Aktivis GeRAK Bantah Pernyataan Irwandi

Koordinator Gerakan Antikorupsi (GeRAK) Aceh, Askhalani, membenarkan bahwa ia pernah ditelepon Gubernur Aceh

Aktivis GeRAK Bantah Pernyataan Irwandi
ASKHALANI, Koordinator GeRAK Aceh 

BANDA ACEH - Koordinator Gerakan Antikorupsi (GeRAK) Aceh, Askhalani, membenarkan bahwa ia pernah ditelepon Gubernur Aceh nonaktif, Irwandi Yusuf yang memintanya untuk menjadi saksi meringankan dalam kasus suap Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) 2018 yang diduga melibatkan Irwandi.

Namun, di sisi lain Askhalani membantah dua pernyataan Irwandi yang dimuat Serambinews.com sebelumnya, yakni soal mengutus Muhammad MTA sebagai penggantinya menjadi saksi meringankan dan soal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang disebut Irwandi sebagai donatur GeRAK.

“Yang telepon saya ya benar Pak Irwandi, supaya saya bersedia menjadi saksi meringankan baginya. Tapi karena ini perkara korupsi saya menolak, karena secara naluri dan batin serta SOP lembaga, kami dilarang membela atau memberikan keterangan bagi terpidana korupsi,” kata Askhalani yang dikonfirmasi Serambi di Banda Aceh, Senin (1/4).

Askhalani mengatakan hal itu terkait pernyataan Irwandi sebelumnya yang menyebutkan bahwa Irwandi meminta Askhalani menjadi saksi meringankan baginya (saksi a de charge), tapi karena Askhalani tak bersedia lalu ia mengutus Muhammad MTA.

“Tapi yang bersangkutan menolak karena ada conflict of interest dengan KPK sebagai donatur GeRAK. Akhirnya, ia mengutus Muhammad MTA untuk menjadi saksi a de charge,” kata Irwandi Yusuf kepada Serambinews.com, Minggu (31/3/2019).

Askhalani membantah tegas hal itu bahwa dia tak berhak mengutus Muhammad MTA sebagai saksi meringankan menggantikan dirinya. “Sekaliber saya, tidak mungkinlah bisa mengutus orang untuk menjadi saksi, apalagi MTA notabene adalah sahabat sejak kuliah. Tapi ketika diminta siapa yang layak untuk jadi saksi maka saya sampaikan MTA tepat karena banyak berdiskusi dengan saya soal rencana membangun skema antikorupsi untuk Pemerintah Aceh,” ujar Askhalani.

Terkait pernyataan Irwandi yang menyebutkan KPK sebagai donatur GeRAK, Askhalani menepisnya. “Kerja-kerja lembaga kami bukan didonasi oleh KPK dan bahkan KPK tidak boleh bekerja sama dengan LSM di mana pun dan sampai kapan pun,” katanya.

Askhalani kembali mengatakan, Irwandi Yusuf ditangkap murni karena adanya perbuatan melawan hukum berupa tindak pidana korupsi dan terlibatnya sejumlah pihak dalam praktik rasuah uang negara. “Ada pihak-pihak yang diduga melakukan upaya membahayakan keuangan negara, salah satunya melakukan intervensi terhadap program dan proyek di lingkungan Pemerintah Aceh. KPK memproteksi ancaman tersebut dengan mempercepat terintegrasinya penindakan,” pungkas Askhalani.

Sementara itu, Penasihat Khusus Gubernur Aceh, Muhammad MTA mengatakan, kesaksian dirinya sebagai saksi meringankan bagi Irwandi, awalnya didahului oleh komunikasi dengan Sayuti Abubakar MH, kuasa hukum Irwandi Yusuf. “Saya diminta untuk menjadi salah satu saksi meringankan. Saya tanya dalam kapasitas apa? Katanya sebagai penasihat khusus,” kata MTA.

Menurutnya, Sayuti juga menyampaikan ada beberapa orang lainnya yang juga diminta jadi saksi meringankan, namun pada hari H ternyata tidak hadir. “Kemudian hanya saya dan Pak Azhari Kepala Bappeda yang jadi saksi. Apa kesaksiaannya? Ya, seperti yang pernah saya sampaikan saat itu,” kata MTA.

“Ketika hari ini Pak Irwandi menyatakan saya jadi saksi karena diutus oleh Askhalani, Koordinator Gerak, terus terang saya sikapi positif saja. Mungkin maksud beliau Askhalani pernah menyarankan saya untuk bisa diajukan sebagai salah satu saksi meringankan. Saya kira tidak ada yang perlu dipermasalahkan, mungkin beliau terlalu lelah dengan semua proses peradilan yang dihadapi selama ini. Semoga semuanya baik-baik saja,” demikian Muhammad MTA. (dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved