Citizen Reporter

Pesan Damai dari Selandia Baru

SELAMA hampir dua minggu terakhir ini, Selandia Baru atau New Zealand menjadi pembicaraan utama

Pesan Damai dari Selandia Baru
INTAN FARHANA 

OLEH INTAN FARHANA, Mahasiswi Master of Commerce in Accounting, Victoria University of Wellington, New Zealand, melaporkan dari Selandia Baru

SELAMA hampir dua minggu terakhir ini, Selandia Baru atau New Zealand menjadi pembicaraan utama di berbagai surat kabar dunia, media online, juga sosial media. 15 Maret 2019 merupakan hari yang sangat kelam bagi Selandia Baru, sebuah negara yang terkenal dengan keramahan dan keamanannya terhadap komunitas muslim.

Saya sendiri berangkat ke Kota Wellington di Selandia Baru pada Februari 2018 untuk melanjutkan studi ke jenjang Master of Commerce in Accounting di Victoria University of Wellington. Selama setahun tinggal di sini, saya merasa sangat aman dan nyaman sebagai seorang muslimat yang memakai jilbab. Rasa aman yang saya rasakan di Selandia Baru sangat berbeda dengan di berbagai negara di belahan dunia lain yang pernah saya kunjungi. Masyarakatnya pun sangat ramah terhadap muslim. Tak pernah sekalipun saya bertemu dengan individu yang rasis selama hidup di Negeri Kiwi ini.

Sebagai seorang muslim, untuk menegakkan shalat lima waktu di sini pun sangat mudah dan nyaman karena banyak terdapat masjid dan prayer room yang tersedia di berbagai gedung. Makanan halal pun cukup mudah didapat. Selama ini, tak ada kendala yang berarti dalam berkehidupan sebagai muslim di Selandia Baru.

Ketika insiden Christchurch terjadi, kenyamanan dan keamanan ini seakan ternodai. Seluruh muslim tiba-tiba merasa tidak aman dan tidak diterima di negara ini. Tetapi, sesungguhnya, seluruh masyarakat Selandia Baru sangat terpukul atas kejadian ini. Mereka seperti tidak rela jika saudara muslimnya disakiti.

Dalam hitungan jam, masjid di seluruh Selandia Baru yang saat itu ditutup oleh kepolisian karena alasan keamanan, dipenuhi dengan bunga. Sampai saat ini pun masih ada warga yang terus berdatangan memberikan bunga sebagai tanda support, duka cita, dan penghormatan terhadap korban.

Berbagai cara dilakukan oleh seluruh masyarakat Selandia Baru untuk memberikan kembali rasa aman bagi seluruh muslim yang tinggal di Selandia Baru. Melalui berbagai grup facebook, banyak yang menawarkan diri untuk menemani mereka yang muslim jika ada yang merasa tidak berani ke luar rumah atau apartemen. Saya sendiri mendapatkan banyak sekali e-mail, pesan WhatsApp, dan facebook dari teman Selandia Baru, menanyakan kabar saya walaupun mereka tahu saya tinggal jauh dari Christchurch.

Seminggu berlalu, bentuk dukungan dan cinta dari seluruh warga Selandia Baru terhadap keluarga muslimnya seperti tak pernah pudar. Di Wellington, sekitar 11.000 orang hadir pada acara peringatan dan penghormatan terhadap para syuhada. Di Dunedin, 15.000 orang hadir pada bentuk acara yang sama. Di kampus saya, Victoria University of Wellington, wall of support didirikan untuk memberikan kesempatan bagi seluruh mahasiswa yang ingin menuliskan tulisan-tulisan atau pesan-pesan bagi muslim wh nau (wh nau merupakan bahasa M ori yang artinya keluarga).

Khusus pada hari Jumat lalu, sebagai peringatan seminggu setelah terjadinya insiden Christchurch, azan Zuhur  serta shalat Jumat di Kota Christchurch yang dilaksanakan di Hagley Park disiarkan langsung di televisi dan radio nasional Selandia Baru.

Di kota Wellington, selain di seluruh Kampus Victoria University of Wellington, terdapat layar besar yang diletakkan di beberapa sudut kota untuk menyiarkan shalat Jumat tersebut. Banyak sekali nonmuslim yang hadir untuk menyaksikan dan mengikuti moment of silence setelah azan zuhur berkumandang. Banyak juga nonmuslim yang hadir pada shalat Jumat di Christchurch dan di berbagai masjid di seluruh Selandia Baru, termasuk di Wellington. Mereka hadir, dengan khidmat mendengarkan khutbah, lalu membentuk human chain (rantai manusia) saat shalat Jumat berlangsung sebagai bentuk penjagaan dan simbol bahwa setiap muslim di Selandia Baru akan terus dapat melaksanakan ibadah dengan aman.

Tak hanya itu, pada hari Jumat tersebut, banyak sekali wanita yang memakai kerudung, baik di jalan, di tempat kerja, maupun di kampus. Ini adalah salah satu bentuk support lainnya yang diberikan kepada muslimat agar tidak takut memakai jilbab yang merupakan identitas seorang muslimat.

Selain itu, sosok Jacinda Ardern yang merupakan Perdana Menteri New Zealand pun menjadi perbincangan hangat dunia saat ini. Seluruh dunia berdecak kagum pada caranya menangani kejadian ini, hingga wajahnya pun menghiasi gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa, Dubai. Jacinda tampil sebagai contoh pemimpin dunia masa kini. Ia membuktikan kekuatannya sebagai perempuan dalam memimpin dan menyatukan masyarakat Selandia Baru dalam masa-masa sulit ini.

Sebagai seorang perempuan dan seorang ibu, empati dan kekuatan yang diperlihatkannya membuat seluruh elemen masyarakat Selandia Baru terus bersatu untuk membuktikan bahwa kebencian yang ingin ditebarkan oleh teroris itu tak akan pernah berhasil karena masyarakat Selandia Baru berpegang teguh pada rasa cinta antarsesama, tak peduli apa pun agama, ras, dan warna kulit mereka.

Banyak sekali pelajaran kehidupan dan nilai-nilai Islam yang saya lihat dari masyarakat Selandia Baru tentang toleransi antarumat beragama yang sejatinya telah diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya ketika memimpin Madinah. Di sini saya belajar bahwa menjadi masyarakat minoritas itu tidaklah mudah. Hidup sebagai minoritas membutuhkan dukungan emosional dan pelukan, bukan diskriminasi. Saya belajar bahwa sebagai sesama manusia, kita harus saling menghormati, berteman, dan merangkul teman kita yang berbeda agama, ras, dan warna kulit karena sejatinya mereka adalah manusia yang juga punya hak hidup dan bermasyarakat. Seperti kita (muslim) yang ingin selalu merasa aman dan nyaman dalam beribadah kapan pun dan di mana pun, kita juga harus memikirkan teman kita yang berbeda agama untuk merasa aman dan nyaman dalam menjalankan ibadahnya.

Seperti kita yang tak ingin medapatkan perlakuan diskriminatif saat menjadi minoritas, kita juga harus memberikan perlakuan yang baik kepada teman kita yang berbeda. Sejauh saya belajar, Islam tentu memiliki batas-batas tersendiri dalam bertoleransi, di mana ada iman dan akidah yang tak boleh tergadaikan. Tapi, apakah ini bermakna kita harus mengabaikan mereka yang berbeda agama, ras, dan warna kulit di dalam cara kita bermasyarakat? Sudahkah kita datang menjenguk saat mereka sakit dan terluka? Terkadang, saat kita hidup terus-menerus sebagai mayoritas, kita cenderung lupa dan tak peduli akan makna toleransi antarsesama manusia. Semoga kita semua sebagai umat Islam bisa terus belajar untuk menjadi muslim/muslimat yang lebih baik, yang dapat mengamalkan nilai-nilai indah dalam bermuamalah sebagaimana yang telah diwariskan Rasulullah melalui Alquran dan hadis. Aamiin allahumma aamiin.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved