Opini

Isra Mikraj dan Perintah Shalat

ISRA Mikraj merupakan satu peristiwa agung dan luar biasa, yang tidak mudah dijangkau dan dipahami oleh indra

Isra Mikraj dan Perintah Shalat
Santri bersama warga mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh Dr H Muhammad Sofyan Lc MA pada acara peringatan Israk Mikraj Nabi Muhammad SAW 1436 Hijriah di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. SERAMBI/BUDI FATRIA 

Oleh Abdul Gani Isa

ISRA Mikraj merupakan satu peristiwa agung dan luar biasa, yang tidak mudah dijangkau dan dipahami oleh indra atau pikiran manusia, sehingga Allah Swt mengawali kalam-Nya dengan kalimat Subhana (Maha Suci Allah). “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Isra`: 1).

Jarak tempuh dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsha pada masa itu adalah satu bulan pergi dan satu bulan kembali (lebih dari 1.500 km). Isra artinya perjalanan malam hari, sedangkan Mikraj adalah tangga atau naik ke tempat yang tinggi. Berapa jarak tempuh dari bumi ke langit yang tujuh, hampir tidak ada teori atau pendapat yang pasti.

Alquran menginformasikan kepada kita sejumlah ayat antara lain (QS. Al-Ma’arij: 4); Ta’rujul Malaikatu warruhu ilaihi fi yaumin kana miqdaruhu khamsina alfa sanatin (Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu). Maksud ayat ini, adalah Malaikat dan Jibril, jika menghadap Allah Swt memakan waktu satu hari. Dan apabila dilakukan oleh manusia, memakan waktu 50.000 tahun.

Dari kajian ilmu pengetahuan dan sains disebutkan bahwa jarak bumi dengan matahari mencapai 149.600.000 km. Sedangkan jarak planet Pluto (yang terjauh) dengan bumi adalah diperkirakan 5.910.000.000 km. Manusia bisa menempuh jarak dalam satu detik hanya 5 meter. Rasulullah saw dengan bantuan Allah dapat melakukan perjalanan tersebut lebih selama 8-9 jam, dengan menggunakan transportasi super canggih dinamakan dengan barq, yang artinya kilat.

Ini menunjukkan bahwa kecepatan kenderaan tersebut adalah secepat kilat. Berangkat dari Masjidil Haram bakda shalat Isya dan kembali qabla shalat Subuh, dan sebelum diisra mi’rajkan, beliau telah pula menjalani operasi bedah dada/hati, dibersihkan dengan air zamzam, lantas dimasukkan ‘hikmah dan iman’ ke dalam dadanya. Subhanallah, makanya menjadi kebiasaan umat Islam yang beriman, bila melihat sesuatu yang sangat luar biasa dan mengagumkan bagi dirinya senantiasa mengucapkan Subhanallah (Maha Suci Allah).

Perintah shalat
Sudah sering dikisahkan bahwa peristiwa Isra Mikraj terjadi pada tahun ke-12 dari kerasulan Muhammad saw, bertepatan tahun 622 M. Tahun itu dikenal pula dalam sejarah Islam dengan ‘amul huzni (tahun kesedihan). Pada tahun itu berpulangnya keramatullah secara berturut-turut, isteri beliau Khadijah al-Kubra dan paman beliau Abu Talib. Dua sebab ini pula menjadikan beliau diundang secara langsung oleh Allah Swt, dan sekaligus menerima perintah shalat lima waktu.

Seperti sudah dijelaskan bahwa ketika Nabi berada di Sidratul Muntaha (tempat yang terakhir), lalu ia memberikan penghormatan/salam kepada-Nya: Attahiyyatul mubarakatush shalawatuth thayyibatu lillah. Lalu Allah menjawab salamnya dengan ucapan: Assalamu’alaika ayyuhannabiyu warahmatullahi wabarakatuh. Selanjutnya Nabi saw menjawab: Assalamu ‘alaina wa’ala ‘ibadihillahish shalihin. Lalu Malaikat mengucapkan syahadatain dan salawat atas Nabi: Asyhadualla ilahaillallah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah, allahumma shalli ‘ala Muhammad. Lalu Nabi menyahutinya dengan ucapan: Wa’ala ali Muhammad.

Rasulullah saw menjelaskan, Allah Swt mewajibkan kepada umatku pada malam Isra lima puluh waktu shalat, sebelum menerimanya saya bolak balik meminta keringanan, sehingga menjadi lima waktu sehari semalam. Bolak-baliknya Nabi memohon keringanan, dalam riwayat disebutkan atas saran Nabi Musa AS, “umatmu kecil-kecil, mungkin tidak akan mampu melaksanakannya, sedangkan umatku yang besar tegap, merasa berat melakukannya.”

Musa AS menyarankan kepada Muhammad; irji’ ila rabbika fas alhu at-takhfif, fainna ummataka la tatbiq (kembalilah kepada Tuhan-Mu, mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan mampu melaksanakannya). Rasulullah saw bolak-balik meminta rukhsah (keringanan) dari Allah sampai sembilan kali, sehingga dari lima puluh waktu menjadi lima waktu. Namun umat Islam harus berbesar hati, bahwa lima waktu itu sama nilainya dengan lima puluh waktu. (HR. Bukhari)

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved