Opini

LKS dan Pembiayaan Murabahah

AKAD jual beli merupakan satu bentuk muamalah antarsesama manusia yang menimbulkan hubungan hukum

LKS dan Pembiayaan Murabahah
Program Studi Perbankan Syariah (PS) Institut Agama Islam (IAI) Almuslim Aceh Paya Lipah menggelar acara silaturahmi bersama civitas akademika yang berlangsung santai dan meriah di De Kontana Cot Gapu, Bireuen 

Oleh Hesphynosa Risfa

“Hai orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu...” (QS. An-Nisa’: 29)

AKAD jual beli merupakan satu bentuk muamalah antarsesama manusia yang menimbulkan hubungan hukum antara dua orang atau lebih yaitu antara si penjual dan pembeli. Dalam firman Allah Swt di atas, dapat kita lihat betapa pentingnya pengaturan transaksi jual beli dalam Islam, agar manusia tidak berlaku curang kepada sesamanya. Terkait jual beli ini, Allah juga berfirman, “...Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...” (QS. Al-Baqarah: 275).

Dalam perspektif hukum, akad jual beli ini dituang dalam beberapa ketentuan, di antaranya UU No.19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara dan UU No.21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Ini kemudian diperkuat dalam beberapa Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) No.111/DSN/-MUI/IX/2017 tentang Akad Jual Beli Murabahah. Ini penyempurnaan dari fatwa sebelumnya, yang lahir dari hasil rekomendasi Working Group Perbankan Syariah (WGPS) yang terdiri atas DSN-MUI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dewan Standar Akuntansi Syariah IAI (DSAS-IAI), dan Mahkamah Agung (MA) pada 2017 lalu.

Kemudian, baru-baru ini Gubernur Aceh bersama DPRA telah menetapkan Qanun Aceh No.11 Tahun 2018 tentang Lembaga Keuangan Syariah (LKS). Dalam dunia bisnis, akad jual beli merupakan satu bentuk perjanjian yang kini banyak diadopsi oleh LKS. Dalam menjalankan usahanya, selain menghimpun dana dari masyarakat, LKS juga menyalurkan kembali dana kepada masyarakat. LKS menjalankan fungsi intermediasi keuangan, sebagai perantara antara nasabah yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan, di antaranya dalam bentuk akad jual beli.

Akad jual beli pada LKS terdiri dari tiga jinis, yaitu: Pertama, murabahah adalah akad pembiayaan suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli (nasabah/debitur). Kemudian pembeli membayarnya secara angsuran kepada LKS sesuai dengan harga yang disepakati antara kedua belah pihak. Keuntungan yang diperoleh penjual dalam pembiayaan ini berupa margin atau selisih antara harga barang yang dijual oleh penjual dengan harga pokok pembelian barang.

Kedua, salam adalah akad jual beli yang pelunasannya dilakukan terlebih dahulu oleh pembeli sebelum barang yang dipesan diterima, misalnya produk pertanian. Dan, ketiga, istishna’ adalah jual beli yang didasarkan atas penugasan oleh pembeli kepada penjual untuk menyediakan suatu barang atau produk sesuai dengan spesifikasi yang dipersyaratkan oleh pembeli. Dalam akad ini pembayaran dapat dilakukan dimuka, secara cicilan, atau ditangguhkan sampai dengan jangka waktu tertentu.

Paling diminati
Dari ketiga jenis akad tersebut, yang paling banyak dipraktikkan adalah murabahah. Skema pembiayaan murabahah terus meningkat setiap tahunnya dan paling diminati dibandingkan bentuk pembiayaan lainnya. Satu faktor yang mempengaruhi masyarakat memilih murabahah adalah adanya kebutuhan memiliki suatu barang, namun yang bersangkutan tidak memiliki uang pada saat pembelian.

Melalui skema murabahah, LKS dapat membantu si nasabah untuk memiliki suatu barang, yang nantinya si nasabah dapat melunasi dengan cara mencicil sesuai dengan jangka waktu yang disepakati. Caranya, LKS akan menyerahkan barang kepada nasabah, kemudian si nasabah membayarkan harga barang tersebut ditambah dengan keuntungan yang telah disepakati antara LKS dan nasabah.

Ilustrasi sederhananya; Nasabah mengajukan permohonan kepada LKS untuk memperoleh fasilitas murabahah berupa sebuah mobil. Setelah terjadi kesepakatan antara nasabah dengan LKS, kemudian LKS memesan barang sesuai keinginan nasabah. Harga barang tersebut sebesar Rp 100 juta. Setelah barang tersebut dimiliki oleh LKS kemudian LKS menjualnya kepada nasabah dengan harga Rp 110 juta yang berarti ada keuntungan LKS sebesar Rp 10 juta. Itu artinya si nasabah akan melunasi harga barang sebesar Rp 110 juta dengan cara mencicil sampai dengan batas waktu yang telah disepakati.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved