Citizen Reporter

Kumandang Azan dari Masjid Soekarno di Rusia

DI sela-sela sebuah kegiatan seminar di Rusia pekan ini saya sempatkan berkunjung ke St Petersburg

Kumandang Azan dari Masjid Soekarno di Rusia
PROF DR MOHD ANDALAS

OLEH PROF DR MOHD ANDALAS, Guru Besar pada Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Banda Aceh, melaporkan dari St Petersburg, Rusia

DI sela-sela sebuah kegiatan seminar di Rusia pekan ini saya sempatkan berkunjung ke St Petersburg, sebuah daerah bagian barat Rusia yang dahulunya dikenal sebagai wilayah kekuasaan Leningrat. Hal ini bisa dikaitkan dengan kejayaan Lenin. Jarak tempuh dari Moskow ke St Peterburg hanya satu jam naik pesawat udara.

Sankt (St)-Petersburg yang dibangun untuk mengenang Vladimir Lenin, sekarang merupakan pusat pemerintahan Oblast Leningrad, walaupun memiliki status sebagai kota federal. Kota ini adalah kota pelabuhan yang terletak di tepi Sungai Neva dan Teluk Finskiy. Penduduknya hanya 5 jutaan jiwa berdasarkan sensus tahun 2017.

Gedung-gedung di St Petersburg bergaya model Eropa Barat sehingga dijuluki Venesia di Eropa Timur. Dalam hal cuaca, Rusia secara umum sering mengalami cuaca ekstrem dan ada beberapa daerah tertentu di Rusia, seperti Murmant yang berbatasan dengan Finlandia, masih terdapat salju hingga bulan Mei.

St Petersburg termasuk salah satu tujuan wisata favorit di Rusia. Salah satu tempat yang ramai dikunjungi di sini adalah Istana Peterhof (Summer Palace), sebuah museum tentang kekayaan budaya Rusia yang tercatat di Unesco sebagai salah satu warisan budaya dunia. Awalnya tempat ini dibuat untuk kediaman Tsar Peter Agung. Kemudian, dialihfungsikan menjadi museum.

Selain museum ini masih banyak museum dan tempat bersejarah lainya yang menarik untuk dikunjungi dan sebagai spot untuk berfoto ria di sini. Di dalam Istana Peterhof (Summer Palace) ini terdapat banyak benda yang mengingatkan pengunjung pada masa lalu, terutama rekaman sejarah pada zaman para penguasa Uni Sovyet/Rusia berkuasa.

Hal unik lainnya yang dapat kita nikmati saat berkunjung ke sini adalah bisa mendengarkan suara saksofon Lagu Indonesia Raya oleh pengamen tradisional di areal tersebut. Ini hal yang indah sekaligus membanggakan ketika kita mendengar lagu kebangsaan kita di luar negeri dibawakan justru bukan oleh Warga Negara Indonesia (WNI).

Masjid biru
Masjid Biru atau lebih dikenal dengan julukan Masjid Soekarno juga terdapat di sini. Masjid ini kerap menjadi target kunjungan tersendiri bagi masyarakat muslim, khususnya yang berasal dari Indonesia. Nilai utama dari masjid ini justru terletak pada sejarahnya.

Blue Mosque–nama ini mengingatkan kita pada nama sebuah masjid terkenal di Turki--sebenarnya dibangun tahun 1910, selesai tahun 1921. Tapi kemudian ditutup tahun 1940 hingga 1956. Saya sempat mencari goresan tulisan Soekarno pada prasasti di masjid ini, tapi tidak ada. Namun, nukilan sejarah masjid ini membuat kita, warga muslim, khususnya dari Indonesia, bangga dan ingin shalat di masjid ini saat berkunjung ke Rusia.

Keinginan untuk memfungsikan kembali masjid ini terinspirasi saat Presiden Soekarno berkunjung ke St Petersburg dan mencari tempat ibadah. Kepada beliau ada yang membisiki bahwa di kota itu ada masjid yang sudah lama disfungsi, lalu ia minta izin kepada Presiden Uni Sovyet, Nikita Khrushchev untuk difungsikan kembali. Khrushchev akhirnya mengabulkan permintaan temannya itu.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved