Opini

Konsideran Islam di Pilpres 2019

BEBERAPA hari lagi, rakyat Indonesia akan mengikuti pesta demokrasi. Pesta ini diharapkan dapat dikuti

Konsideran Islam di Pilpres 2019
Dr. H. Munawar A. Djalil, MA

(Pesan bagi Kaum Milenial)

Oleh Dr. H. Munawar A. Djalil, MA, Pegiat dakwah dan pemerhati masalah politik dan pemerintahan, tinggal di Gp Ateuk Jawo, Banda Aceh.

BEBERAPA hari lagi, rakyat Indonesia akan mengikuti pesta demokrasi. Pesta ini diharapkan dapat dikuti oleh seluruh pemilih di Indonesia. Walaupun memang masih ada sebagian pemilih, terutama kalangan generasi milineal yang masa bodoh (apatis) dengan pesta demokrasi tersebut. Kalau kita mengikuti hasil dari beberapa lembaga survei, ternyata banyak dari kalangan milineal yang belum menentukan pilihannya. Walaupun ini hanya sebatas survei, namun hasilnya dapat membentuk opini publik terhadap kandidat.

Menurut saya, ada dua alasan logis kenapa mereka belum menentukan pilihannya dalam survei tersebut, yaitu: Pertama, ada asumsi siapapun calon Presiden yang menang dalam pesta demokrasi nanti, nasib anak bangsa juga tak banyak berubah. Dan, kedua, sebagian kalangan milenial yang enggan memilih, karena menilai bahwa semua calon itu tidak ada yang baik, semua buruk, maka tidak layak dipilih.

Menurut data Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2019 sebanyak 192.828.520 orang, di mana 42 juta di antaranya merupakan pemilih milineal. Artinya proporsi kalangan milineal cukup besar, yaitu mencapai 40% dari seluruh pemilih. Ini tentu menjadi “sasaran” menggiurkan bagi para kandidat dan tim pemenangan agar berupaya untuk mencari simpati dan mendulang suara.

Maka dari itu, kenapa pesan tulisan ini fokus kepada milineal, sebab menurut para ahli dan peneliti, umur para milineal berkisar antara 17-30 tahun. Artinya, masa di mana mereka sedang mencari jati diri dan bersikap kritis dalam setiap kondisi. Kondisi politik Indonesia hari-hari ini membuat sikap kritis kalangan milineal semakin tajam.

Belum menentukan pilihan
Jadi, sangat wajar kalau sampai saat ini menurut survei di atas banyak kalangan milineal belum menentukan pilihan. Saya yakin walaupun saat ini menurut hasil survei banyak kalangan milineal belum menentukan pilihannya, namun pada hari H nantinya mereka dipastikan akan ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk mencoblos. Ingat, “satu suara akan menentukan masa depan bangsa”.

Terhadap sikap apatis dan penilaian tersebut, Rasul saw memberikan petunjuk melalui hadisnya, fi ba’dh al-syarri khiyar (dalam yang buruk pun ada pilihan). Berdasarkan hadis tersebut, maka dalam tulisan ini saya mencoba menyampaikan pesan berupa beberapa konsideran kepada para pemilih, terutama bagi kalangan milineal. Konsideran ini tentunya sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan pilihan pada Pilpres 17 April 2019 mendatang.

Sebagai ilustrasi, konon, suatu ketika di pagi buta, Abu Nawas (813-862 M), penyair jenaka yang sangat dekat dengan Khalifah Harun Al-Rasyid, bertemu dengan seseorang. Rupanya ia ingin bergurau, maka dipegangnyalah bagian terpenting anggota tubuh orang itu. Namun alangkah terperanjatnya ia ketika ia mendengar suara orang tersebut menghardiknya dengan keras.

Abu Nawas tersadar bahwa ternyata yang dipegang adalah “anunya” sang Khalifah Harun Al-Rasyid. Dengan suara terbata-bata ia mengajukan alasan “Maafkan saya Tuanku, saya kira yang saya pegang adalah Permaisuri Tuan”. Tentu saja alasan ini menambah amarah Khalifah karena apa yang didengarnya ini jauh lebih buruk daripada kesalahan yang dilakukan oleh Abu Nawas.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved