Opini

Perang Diri Sendiri

SETIAP 26 Maret, kita mengenang kisah kepahlawanan rakyat Aceh melawan Belanda

Perang Diri Sendiri
IST
CUT NYAK DHIEN 

(Mengenang Jasa Pahlawan Perang Aceh)

Oleh M. Adli Abdullah

SETIAP 26 Maret, kita mengenang kisah kepahlawanan rakyat Aceh melawan Belanda. Kisah ini, dimulai pada 26 Maret 1873 sampai datangnya Jepang ke Aceh pada 1942. Perang Aceh ini telah menewaskan sekitar 75.000 rakyat Aceh.

Dalam catatan Asvi Warman Adam, bahwa jumlah tersebut, sekitar 15% dari penduduk kerajaan Aceh waktu itu (Asvi Warman Adam, Membongkar Manipulasi Sejarah: Kontroversi Pelaku dan Peristiwa, 2009 dan Henk Schulte Nordholt, A Genealogy of Violence dalam Roots of Violence in Indonesia, 2002). Bahkan Nordholt menegaskan 75.000 bangsa Aceh yang tewas oleh serdadu kolonial Belanda itu, bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan tanah airnya dan agama dari rongrongan musuh.

Sejarah memiliki sisi tersendiri yang bisa dipelajari oleh generasi sekarang. Pengorbanan yang besar, dilakukan tidak untuk diri mereka sendiri. Perlawanan dari penjajahan dapat disebut sebagai “misi keakanan” dari para pahlawan, untuk kita generasi saat ini. Misi keakanan ini yang menentukan posisi kebangsaan kita sebagai pewaris bangsa.

Misi ini akan berbeda-beda menurut zaman. Menjaga bangsa yang telah dikorbankan jiwa dan raga oleh para pahlawan, bisa dilanjutkan dalam bentuk yang bermacam-macam. Ada yang menjaga kedaulatan dengan memegang senjata, ada juga yang harus melakukannya dengan belajar dan memperkuat sumber daya manusia.

Misi keakanan ini yang akan menentukan posisi bangsa pada masa depan. Ketika generasi gagal memahami mengapa pahlawan rela berkorban, dan mengapa kemerdekaan harus dijaga, maka generasi akan gagal. Bagi generasi sekarang, ada kisah yang pelik dalam memahami bagaimana sikap rela berkorban yang telah ditunjukkan oleh pahlawan endatu kita. Mereka telah mengorbankan semangat perang untuk kita nikmati hasilnya.

Masalahnya adalah kesan bahwa perang terhadap orang lain yang bersifat koloni, lebih jelas sasarannya. Perang Aceh telah menempatkan posisi vis a vis antara bangsa Aceh dengan bangsa yang ingin menjajah. Suasana ini juga memungkinkan berubah sesuai perkembangan yang terjadi di nanggroe kita.

Di balik perang Aceh yang pelik. Ada perang lain yang lebih susah untuk dipahami, yakni perang sesama orang Aceh. Banyak kajian sosial-politik yang menyebutkan bahwa orang Aceh di era kontemporer ini sangat susah berdamai sesamanya. Sebaliknya, sangat lunak dalam berdialog dengan lawan politiknya.

Awal kekerasan
Secara historis, 26 Maret 1873 inilah awal bermulanya budaya kekerasan di Aceh, dari negeri yang baldatun thaibbatun warabbul ghafur, Aceh menjadi menjadi negeri yang penuh dengan bau amis darah para syuhada. Bahkan, Belanda mengakui bahwa selama menjajah Indonesia, lima jenderalnya tewas. Empat di antaranya meregang nyawa di bumi Iskandar Muda, yaitu JHR Kohler, JLJH Pel, H Demmeni, JJK de Moulin. Kuburan mareka masih bisa kita saksikan di Kerkhoff Banda Aceh, terbaring bersama ribuan tentara Hindia Belanda lainnya.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved