Kenapa Harus Memilih Kautsar Muhammad Yus Pada 17 April Mendatang?

MENDUKUNG Aktivis Pergerakan Demi Kemajuan Aceh di tingkat Nasional Bicara pergerakan mahasiswa dan sipil di Aceh

Kenapa Harus Memilih Kautsar Muhammad Yus Pada 17 April Mendatang?
IST

MENDUKUNG Aktivis Pergerakan Demi Kemajuan Aceh di tingkat Nasional Bicara pergerakan mahasiswa dan sipil di Aceh tentu, tidak asing dengan sosok pria, Kautsar Muhammad Yus, anggota DPR Aceh Periode 2014-2019.

Tokoh pergerakan mahasiswa dan sipil ini benar-benar menghabiskan masa remaja dan mudanya dalam pergerakan ketika Aceh dilanda konflik sampai paska konflik bersenjata reda. Sebelum menyelesaikan pendidikan di Madrasah Ibtidaiyyah Negeri (MIN) Seutui Banda Aceh, Kautsar mulai mengikuti pelatihan dasar organisasi yang diadakan Pelajar Islam Indonesia (PII).

Uniknya, dari puluhan peserta pelatihan itu, hanya ia yang masih MIN. Sedangkan peserta lainnya sudah mengenyam pendidikan SMP/Sederajat. Memasuki usia remaja, mantan tahanan politik ini mulai mempelajari asal usul perjuangan Aceh yang diproklamirkan Wali Nanggroe Aceh Dr Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Kautsar awalnya mendapatkan informasi tentang perjuangan Hasan Ditiro dari pidato yang direkam di cassette tape saat masih kelas lima MIN.

“Awalnya saya mengira itu kaset lagu, ternyata pidato Hasan Tiro saat sedang menggelar latihan. Dari beberapa pesan penting yang disampaikan dalam pidato itu, yang masih teringat saya sampai sekarang ‘Udep beusare, mate beusajan, sikrek kafan sion keureuda’ ujar Kautsar. Meskipun dirinya saat itu belum begitu memahaminya, tapi kalimat tersebut sangat menarik perhatiannya. Perkenalan ini semakin dalam akibat kegemarannya membaca buku. Terutama dari pustaka mini milik orang tuanya.

Dari sini Kautsar memahami persoalan dasar yang menyebabkan timbulnya pergerakan perjuangan yang menuntut kesejahteraan bagi masyarakat Aceh. Kautsar juga sempat mengeyam pendidikan di Pondok Pesantren Darunnajah, Jawa Barat, lalu di Pondok Pesantren Modern Tgk Chik Oemardian, Aceh Besar, dan Dayah Terpadu Nurul Hikmah, Aceh Besar. Masih pada usia remaja, Kautsar sudah mampu hafiz quran 20 juz. Kala itu Kautsar mengenyam pendidikan di Institute Tahfiz Quran WalQira’ah Taman Tun Dr Ismail Kuala Lumpur, Malaysia. Selama menjadi hafiz di Malaysia, lebih kurang tiga tahun, Kautsar juga mendapat kesempatan kembali belajar tentang pergerakan perjuangan Aceh dari buku-buku pustaka di Malaysia banyak menyediakan buku-buku tentang tokoh pergerakan dunia dan sejarah Aceh.

Yang terpenting, selama mengenyam pendidikan di Malaysia, Kautsar berkesempatan berjumpa langsung dengan sejumlah tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang saat itu hijrah ke Malaysia. Pria kelahiran 22 November 1977, itu juga aktif menghadiri diskusi, seminar dan pertemuan persoalan pergerakan perjuangan Aceh di Malaysia. Karena itulah, setelah menyelesaikan di Malaysia Kautsar memilih program studi pidana politik islam di Fakultas Syariah dan Hukum UIN (sebelumnya IAIN) Ar- Raniry Banda Aceh.

Selama kuliah di IAIN, Kaut sar menjadi pelopor dalam setiap pergerakan mahasiswa baik organisasi internal dan eksternal kampus. Kautsar tercatat sebagai Ketua PengurusDaerah Perguruan Tinggi (PDPT) PII dan menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Selama menjadi mahasiswa, Kautsar memotori pergerakan pencabutan Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh.

Diantaranya melakukan aksi mogok makan pertama kali di Aceh, tahun 1998. Kautsar mendirikan dan memimpin Komite Sentral Organisasi Solidaritas Mahasiswa untuk Rakyat (SMUR), selama tiga tahun 1998 – 2001. Mendirikan Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Aceh (KontraS Aceh) Tahun 1998 dan organisasi lainnya. Menginisiasi Kongres Mahasiswa dan Pemuda Aceh Serantau (Kompas I), Tahun 1999, mengkoordinasikan relawan dan mahasiswa untuk membentuk posko pengungsian di Aceh, lalu mendirikan PeopleCrisis Centre Aceh (PCC Aceh) Tahun 1999.

Di internal SMUR muncul pemikiran, Aceh punya agenda maha penting yaitu penyelesaian kasus Aceh secara beradab, adil dan demokratis; pencabutan Daerah Operasi Militer (DOM), pemboikotan Pemilu 1999 sebagai tekanan supaya pemerintah melakukan pengusutan dan pengadilan HAM serta penyelesaian politik melalui referendum Aceh menjadi platform perjuangan menuntaskan agenda reformasi nasional.

Tahun 2000, Kautsar menjadi delegasi Aceh dalam pertemuan Asia Pacific International Conference di Sidney, Australia Tahun 2000. Menjadi delegasi Aceh dalam Pertemuan World Social Forum di Porto Alegre, Brazil Tahun 2002. Menjadi Anggota delegasi perundingan GAM-RI di Jenewa, Swiss mewakili masyarakat sipil pilihan GAM, tahun 2002.

Selama 2014-2019 banyak hal yang sudah dilakukan Kautsar dalam enyuarakan hak rakyat sebagaimana dilakukannya sejak pelajar dan mahasiswa. Menurut Kautsar, Aceh harus memiliki perwakilan di Senayan untuk bisa menyuarakan suara rakyat Aceh di tingkat nasional. Karena itulah ia kali ini maju mencalonkan diri menjadi calon legislatif di DPR RI melalui partai Demokrat pada nomor urut 5 daerah pemilihan II. Aceh tak lepas dari diskusi dan perdebatan tentang arah langkah pemerataan demokrasi nasional. “Banyak hal yang harus disuarakan Aceh di tingkat nasional, sehingga ke depan regulasi Aceh dan juga persoalan dana otsus Aceh bisa terus diperjuangkan,” kata Kautsar. (bersambung)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved