Opini

Ternak Ayam Terintegrasi

ARTIKEL ini penekanannya pada konsep terintegrasi. Metode budi daya ternak unggas bukanlah suatu hal yag baru

Ternak Ayam Terintegrasi
IST
Guru Besar Manajemen Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), sekarang medapat tugas tambahan sebagai Rektor Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh.

Prof. Dr. Jasman J. Ma’ruf, SE. MBA
Guru Besar Manajemen Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), sekarang medapat tugas tambahan sebagai Rektor Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh.

ARTIKEL ini penekanannya pada konsep terintegrasi. Metode budi daya ternak unggas bukanlah suatu hal yag baru. Bahkan sejak dulu kala bangsa kita sudah biasa dengan perternakan unggas. Kini, berkat kemajuan ilmu pengetahuan, budi daya perternakan semakin mudah dan menghasilkan jumlah produksi yang semakin optimal.

Budi daya ayam secara modern dengan menggunakan bibit dan pakan tertentu, telah banyak dipraktikkan di Aceh. Tetapi sayang seribu kali sayang, puluhan perusahaan perternakan di Aceh timbul tenggelam. Berakhir dengan kegagalan. Sungguh menyedihkan. Hal ini disebabkan tak lain dan tak bukan, karena di Aceh budi dayanya cenderung bersifat parsial.

Di sini, letak pentingnya artikel ini, yaitu mencoba menawarkan solusi. Setelah dilakukan kajian yang mendalam, ternyata kegagalan demi kegagalan swasembada telur dan daging ayam lebih disebabkan karena sistem pertenakan di Aceh masih bersifat parsial, bukan secara terintegrasi.

Pemerintah kita cenderung membiarkan perusahaan asing yang berskala raksasa menguasai perternakan unggas secara semena-mena yang telah meluluh-lantakkan usaha perternakan yang berskala kecil dalam masyarakat Aceh.

Pengusaha Aceh tak dilindungi secara serius oleh pemerintah. Mereka dipaksa bersaing dengan perusahaan raksasa yang berlokasi di Sumatera Utara tersebut justru berasal dari asing. Perusahaan perternakan asing ini menguasai hulu ke hilir industri perternakan. Pengusaha perternakan lokal hanya menguasai bagian perbahagian dari industri ini.

Praktik kartel
Perusahaan besar ini menguasai secara multidimensi bisnis perternakan ini. Mereka sering mempraktikkan kartel dalam berbisnis. Itu sebabnya lebih dari 80% omzet industri perternakan unggas di Indonesia dikuasai oleh asing. Praktik kartel ini telah berulang kali dibuktikan di pengadilan. Sebagai contoh Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) mengharuskan perusahaan perternakan ayam ini membayar denda sebesar Rp 25 miliar, meskipun akhirnya ditolak oleh Mahkamah Agung (MA) di tingkat kasasi.

Kartel dan monopoli mempunyai dampak yang amat besar terhadap pembangunan ekonomi yang tidak berkeadilan bagi sebuah bangsa. Itu sebabnya ada yang menyatakan, monopoli dan atau kartel merupakan penyakit kronis yang berbahaya dalam pembangunan ekonomi. Ia akan membuat ketimpangan ekonomi yang semakin melebar. Kondisi beginilah yang sering disimpulkan sebagai pertumbuhan ekonomi yang tidak berkeadilan.

Country Director World Bank for Indonesia, Rodrigo A Chaves mengingatkan bahwa, negara-negara yang memiliki kesenjangan lebih besar, maka akan lebih tinggi pula tingkat konfliknya dibandingkan dengan negara yang tidak besar kesenjangannya.

Kita juga menyadari bahwasanya sebagian besar usaha peternakan berskala besar ini adalah PMA (Penanaman Modal Asing) yang tentu setiap keuntungan yang diperolehnya akan mengalir ke luar negeri. Adapun omzet perternakan unggas di indonesia menurut DPP Perhimpunan Peternak Unggas Indonesia (PPUI) mencapai Rp 120 triliun per tahun dengan keuntungan puluhan triliun rupiah per tahun. Sementara itu pasar unggas di Aceh sendiri diperkirakan setidaknya mencapai Rp 750 miliar.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved