Opini

Iklan Politik Perbanyak Sampah Visual

PROSESI Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, baik pemilihan presiden (Pilpres) maupun pemilihan legislatf (Pileg)

Iklan Politik Perbanyak Sampah Visual
SERAMBINEWS.COM/SUBUR DANI
Partai politik peserta Pemilu 2019 

Oleh Yelli Sustarina

PROSESI Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, baik pemilihan presiden (Pilpres) maupun pemilihan legislatf (Pileg), kini memasuki tahap kampanye kedua (kampanye terbuka). Setelah kampanye tahap pertama melalui pertemuan terbatas, pertemuan tatap muka, pemasangan dan penyebaran alat peraga kampanye (APK) yang dimulai 23 September 2018 sampai 13 April 2019.

Pada tahap kampanye kedua ini, para kandidat yang bertarung memperebutkan kursi kekuasaan, mulai melakukan kampanye melalui rapat umum dan iklan media massa baik cetak maupun elektronik, yang berlangsung mulai 24 Maret hingga 13 April 2019.

Berbagai foto diri calon presiden dan wakilnya serta para calon legislatif muncul memenuhi ruang publik. Tujuannya tentu untuk mengenalkan para calon tersebut kepada masyarakat. Namun, penggunaan APK oleh peserta Pemilu 2019 terlihat banyak tidak tepat sasaran, sehingga menimbulkan kesan semak dan menggangu pandangan mata. Lihatlah bagaimana mereka menempelkan iklan luar ruang berupa spanduk, baliho, poster, dan lainnya di tempat yang semestinya tidak dipasang.

Tidak cukup dengan menyewa lapak iklan ruang publik yang disediakan permanen di beberapa tempat, baliho dan spanduk yang dibuat rakitan dari kayu pun bermunculan. Bahkan pohon-pohon di sepanjang jalan menjadi sasaran tempat iklan politik ini. Ada yang memaku posternya di pohon, mengikat spanduknya dengan tali dari satu pohon ke pohon lain, sehingga tampilan pohon itu pun sudah menjadi tempat media kampanye iklan politik. Mungkin bila pohon itu bisa berbicara, pasti dia tidak terima dengan perlakuan orang-orang yang seenaknya melukai dirinya.

Sampah visual
Jangan tanya bagaimana kondisi jembatan dan trotoar yang ada di kota. Sepanjang jalan dipenuhi dengan gambar diri para calon peserta Pemilu 2019 dengan berbagai pose dan gaya melebihi artis ternama di negeri ini. Sepertinya semua kota dan kabupaten yang ada di Aceh kondisinya sama, dipenuhi dengan iklan politik yang memperbanyak sampah visual.

Sampah masih menjadi masalah utama di negeri ini dan belum menemukan solusi yang tepat dalam pengelolaannya. Banyaknya sampah plastik hasil sampah rumah tangga dan restoran tidak terkelola dengan baik yang kemudian ditumpuk di sudut jalan, dan ada yang membuangnya ke laut atau sungai. Kehadiran iklan politik di ruang publik ini sepertinya menambah masalah sampah khususnya sampah visual.

Media kampanye yang sebenarnya berfungsi untuk menarik simpati dari masyarakat, nyatanya sekarang beralih fungsi menjadi sampah visual bagi masyarakat. Yang namanya sampah tentu tidak mendatangkan manfaat, justru menambah masalah demi masalah. Seharusnya caleg dan partai politik hendaknya menggunakan media promosi yang ramah lingkungan, karena mereka merupakan calon pemimpin dan akan menjadi contoh bagi rakyatnya nanti. Namun, jika dalam membuat media kampanye saja mereka belum tertib, bagaimana mereka bisa menertibkan rakyatnya?

Sampah visual dari iklan politikini bukan hanya di ruang publik, tapi juga merambah di media massa dan sosial. Bagi pemilik media massa mungkin ini menjadi panen besar karena banyaknya calon politikus yang memasang iklan, berarti menambah pemasukan mereka. Namun, tidak untuk pembaca karena kebanyakan iklan politik dari pada berita atau bahan bacaan membuat pembaca menjadi bosan.

Lain lagi di media sosial, iklan politik dibumbui dengan konflik yang bersifat negatif. Narasi yang dimunculkan secara visual sering bermuatan intoleran, hoaks, politisasi identitas, ujaran kebencian, intimidasi, dan berpotensi memecah belah masyarkat. Visualisasi dalam bentuk video dan meme yang muncul saling memojokkan dan meluas penjadi konflik antara pengikut/massa masing-masing kandidat. Bukanya untuk mencerahkan masyarakat, malah menambah bingung yang pada ujungnya menjadi sampah visual yang mengganggu pengguna media sosial lain.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved