Jurnalisme Warga

Aksi Filantropis Para Penyintas Bencana

IKUT serta berpartisipasi sebagai relawan di setiap lokasi bencana sepertinya sudah menjadi “candu” buat saya

Aksi Filantropis Para Penyintas Bencana
IST
dr. Aslinar, Sp.A, M.Biomed. Sekretaris IDAI Aceh dan Wakil Ketua Forum PRB Aceh

Oleh dr. Aslinar, Sp.A, M.Biomed. Sekretaris IDAI Aceh dan Wakil Ketua Forum PRB Aceh.

IKUT serta berpartisipasi sebagai relawan di setiap lokasi bencana sepertinya sudah menjadi “candu” buat saya. Selalu ingin segera hadir memberikan bantuan kepada para penyintas bencana tersebut, setidaknya memberikan bantuan tenaga sebagai tenaga medis, yaitu dokter spesialis anak. Saya mulai tergabung dengan Satgas Bencana Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) sebagai relawan, yaitu dimulai saat terjadi gempa di Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Agustus 2018 lalu.

Banyak pengalaman yang saya dapatkan selama menjadi relawan medis. Pernah mengalami sendiri kejadian gempa dan tsunami Aceh pada 2004 silam, sangat bisa merasakan apa yang dirasakan oleh para penyintas bencana. Setiap para penyintas bencana menyimpan kisah tersendiri dalam hati masing-masing yang mungkin sangat sulit untuk diceritakankepada orang lain. Pun demikian mereka tetap punya sisi kemanusiaan yang luar biasa dalam membantu orang lain walaupun dirinya sendiri terkena dampak..

Gempa dan tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah, tepatnya mengenai Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Donggala terjadi pada 28 September 2018. Musibah yang amat dahsyat ini menyebabkan timbul banyak korban yang meninggal, juga luka parah serta ringan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal akibat gempa dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah dan sekitarnya 2.113 orang, yang tersebar di beberapa lokasi. Di Palu korban tewas tercatat 1.703 orang, Donggala 171 orang, Sigi 223 orang, Parigi Moutong 15 orang, dan Pasangkayu 1 orang. Sedangkan korban luka-luka akibat gempa dan tsunami Palu mencapai 4.612 orang. Penduduk yang mengungsi sejumlah 223.751 orang yang tersebar di 122 titik lokasi pengungsian.

Gempa, tsunami, dan likuifaksi
Banyak masyarakat yang tiba-tiba kehilangan anggota keluarga, kehilangan orang orang yang dicintai serta tiba-tiba jatuh miskin, karena semua harta benda lenyap disebabkan musibah tersebut. Selain terjadi gempa dan tsunami, di Palu serta di kabupaten Sigi juga terjadi fenomena alam yang disebut dengan likuifaksi.

Likuifaksi mungkin menjadi istilah baru yang kita dengar. Kita semua baru ngeh tentang fenomena alam ini. Secara definisi, likuifaksi (soil liquefaction) adalah fenomena yang terjadi ketika tanah yang jenuh atau agak jenuh kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan, misalnya getaran gempa bumi atau perubahan ketegangan lain secara mendadak, sehingga tanah yang padat berubah wujud menjadi cairan atau air berat.

Permukaan tanah bergerak dan amblas, sehingga semua bangunan hancur. Proses geologi yang sangat mengerikan. Banyak korban terjebak di daerah tersebut. Nenek moyang masyarakat Palu sebenarnya telah merekam kejadian likuifaksi dalam istilah lokal, yang menandakan bahwa mereka telah mengenalinya sejak lama. Likuifaksi disebut dengan istilah nalodo, yang berarti amblas dihisap lumpur.

Saya tergabung dalam Tim 4 Relawan Medis PP IDAI yang bertugas selama seminggu (16-22 Oktober 2018) bersama satu orang spesialis anak yang lain dari Jawa Timur. Kami menjadi saksi; bagaimana para penyintas bencana ini memiliki sifat kedermawanan yang luar biasa. Nilai filantropisnya keren sekali. Mantap luar biasa.

Pada saat kami bersama tim pada waktu itu berjumlah empat orang (dua orang berasal dari IDAI Sulawesi Selatan), kami mampir di sebuah warung makan yang berada di pusat kota Palu. Kami makan sepuasnya karena memang sedang lapar, setelah selesai keliling ke lokasi pengungsian. Makanan yang disajikan pun ala rumahan serta tersedia lauk khas Palu, yaitu daun kelor (dimasak santan) dan sambal ikan roa. Setelah kami selesai makan kemudian menuju kasir.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved