Kamis, 23 April 2026

Produksi Pala Abdya Turun Drastis

Produksi biji pala basah, termasuk minyak pala di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) semakin menurun

Editor: bakri

BLANGPIDIE - Produksi biji pala basah, termasuk minyak pala di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) semakin menurun. Hal ini karena ribuan hektare (ha) areal tanama pala mati diserang hama, sementara rehabilitasi atau peremajaan tanaman tidak dilakukan dengan sunggguh-sungguh.

Muhammad Amin (48), salah seorang pedagang pengepul biji pala di Kabupaten Abdya kepada Serambi, Selasa (26/3), mengakui bahwa stok biji pala basah dan kering di tingkat petani semakin berkurang. “Produksi berkurang, antara 50 sampai 60 persen dibandingkan era tahun 90-an ,” katanya.

Informasi yang dia peroleh dari petani bahwa produksi pala menurun akibat tanaman banyak mati diserang hama penggerek batang dan jamur akar. Hama ini sangat sulit dikendalikan. Hama bukan saja menyerang tanaman pala berumur tua, melainkan juga tanaman pala muda.

Ironisnya, di tengah produksi yang terus menurun, harga pala di tingkat petani juga tidak bergairah lagi dan sering terjadi naik turun (fluktuatif) harga. Pantauan Serambi, biji pala basah di tingkat petani saat ini Rp 16.000 per kg atau turun Rp 6.000 per kg dari harga beberapa bulan lalu, Rp 22.000 per kg. Biji pala kering Rp 40.000 per kg atau turun Rp 10.000 per kg dari harga sebelumnya Rp 50.000 per kg.

Mengatasi peristiwa penurunan drastis produksi pala di Kabupaten Abdya, pemerintah dalam hal ini Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) setempat didesak melakukan rehabilitasi secara besar-besaran tanaman pala yang sudah punah. Bila tidak, maka pala yang pernah menjadi komoditas unggulan daerah setempat akan segera tinggal kenangan.

Berdasarkan data Distanpan Abdya, luas areal tanaman pala di Abdya 2.697 ha. Tanaman perkebunan itu tersebar di 8 kecamatan dari 9 kecamatan di Abdya, kecuali Kecamatan Susoh.

Kepala Distanpan Abdya, drh Nasruddin melalui Kabid Perkebunan, Azwar SHut yang dihubungi beberapa waktu lalu mengatakan, komoditas ekspor tersebut banyak yang mati diserang hama, yaitu hama penggerek batang dan jamur busuk akar.

Diperkirakan tanaman pala yang telah mati akibat serangan hama seluas 716 ha. Tapi, menurut Azwar, data luas areal tanaman pala yang mati seluas 716 ha akibat serangan hama masih bersifat sementara. Sebab, dari hasil amatan lapangan, tanaman pala yang mati diyakini melebihi data tersebut. “Dari 2.697 ha tanaman pala, diperkirakan 50 persen (1.348 ha) di antaranya telah mati akibat serangan hama,” kata Kabid Perkebunan pada Distanpan Abdya itu.

Serangan hama terparah terjadi di Kecamatan Jeumpa, terutama kawasan pegunungan Gampong Alue Seulaseh, Alue Sungai Pinang, Jeumpa Barat, Kuta Jeumpa, dan Cot Manee.

Di Kecamatan Setia, hama sangat ganas tersebut menyerang tanaman pala di kawasan Gunoeng Jirat. Ini merupakan kawasan perkebunan pala petani dari tiga gampong/desa setempat. Hama yang membuat tanaman pala mati mendadak itu juga menyerang tanaman pala milik petani Kecamatan Blangpidie, Tangan-Tangan, Manggeng, dan Lembah Sabil.

Kabid Perkebunan, Azwar menambahkan, hama penggerek batang dan jamur akar tersebut mulai terjadi sejak belasan tahun lalu, tapi hingga sekarang belum ditemukan obat pembasmi yang ampuh. Selain tenaga ahli dari Dinas Perkebunan Provinsi Aceh, tim IPB juga sudah turun ke lapangan untuk melakukan pengendalian hama, namun belum menunjukkan hasil yang memuaskan.(nun)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved