Opini

Memformat Wajah Kota

APRESIASI buat Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh yang terus mencari format penataan wajah kota tua ini

Memformat Wajah Kota
DOK. DKP BANDA ACEH
FOTO Maket Museum Digital Taman Sari Banda Aceh 

Oleh Herman RN

APRESIASI buat Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh yang terus mencari format penataan wajah kota tua ini. Setelah menyulap Taman Sari dengan gundukan tanah dan panggung permanen, kini Pemko akan memformat halaman depan Masjid Raya Baiturrahman menjadi Taman Lokomotif.

Seperti diberitakan Harian Serambi Indonesia (Sabtu, 23 Maret 2019), Pemko Banda Aceh akan membangun Taman Lokomotif sebagai lokasi wisata baru di Banda Aceh. Proyek yang menghabiskan dana sebesar Rp 3 miliar itu direncakan mengambil lokasi depan Masjid Raya. Dengan alasan Banda Aceh masih kekurangan objek wisata, Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, berkeinginan agar taman tersebut nantinya menjadi destinasi wisata.

Sebagai orang Aceh yang menghargai sejarah dan berkhidmat pada kerja-kerja kearifan lokal, saya sangat apresiatif terhadap program-program “melawan lupa”. Di antara program melawan lupa, selain menulis, tentunya membangun miniatur atau sebentuk lain sebagai imitasi terhadap dokumentasi sejarah.

Sangat penting
Miniatur lokomotif sangat penting bagi Banda Aceh dan Aceh umumnya, karena kereta api memang pernah berjaya di Kutaraja seabad lalu. Namun, tatkala membangun miniatur tanpa mempertimbangkan wajah kota, sepertinya juga bukan sebuah pekerjaan menghargai sejarah.

Sejarah masa lalu adalah warisan untuk generasi masa sekarang. Kita penikmatnya. Sejarah hari ini akan menjadi warisan bagi generasi akan datang. Anak cucu kita penikmatnya. Oleh karena itu, jangan sampai dalih mengingat masa lalu menjadikan wajah kota hari ini semakin semrawut sehingga orang-orang sekarang hanya dapat mewariskan sejarah pilu bagi generasi mendatang.

Konkretnya, pembangunan Taman Lokomotif itu bagus dan penting, tetapi memilih lokasi juga perlu pertimbangan. Jika maksud Pemko Banda Aceh akan menyulap setumpuk taman pohon hijau di depan Masjid Raya sebagai Taman Lokomotif, tentunya ini perlu dipikir ulang. Hampir tidak ada lagi lokasi taman hijau di tengah Kota Banda Aceh. Setumpuk pohon yang tumbuh ranum di depan Masjid Raya Baiturrahman itulah sisa penghijauan terakhir pusat kota. Jika pepohonan itu pun nanti akan dibabat demi Taman Lokomotif, apa jadinya wajah pusat kota tua ini?

Ada baiknya, pembangunan Taman Lokomotif dilakukan pada lokasi di samping Swalayan Barata. Sulaplah halaman samping swalayan tersebut menjadi Taman Lokomotif yang ramah lingkungan. Karena di sana memang lintasan keretap api masa lalu, lebih tepat di sanalah lokasi pembangunan taman tersebut.

Jangan format wajah Kota Banda Aceh dengan bangunan-bangunan beton, meski dengan alasan taman. Masyarakat Banda Aceh masih butuh suasana hijau dan ranum pepohonan. Pohon-pohon tersebut bukan hanya memberikan kesejukan bagi mata memandang, tetapi juga menjadi penyuplai oksigen dan penyerap air hujan.

Apa pun bentuk tamannya, bagimana pun format pembangunannya, alangkah lebih baik jika dikonsep dengan matang. Ibaranya, jangan buet walanca-walance, awai pubuet dudoe pike. Memang sekilas taman itu bisa mendatangkan keramaian. Namun, jika pada akhirnya hanya menambah ‘semak’ tatawajah kota, bukankah sebaiknya dipikirkan lagi, terutama mengenai lokasi? Jangan sampai buet meawe sabong, sederhana bak uram, tetapi rayek bak meusangkot ujong.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved