Jurnalisme Warga

Lezatnya Lobster Simeulue. . .

CERITA tentang eksotisme Simeulue memang tidak akan pernah habis untuk ditulis

Lezatnya Lobster Simeulue. . .
IST
DR ISHAK HASAN MSi

OLEH DR ISHAK HASAN MSi, Dosen Universitas Syiah Kuala ditugaskan di Universitas Teuku Umar, melaporkan dari Simeulue

CERITA tentang eksotisme Simeulue memang tidak akan pernah habis untuk ditulis. Pulau ini bagaikan sekeping tanah surga yang jatuh di Samudra Hindia. Sebuah kabupaten paling barat Provinsi Aceh yang terapung-apung di samudra lepas. Demikian perumpamaan tentang pulau ini terucap dari Sekda Simeulu ketika beliau memberi sambutan pada acara pembukaan Rapat Kerja Universitas Teuku Umar (UTU) baru-baru ini di Sinabang, ibu kota Kabupaten Simeulue.

Kunjungan saya ke Simuelue kali ini merupakan yang ketiga kalinya setelah akhir tahun 2010. Ketika itu saya dipercayakan oleh Universitas Almuslim, Peusangan, Bireuen, untuk membantu guru-guru SD di Simeulue dalam rangka peningkatkan kualifikasi mereka ke jenjang strata satu dalam sebuah program nasional Pendidikan Guru Dalam Jabatan (PGDJ) bersama-sama dengan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).

Kunjungan saya kali ini tidaklah biasa, melainkan penuh makna. Bukan saja karena terpesona oleh keindahan alam Simeulue yang masih asri--bagaikan untaian zamrud dari surga firdaus--bersama keceriaan teman-teman dari UTU atau juga karena nikmatnya lobster Simeulue, tetapi lebih kepada segumpal perasaan yang bercampur dan diaduk-aduk oleh angin laut penuh cinta dan kenangan. Nah, hal yang terakhir inilah yang memantik saya untuk menulisnya dalam bentuk citizen journalism untuk pembaca Serambi Indonesia. Jurnalisme warga kali ini meskipun bermuatan lokal, tetapi tetap penuh makna.

Setelah santap malam di aula Sekdakab Simeulue yang dimanjakan dengan menu khas lobster Simeulue, saya hampir berat untuk bangun pagi. Lantunan azan subuh yang syahdu di dekat hotel kami menginap membuat hati saya luluh. Saya buka mata yang walau agak berat, sembari menggulung selimut, lalu berwuduk dan menunaikan shalat. Beberapa saat saya buka jendela, suasana pagi yang cerah mulai merangkak, sejauh mata memandang gumpalan awan putih di seberang hotel mulai menampakkan auranya. Sambil menatap permukaan air yang tenang dan alam sekitar yang masih perawan, serasa saya berada di atas sebuah laguna yang teduh tanpa gemuruh ombak. Sungguh romantis. Tidaklah salah kalau saya memberi jawaban jika ada pertanyaan di mana tempat yang teramat manis sebagai cawan pemuas happy ending-nya bulan madu, tentu saya akan merekom Simeulue, “The Island of Paradise“ ini.

Jawaban saya ini tidaklah salah, mengingat ketika saya hendak meninggalkan Simeulue dengan Wings Air menuju Kualanamu Medan, di ruang tunggu Bandara Lasikin ada sepasang paruh baya asal Jepang yang sempat saya tanyai. Kebetulan keduanya bisa berbahasa Indonesia walau belum begitu lancar. Mereka mengakui sangat mengagumi dan takjub pada kemolekan alam Simeulue. Banyak spot indah yang belum habis mereka nikmati, hamparan pasir putih berkilauan diterpa cahaya matahari, lekuk-lekuk pantai dipenuhi hutan magrove, juntaian daun pandan laut, dan vegetasi pesisir lainnya serasa membuat mereka lupa pada kampung halaman yang penuh dengan rutinitas membosankan.

Panorama alam yang sangat menakjubkan ini, menurut mereka, dan juga saya rasakan, bisa mengalahkan destinasi wisata yang pernah saya kunjungi. Ya, katakanlah, Bali, Lombok, Labuhan Bajo, Tanjung Pandan, Langkawi, bahkan keindahan gunung kars di Raja Ampat. Menurut warga Jepang itu, tahun depan mereka akan kembali lagi ke Simeulue.

Harta karun yang tersimpan di dalam laut Simeulue seperti lobster dan berbagai seafood lainnya sudah lama menjadi incaran para pengejar kepuasan. Tidak heran jika Ibu Susi Pudjiastuti, Menteri Perikanan dan Kelautan RI, juga melakukan budi daya lobster di daerah ini, jauh sebelum ia jadi menteri.

Era jaya cengkih
Jenis lobster Simeuelue termasuk salah satu yang berkualitas super di dunia. Belum lagi ketika saya menatap kaki-kaki bukit sepanjang perjalanan masih terasa aroma kejayaan Simeulue dengan komoditas cengkihnya. Cerita cengkih di masa silam bagi pulau ini menyimpan suka dukanya. Ketika itu cengkih jadi primadona pendapatan masyarakat di pulau ini, bahkan orang tua saya dulu pernah ikut ambil bagian membawa berbagai barang dagangan ke daerah ini. Itu pertanda bahwa di era sekitar tahun ‘70-an hingga ‘80-an uang banyak mengalir di pulau ini.

“Pedagang hanya bisa hidup di mana uang mengalir. “ begitu kata ayah saya ketika saya masih SMA. Kejayaan cengkih di masa lalu yang telah banyak mengangkat kualitas kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Simeulue kini hanya menyimpan kenangan duka. Onggokan tanaman cengkih di kaki bukit sejauh mata memandang kini mulai meranggas dimakan usia dan kini telah menjadi sepenggal sejarah, bukti kejayaan masa lalu.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved