Jurnalisme Warga

Pengabdian dari Ujung Barat ke Ujung Timur

SAYA Fajri Nurjamil (33) lahir di Beureunuen, Pidie, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama (FK Unaya), Aceh Besar

Pengabdian dari Ujung Barat ke Ujung Timur
IST
FAJRI NURJAMIL, putra Aceh bertugas di Puskesmas Suru-Suru, Distrik Suru-Suru, melaporkan dari Kabupaten Asmat, Papua

FAJRI NURJAMIL, putra Aceh bertugas di Puskesmas Suru-Suru, Distrik Suru-Suru, melaporkan dari Kabupaten Asmat, Papua

SAYA Fajri Nurjamil (33) lahir di Beureunuen, Pidie, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama (FK Unaya), Aceh Besar, kini sedang “bergerilya” mengabdikan diri di pedalaman Papua.

Melalui rubrik ini saya ingin ceritakan suka duka mengabdi di Papua. Sebelum terbang ke Bumi Cenderawasih, saya pernah bakti di Puskesmas Delima, Pidie. Cerita ini sudah lama ingin saya sampaikan kepada para sahabat di Aceh, tetapi belum ada kesempatan. Sekarang alhamdulillah, Serambi Indonesia telah membuka rubrik Jurnalisme Warga untuk menampung reportase orang-

orang seperti saya yang jauh merantau, tapi masih dalam wilayah Indonesia, untuk berbagi cerita dengan sesama Aceh.

Ayah saya berprofesi mantri merangkap Dosen Akademi Keperawatan Pemkab Pidie. Pada saat SD, saya bersama almarhum ayah selalu bergerilya diam-diam ke markas GAM. Karena ayah mantri, ia berkeliling dari satu kampung ke kampung yang lain. Sebagai anak kesayangan ayah saya sempat dijadikan asisten pembukus obat-obatan yang telah diracik ayah. Ke mana pun ayah pergi untuk mengobati orang kampung saya selalu dibawa. Tak terkecuali ke markas GAM.

Saat Aceh konflik saya sempat ikut ayah mengobati para kombatan GAM di pedalaman Tiro dan Desa Ujong Rimba (Mutiara Timur). Kedua daerah ini memang basis GAM di Pidie. Di markas ini pula saya sempat mendapat julukan “Saddam Husein Kecil”.

Karena seringnya mengikuti orang tua dalam mengobati pasien di kampung-kampung, akhirnya saya tertarik jadi dokter. Setamat SMU Negeri 1 di Mutiara, saya lanjutkan pendidikan FK di Unaya tahun 2004.

Setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran, saya bekerja pada klinik swasta di Jawa Barat. Lagi nyaman dan sejahteranya saya bekerja di Jawa Barat, ayah memanggil saya untuk pulang karena ayah divonis gagal ginjal stadium akhir. Saya harus kembali ke Aceh mendampingi ayah.

Saat kondisi ayah mulai stabil dalam perawatan rutin di RSUD Tgk Chik Di Tiro Pidie, keinginan dan jiwa petualangan untuk pergi merantau muncul kembali, sambil menunggu dibukanya formasi dokter PTT Pusat Kemenkes. Saat itulah saya mengabdi di Puskesmas Delima, Pidie, sebagai tenaga dokter bakti, tanpa boleh menuntut gaji.

Saat bertugas sebagai tenaga bakti di Puskesmas Delima, penghargaan yang diberikan kepada kami tenaga medis yang berbakti untuk menolong nyawa manusia sama sekali tak ada. Jangankan untuk membeli sebungkus nasi siang di tempat tugas, untuk membeli segelas air mineral saja tak punya uang. Itulah kenangan beberapa tahun lalu saat bertugas sebagai tenaga bakti di Aceh.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved