Salam

Kampanye Terbuka Sepi, di Medsos Malah Ramai

Sampai hari ke empat (Rabu, 27/3) kampanye terbuka atau rapat umum bagi peserta Pemilu 2019, belum

Kampanye Terbuka Sepi, di Medsos Malah Ramai
DOK TIM MASTER C 19
Maruf Amin dan istrinya, Nyai Wury Estu pada hari pertama kampanye terbuka Pilpres 2019 di Pesantren Annawawi Tanara, Serang, Banten, Minggu (24/3/2019) pagi. (DOK TIM MASTER C 19) 

Sampai hari ke empat (Rabu, 27/3) kampanye terbuka atau rapat umum bagi peserta Pemilu 2019, belum ada satu pun partai politik (parpol) di level provinsi yang memanfaatkan kesempatan kampanye di Banda Aceh menjelang hari pencoblosan 17 April mendatang. Padahal, Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh telah memfasilitasi tempat bagi partai politik, capres/cawapres, calon anggota DPD RI untuk melakukan kampanye terbuka. Di ibukota Provinsi Aceh saat ini yang ramai terlihat adalah bendera partai, umbul-umbul caleg, dan alat peraga kampanye lainnya.

Komisioner KIP Aceh, Akmal Abzal juga membenarkan belum adanya peserta Pemilu 2019 yang melaksanakan kampanye terbuka di level provinsi. “Namun, tidak berkampanye di sini (level provinsi) bukan berarti tidak berkampanye di daerah-daerah, karena kan yang menyediakan lokasi kampenye adalah KIP kabupaten/kota,” kata Akmal Abzal.

Fenomena tidak berkampanye bukan hanya terjadi di Aceh, tapi di daerah lain juga demikian. Ada yang telanjur menggelar kampanye, tapi ternyata pengunjungnya sepi. Sehingga banyak kontestan Pemilu 2019 yang memilih berkampanye tertutup. Jadi sepi pengunjung menjadi salah satu sebab banyak kontestan yang tidak menggelar kampanye terbuka.

Hal lain yang juga menjadi sebab adalah kalangan millenial yang menjadi “buruan” kontestan Pemilu lebih suka “menikmati” atau bahkan berdebat di media sosial ketimbang melibatkan diri atau menghadiri kampanye terbuka. Kampanye di medsos dianggap lebih seru dan aman.

Dalam beberapa kasus memang kadang kita melihat adanya kampanye terbuka yang tidak sehat hingga berujung pada prilaku anarkhis. Jumlahnya relatif kecil, tapi pengaruh terhadap kenyamanan masyarakat sangat tinggi.

Dalam kampanye politik, hal yang paling signifikan adalah tentang pesan-pesan yang disampaikan kandidat atau kontestan. Masing-masing berusaha membawa tema atau topik tertentu untuk ditawarkan pada masyarakat. Sebagian dari kita mungkin lebih familiar menyebutnya dengan janji-janji politik. Hal ini bisa jadi benar, karena itu merupakan bagian dari pesan dalam kampanye politik, meski tidak selalu bermakna demikian.

Dalam politik modern, kampanye politik yang paling menonjol difokuskan pada pemilihan umum dan kandidat untuk kepala daerah, kepala negara, atau calon anggota legilastif dan senator. Dan, kampanye di zaman politik medern ini sudah jauh berbeda dengan dua dekade lampau.

Kampanye yang merupakan keinginan untuk mempengaruhi kepercayaan dan tingkah laku orang lain dengan daya tarik yang komunikatif, tidak lagi dilakukan terbuka secara umum di tanah-tanah lapang. Yang terlihat sekarang, kaum millenial dan calon pemilih pemula lebih menikmati persaingan politik di media sosial. Selain dapat menikmati, publik atau calon pemilih juga bisa ikut nimbrung berinteraksi. Itulah mungkin mengapa sekarang banyak kontestan pemilu yang tak memanfaatkan tempat dan jadwal kampanye yang telah diatur KIP. Mereka takut tak ada yang datang. Benarkah demikian? Atau mungkin juga masih alasan lain?

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved