp 3.600), kemudian pengunjung dapat langsung memasuki ruangan utama dengan pemeriksaan autogate yang dijaga ketat oleh petugas di sekitarnya.

Pengunjung dimudahkan untuk mencari buku yang diinginkan, karena perpustakaan tersebut menyediakan 500 komputer dengan program Search Box yang tersedia pada setiap komputer. Kenyamanan pembaca dan pengunjung pustaka menjadi fokus utama dari Bibliotheca Alexandrina ini, di mana pihak pustaka menyediakan meja khusus dan rak khusus yang memuat bahan-bahan resensi buku-buku terbaru dan lama, artikel, pengumuman agenda kepustakaan, kebudayaan, seni, pameran, dan sebagainya. Ini semua dapat dimiliki oleh para pengunjung secara cuma-cuma dan bisa dibawa pulang oleh pengunjung.

Pihak pustaka juga menyediakan rak khusus yang memberikan pembaca dan pengunjung ruang untuk berkecimpung dalam kemajuan dan perbaikkan pustaka ke depannya. Para pembaca diajak untuk memberikan saran dan ide bersifat positif di secarik kertas yang berbahasa Arab dan Inggris. Kertas ini bertuliskan Istithlaa’u rakyi atau Share your ideas, sebuah ajakan untuk dapat memberikan ide kemajuan bagi pustaka tersebut.

Hal yang membuat saya terkesan ketika mencoba mencari buku tentang Aceh, ternyata Bibliotheca Alexandrina juga memiliki koleksi yang cukup banyak tentang tulisan yang terkait Aceh dan Gayo. Di antaranya buku-buku karya Snouck Hurgronje seperti Het Gajoland En Zijne Bewoners dan Platen Behoorende Eij De Atjehers. Ada lagi karya JP Schoemaker berjudul Atjeh Oorlog, Schetsen Uit Den Atjeh Oorlog. Karya Paul Van’t Veer, De Atjeh Oorlog. Karya J Jongejans, Land En Volk Van Atjeh. Karya Liesbeth Dolk, De Verbeelding Van Een Koloniale Oorlog dan masih banyak lagi buku lama dan modern yang ditulis dan terkait tentang Aceh.

Sebenarnya buku-buku di atas bisa kita dapatkan di sejumlah tempat di Aceh, seperti di Pustaka Museum Negeri Aceh, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh, Badan Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, dan lain-lain. Hanya saja, mendapati buku tentang Aceh di tanah luar Aceh seakan-akan dapat memberikan semangat kepada kita untuk terus mempelajari sejarah kita dan perlu kita sadari bahwa perjalanan sejarah Aceh pun akan terus diperhatikan, ditulis dan dipelajari oleh bangsa luar hingga hari ini.

Jika demikian, kita mengetahui begitu banyak bangsa di luar Aceh yang mempelajari sejarah tentang Aceh, apa salahnya kita luangkan waktu belajar kita untuk mempelajari, mengkaji, meluruskan sejarah milik kita sendiri, Aceh lon sayang.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved