Balai Bahasa

Adakah Persamaan Bahasa Pakpak dengan Bahasa Singkil?

Bahasa Pakpak adalah salah satu bahasa yang terdapat di Provinsi Sumatera Utara

Adakah Persamaan Bahasa Pakpak dengan Bahasa Singkil?
IST
Balai Bahasa Aceh mengadakan kegiatan Pembinaan Komunitas Baca Se-Kabupaten Aceh Timur di Aula SMPN 1 Idi, 2—4 April 2019. Kegiatan ini diikuti oleh 50 orang peserta yang terdiri dari guru dan komunitas baca. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Timur, Saiful Basri, S.Pd., M.Pd., turut juga hadir Kabid SMP, Muslim, S.Pd. Dalam sambutanya Saiful Bahri sangat mendukung kegiatan ini dan berharap literasi lebih berkembang di Kabupaten Aceh Timur dan Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Timur akan memfasilitasi kegiatan yang serupa agar dapat dilaksanakan di tahun depan.

Oleh: Rahmin, Mahasiswa STKIP BBG Banda Aceh

Bahasa Pakpak adalah salah satu bahasa yang terdapat di Provinsi Sumatera Utara. Penutur bahasa Pakpak adalah masyarakat Pakpak Barat atau sidikalang, sebagian Kota Subulussalam, dan Kabupaten Aceh Singkil. Bahasa Pakpak merupakan bahasa mayoritas Pakpak barat.

Di Kabupaten Aceh Singkil dapat ditemukan di Kecamatan Suro, Simpang Kanan, Danau Paris, dan Gunung Meriah. Sedangkan di Kota Subulussalam, saya kurang tahu. Bahasa ini memiliki dua nama, yaitu bahasa Pakpak dan Pakpak Boang. Sebenarnya, bahasa Pakpak dengan Pakpak Boang itu sama. Dinamakan bahasa Pakpak Boang karena pengguna bahasa tersebut sudah menganut ajaran Islam. Bahasa Pakpak ini berasal dari Pakpak Barat.

Bahasa Singkil adalah salah satu bahasa yang terdapat di Provinsi Aceh. Bahasa Singkil pun sudah diakui pemerintah Aceh sebagai bahasa daerah Aceh Singkil. Bahasa Singkil atau lazim disebut Basa Kade-Kade merupakan bahasa mayoritas penduduk Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam. Mulai dari Kecamatan Suro, Simpang Kanan, Gunung Meriah, Danau Paris, Singkohor, Kuta Baharu, Singkil Utara, dan Singkil menggunakan bahasa tersebut.

Ada dua Kecamatan yang tidak menggunakan bahasa Singkil ini, yaitu Kecamatan Pulau Banyak Barat dan Pulau Banyak Utara. Kedua Kecamatan ini lebih menggunakan bahasa Pesisir atau lazim disebut basa Baapo, sehingga sulit ditemukan pengguna bahasa Singkil di dua Kecamatan ini. Di Kota Subulussalam, mulai dari Kota sampai ke polosoknya pun menggunakan bahasa Singkil. Menurut SIL Internasional, bahasa Singkil ini berkerabat dengan bahasa Karo. Bahasa Singkil memiliki beberapa nama, seperti bahasa Julu, Boang, Kade-Kade, dan Kampung (Harun).

Bahasa Pakpak dan Singkil merupakan bahasa yang tergolong ke dalam bahasa serumpun. Apabila bertemu kedua penutur bahasa ini, maka percakapan mereka bisa saling mengerti. Kedua bahasa ini pun memiliki persamaan dan perbedaan. Dalam tulisan ini, penulis hanya memaparkan persamaan dari segi kata saja. Penulis melihat dari segi bentuk kata, makna, dan pengucapan. Kata yang sama pada kedua bahasa ini yaitu sebagai berikut.

Pertama, kata nomina atau kata benda. Dalam kata nomina, banyak terdapat kata sama pada kedua bahasa ini. Kata yang ditemukan sama yaitu, 

Bahasa Pakpak, Bahasa Singkil, Bahasa Indonesia
Lae ,Lae, air
Tanoh, Tanoh, tanah
Eluh, Eluh, air mata
Nakan, Nakan, nasi

Penjelasan di atas menyatakan bahwa bahasa Pakpak dengan bahasa Singkil mempunyai kosakata yang sama, baik itu bentuk kata, makna, dan pengucapan. Kata yang tergolong sama ada sekitar ratusan kata bahkan lebih. Apabila ada ditemukan percakapan dua bahasa di daerah Aceh Singkil khususnya, maka jangan heran melihatnya.

Hal seperti ini sudah biasa dialami oleh masyarakat Singkil. Percakapan dua bahasa dapat ditemukan di daerah Kabupaten Aceh Singkil. Dalam hal seperti ini, tidak hanya bahasa Pakpak dengan bahasa Singkil saja ditemukan bahkan bahasa Indonesia dengan bahasa Singkil juga ada ditemukan di daerah ini. Kedua bahasa ini dikategorikan ke dalam bahasa serumpun sebagaimana dijelaskan di atas tadi.

Secara pengamatan yang pernah saya lihat bahwa kedua bahasa ini memang bisa saling mengerti apabila berdialog, baik itu keadaan bersendagurau atau becanda, di pasar, dan di warung. Ketika berhadapan dengan orang banyak, mereka menggunakan bahasa persatuan Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan pada saat khutbah jumat, pemilihan kepala desa, dan yang lainnya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved