Jalan di Agara Penuh Lumpur

Banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Semadam, Aceh Tenggara (Agara), Kamis (28/3), hingga kemarin masih

Jalan di Agara Penuh Lumpur
SERAMBI/ASNAWI LUWI
Korban banjir di Desa Kuning I dan sekitar, Kecamatan Bambel, Agara, kecewa kepada Pemkab Agara Pasca banjir yang terjadi pada Kamis (28/3) sekitar pukul 21.30 WIB menyebabkan lumpur menumpuk dan jalan nasional licin , Minggu (31/3). 

* BPBD Fokus Bersihkan Masjid dan Sekolah

KUTACANE - Banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Semadam, Aceh Tenggara (Agara), Kamis (28/3), hingga kemarin masih menyisakan sejumlah persoalan. Salah satunya lumpur yang menutupi berbagai fasilitas publik dan rumah ibadah.

Banjir bandang yang terjadi empat hari lalu itu menerjang tiga desa di Kecamatan Semadam, yakni Desa Titi Pasir, Kampung Baru, dan Desa Pasar Puntong. Kerusakan terparah terjadi di Desa Titi Pasir, dimana sebanyak 16 rumah mengalami kerusakan. Sedangkan di Desa Kampung Baru dan Desa Pasar Puntong masing-masing lima dan satu rumah terendam lumpur.

Pantauan Serambi, Minggu (31/3), sejumlah ruas jalan, terutama jalan nasional yang menghubungkan ke Medan, Sumatera Utara, masih terendam lumpur dan becek. Sebagian sudah ada yang mulai kering, tetapi justru hal itu menimbulkan masalah baru, dimana jalan menjadi penuh debu dan beterbangan ke pemukiman penduduk.

“Sekarang jalan jadi becek, berdebu, dan rawan terjadi kecelakaan lalu lintas,” kata Warga Desa Kuning I, M Ali, kepada Serambi, Minggu (31/3).

Pihaknya berharap Pemkab bisa secepatnya membersihkan jalan-jalan tersebut dari endapan lumpur. “Kami minta Pemkab dapat menyemprot lumpur yang menumpuk di jalan raya dan pemukiman penduduk,” pintanya.

Kondisi jalan berlumpur dan penuh debu ini dikatakannya sudah sering dialami masyarakat. “Setiap bencana banjir datang kami terkena imbasnya lumpur dan debu,” pungkas M Ali.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agara, Ramisin, saat dimintai tanggapannya mengatakan, saat ini pihaknya sedang bekerja membersihkan masjid-masjid dan sekolah yang terendam lumpur. “Kalau ini udah tuntas, kita akan bersihkan jalan umum,” ujar Ramisin.

Dalam enam bulan terakhir, Agara memang menjadi salah satu kabupaten yang paling sering mengalami banjir bandang. Penyebabnya adalah maraknya aktivitas perambahan hutan di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang di dalamnya juga termasuk Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

Banjir bandang tersebut selain membawa bebatuan, juga ikut membawa kayu-kayu gelondongan sisa-sisa perambahan.

Banjir bandang yang terjadi di Aceh Tenggara (Agara) Kamis (28/3) kemarin juga ikut mempengaruhi struktur jembatan di ruas jalan nasional, kawasan Lawe Dua Desa Sebudi Jaya, Kecamatan Bukit Tusam.

Pantauan Serambi, abutment (dudukan plat atau lantai jembatan) kelihatan terpisah antara yang lama dengan yang baru. Warga setempat berharap jembatan itu bisa secepatnya diperbaiki oleh Pemerintah.

“Kita khawatirkan, jika mobil truk bertonase tinggi lewat, jembatan bisa ambruk,” ujar warga setempat.

Menurut mereka, kondisi tersebut sebenarnya sudah lama terjadi. Tetapi semakin hari, akibat sering dihantam banjir bandang, kerusakan yang terjadi semakin parah. Pihak terkait di pemerintahan juga sudah berulang kali mengambil foto kondisi jembatan tersebut, tetapi sampai sekarang belum pernah ada perbaikan.

“Kita berharap perbaikan bisa secepatnya. Jika banjir terjadi lagi, kemungkinan kerusakan pada jembatan tersebut semakin parah,” imbuh warga tersebut.(as)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved