Salam

Duuh, Elpiji Langka Lagi

Warga di sejumlah kecamatan dalam Kabupaten Aceh Utara sejak 10 hari terakhir ini kembali mengeluh kelangkaan elpiji

Duuh, Elpiji Langka Lagi

Warga di sejumlah kecamatan dalam Kabupaten Aceh Utara sejak 10 hari terakhir ini kembali mengeluh kelangkaan elpiji tabung tiga kilogram (3 Kg). Jika pun ada stok, harganya juga melambung tinggi mencapai Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu per tabung pada pedagang pengecer. Banyak warga Aceh Utara yang berbatasan dengan Kabupaten Aceh Timur belakangan ini bersusah payah mencari elpiji 3 kg pada pengecer di kabupaten tetangga. “Kadang ada, kadang juga nihil,” kata seorang warga Aceh Utara.

Kasus kelangkaan elpiji murah bagi masyarakat kelas bawah itu sudah terjadi bertahun-tahun. Sejak 2016 hingga tahun 2019 ini masih terus berulang. “Karena itulah, kami curiga, jangan-jangan Pertamina tidak mengawasi secara ketat disitribusi elpiji melon jatah Aceh Utara,” kata seorang ibu penjual rumah tangga.

Kelangkaan gas 3 kg yang kita yakin bukan hanya terjadi di Aceh Utara itu, yang paling menyakitkan adalah selalu diiringi dengan kenaikan harga yang tak tanggung-tanggung. Dari ketentuan Rp 18.000 per/3 kg, masyarakat terkadang harus membeli sampai Rp 35 ribu pertabung.

Terhadap sering terjadinya elpiji 3 kg itu, kita sudah berulang-ulang mengingatkan Pemerintah dalam hal ini PT Pertamina supaya mengawaso secara ketat pendistribusian gas tabung melon. Ini penting agar masyarakat khususnya yang berpenghasilan kecil tidak semakin terbeban oleh dampak kelangkaan gas 3 kg.

Sesungguhnya keluhan terhadap kelangkaan dan kenaikan harga elpiji di kalangan masyarakat menjadi persoalan yang harus disikapi secara serius dan cermat oleh pemerintah. Sebab, sejak beralihnya kebiasaan rumah tangga dari menggunakan minyak tanah untuk keperluan sehari-hari ke pemanfaatan elpiji, maka kebutuhan gas murah ini memang menjadi sangat tergantung bagi masyarakat.

Karena itu yang diperlukan sesungguhnya adalah pasokan yang cukup dan teratur. Agar cukup dan teratur, maka pengawasan terhadap distribusinya harus dilakukan secara ketat. Beberapa faktor penyebab terjadinya kelangkaan elpiji 3 kg itu adalah, adanya penyelewengan.

Penyelewengan pertama adalah gas murah itu banyak “dirampas” oleh konsumen yang tak berhal. Misalnya warung dan masyarakat berkelas mampu. Penyelewengan kedua adalah jatah gas 3 kg untuk satu daerah banyak dilarikan ke daerah lain. Ada yang kemudian dioplos dan ada pula yang dijual untuk pemekai yang tak berhak. Justru itulah, faktor pengawasan menjadi sangat berperan untuk mencegah terulangnya kelangkaan gas 3 kg di Aceh, khususnya Aceh Utara.

Langkah-langkah yang sudah ditempuh pemerintah tidak salah dalam rangka mencukupi gas murah kebutuhan masyarakat miskin. Akan tetapi, pengawasannya di lapangan belum cukup serius. Dan, jika pengawasan tetap kurang serius, berapapun banyaknya subsidi untuk menambah pasokan gas kg untuk masyarakat, tidak pernah akan cukup.

Kita mencatat begitu banyak sudah janji pemerintah yang berkomitmen menjamin ketersediaan gas murah untuk masyarakat kecil. Karenanya kita, khususnya masayarakat pengguna elpiji untuk kebutuhan sehari-hari, pasti masih menunggu realisasi dari janji itu. Ingat, perwujudan untuk melakukan pasokan secara teratur sesuai kebutuhan itu penting, karena jika tidak dilakukan segera, kelangkaan akan terus terjadi.

Selain memasok kebutuhan, pemerintah harus dapat mengontrol keadaan di lapangan, termasuk dalam hal ini mengawasi distribusi dan mengatur mekanisme penjatuhan sanksi tegas bagi siapapun yang melangggar aturan demi kepentingan sendiri atau pihak tertentu. Dua langkah itu haruslah dilakukan secara terus-menerus, bukan hanya saat terjadinya persoalan di lapangan.

Kita tentu tidak dapat membiarkan kerisauan terus terjadi secara berkesinambungan di tengah masyarakat kecil. Sebab jika itu terjadi, kepercayaan kepada pemangku dan pelaksana kebijakan akan menurun. Pokoknya, para pedagang gorengan tak boleh berhenti berjualan hanya gara-gara tidak tersedianya gas murah. Nah?

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved