Jurnalisme Warga

Mengabdi dengan Taruhan Nyawa di Papua

SEBAGAI putra Pidie lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama, Aceh Besar yang sudah lima tahun lebih

Mengabdi dengan Taruhan Nyawa di Papua
IST
FAJRI NURJAMIL, putra Aceh bertugas di Puskesmas Suru-Suru, Distrik Suru-Suru, melaporkan dari Kabupaten Asmat, Papua

OLEH FAJRI NURJAMIL, putra Aceh bertugas di Puskesmas Suru-Suru, Distrik Suru-Suru, melaporkan dari Kabupaten Asmat, Papua

SEBAGAI putra Pidie lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama, Aceh Besar yang sudah lima tahun lebih mengabdi di pedalaman Papua, pengalaman saya sangatlah beragam dan terkadang menegangkan. Salah satunya, saya pernah sebelas kali terserang malaria di pedalaman Papua, beberapa kali malah dalam keadaan hilang kesadaran ketika terserang. Pernah pula sekali saya diserang dan dipukul oleh massa yang terprovokasi karena terjadi kesalahpahaman antara masyarakat dengan salah satu staf saya di puskesmas.

Padahal, kala itu niat saya hanya ingin melindungi dan menyelamatkan staf saya, tapi hampir saja balok 5x10 cm melayang ke tengkuk saya. Namun akhirnya, setelah mereka tahu saya seorang dokter yang ingin membantu menyelesaikan persoalan, mereka langsung minta maaf dan sekarang kami menjadi saudara. Saya malah mendapat perlindungan ekstra dari mereka.

Apa yang saya dan teman-teman pendatang lakukan di tempat tugas ini tidak bisa dinilai dengan materi. Yang membuat hati kami sangat tersentuh adalah penghargaan dan perhatian yang sangat luar biasa diberikan pemerintah daerah setempat terhadap pengorbanan kami dalam membantu saudara-saudara kita di pedalaman yang sangat terisolasi di Indonesia Timur ini.

Dalam saya menjalankan tugas, tidak selalu berjalan lancar. Karena kondisi alam yang sangat ekstrem, terkadang saya harus berpikir dua kali saat hendak pergi ke satu kampung. Belum lagi jarak yang harus ditempuh terkadang mencapai dua jam dari puskesmas naik speedboat, padahal masih dalam satu kecamatan.

Selain itu, saat saya tiba di kampung, penduduknya malah tidak ada karena sebagian besar mereka pergi ke befak (ke hutan untuk berkebun, berburu, dan mencari bekal makan). Jadi, paramedis harus mencari mereka lebih dahulu untuk kemudian diberikan pengobatan. Misalnya, diimunisasi, ditimbang berat badan anaknya, diberikan makanan pendamping gizi seperti bubur untuk asupan gizi anak, pemeriksaan ibu hamil, dan pengobatan lainnya.

Perjalanan menuju ke ibu kota kabupaten sangatlah bergantung pada cuaca. Jika cuaca buruk, seperti hujan lebat dan angin kencang di muara, maka taruhannya adalah nyawa karena harus melewati badai dan ombak tinggi yang tak kenal kompromi.

Perjalanan menuju kota haruslah menyusuri aliran sungai pinggiran gunung yang menuju ke muara. Jarak tempuh ke ibu kota kabupaten dari pedalaman tersebut sekitar 6 sampai 8 jam menggunakan speedboat 40 PK, tetapi hal ini juga tergantung cuaca. Kalau hujan di gunung berarti air yang mengalir di sungai akan dapat menutupi bebatuan dan perjalanan speedboat-nya jadi lancar.

Jika tidak ada hujan maka air sungai dangkal dan bebatuan muncul ke permukaan air sungai sehingga sulit untuk bisa dilewati oleh speedboat 40 PK. Di sini, speedboat juga berfungsi sebagai ambulans dalam pelayanan kesehatan, terutama di wilayah pedalaman. Jadi, proses pengantaran pasien dengan speedboat pun harus tetap menyesuaikan dengan cuaca dan kondisi alam.

Pengalaman lain yang sangat sulit saya lupakan adalah pada awal-awal bertugas di Papua, saat rindu berat dan tak bisa berkomunikasi dengan keluarga di Aceh. Awal saya bertugas, di lokasi puskesmas kami belum ada WiFi, bahkan untuk isi pulsa satelit Inmarsat saja kami harus ke Jakarta dengan harga pulsa Rp 3 juta untuk 100 menit bicara. Jadi, tiga hari sekali saya menelepon keluarga hanya dalam durasi 2-3 menit untuk mendapatkan kabar anak-anak dan istri serta keluarga lainnya di Aceh. Itu pun untuk menelepon saya harus masuk ke dalam hutan agar sinyalnya lebih jelas.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved