Opini

Pilpres, Survei, dan Stres

INILAH kehidupan. Semua berjalan penuh warna dan dinamika. Suka atau tidak, sadar atau setengah sadar, masing-masing memainkan peran

Pilpres, Survei, dan Stres
SERAMBINEWS.COM/BUDI FATRIA
Pasien penderita gangguan jiwa di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh, mengikuti kegiatan sosialisasi pemilu 2019, di rumah sakit tersebut, Rabu (27/3/2019). 

Oleh Rustam Effendi

INILAH kehidupan. Semua berjalan penuh warna dan dinamika. Suka atau tidak, sadar atau setengah sadar, masing-masing memainkan peran yang berbeda-beda.

Ada yang hanya fokus mengurus rumah tangga. Mengasuh anak-anak, memasak, hingga melayani suami. Ada yang hanya bertugas memberi jasa layanan. Bidan menangani mereka yang mau lahiran. Perawat bertugas menjaga para pasien siang malam agar cairan infus tak tersendat di selang. Membantu memapah si sakit yang minta ke toilet. Lain lagi dengan pak dokter, harus muter-muter tiap waktu menyambangi dan memonitor para pasien yang butuh perhatian dan konsultasi.

Masih soal pelayanan. Supir bus mesti tahan bergadang menyetir agar si penumpang dapat tiba dengan selamat di tempat tujuan. Yang bawa taksi pun harus bersabar menunggu pelanggan di sudut kota atau persimpangan, meski acapkali terpancing amarah akibat tak dapat pelanggan. Mereka yang ngojek online lain lagi. Nyelip sana nyelip sini unjuk keahliannya berkendara di jalan raya. Meski kadang hampir bikin copot jantung si Abah dan Ummi.

Lebih hebat lagi tugas sang pilot. Hampir saban hari terbangkan pesawat diangkasa. Pilot harus fokus ikut arahan petugas menara agar pesawat tak hilang kontrol dan jatuh korban. Tentu, beda dengan tukang becak, jika pun melanggar rambu lalu lintas demi mengejar penumpang paling-paling dibentak Pak Polisi.

Wajib serius
Ada juga pemilik jasa yang sedikit berbeda gaya dan aksi layanannya. Pak guru, misalnya, wajib serius dalam mengajarkan anak-anak asuhannya. Apa pun akan dilakukan demi memintarkan anak didiknya. Yang membedakan hanya metode atau teknik mengajar saja.

Era 1970-an, saat saya kecil dulu, amat sering dicubit atau disabet dengan rotan oleh pak guru. Bahkan, pada awal tahun 1980-an kami (yang lelaki) pernah ditampar juga oleh kepala sekolah karena bolos jam pelajaran matematika akibat asyik bermain sepakbola. Walau sakitnya minta ampun, tapi tak ada satupun yang berani melawannya. Bagi kami waktu itu, guru adalah orangtua setelah ayah dan ibu. Dan hebatnya lagi, tak ada orangtua yang protes, apalagi melapor pada polisi karena anaknya dipukuli.

Beda dengan zaman sekarang. Murid tak boleh lagi dibentak, dihardik, apalagi dipukuli oleh guru. Jika sampai ini terjadi, orangtua murid bisa marah-marah. Seringkali terjadi orangtua melapor kepada polisi, atau ke pihak pengusung hak asasi gara-gara anaknya dipukuli.

Dosen pun kini hanya bisa bermuka masem jika melihat ada mahasiswanya yang tidak mampu menjawab soal ujian. Ketika ditanya kenapa tak bisa menjawab. Katanya, “tidak sanggup mikir karena kurang gizi akibat kebanyakan makan mie instant demi menghemat belanja kiriman dari orangtua.”

Kondisi dunia kontraktor sekarang pun jangan ditanya. Mereka sedang galau, dan sudah jarang masuk kantor. Mereka bingung akibat minimnya pekerjaan. Tiap hari mengintip web pengumuman lelang, tapi saat berkompetisi selalu kalah, tak pernah atau sulit menjadi pemenang. Para kontraktor juga acap bingung. Mengapa bisa daya serap anggaran pembangunan tak pernah maksimal sesuai harapan? Padahal, bukankah jalan-jalan masih banyak yang berlubang. Tidakkah jembatan yang putus diterjang banjiran itu harus segera dikerjakan? Bukankah masih banyak kaum dhuafa yang butuh tempat berteduh dan harus secepatnya disediakan? Lebih miris lagi, mengapa para kontraktor tetap sulit dapat borongan. Jika ini terus berlanjut, bagaimanakah dengan kewajiban mereka yang harus ditunaikan, membiayai gaji karyawan dan melunasi pajak sebagai kewajiban kepada negara.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved