Opini

Menuju Pertanian Korporasi, Mungkinkah?

BERANGKAT dari pandangan di atas, maka seyogyanya sektor pertanian menjadi prioritas (leading sector) dalam pembangunan

Menuju Pertanian Korporasi, Mungkinkah?
IST

Oleh Husaini Yusuf, S.P., M.Si, Peneliti di BPTP Aceh, alumnus Pascasarjana Sosiologi Pedesaan IPB Bogor, dan Pengurus Ikatan Keluarga Alumni Sosial Ekonomi Pertanian (IKASEP) Unsyiah.

Oleh Muhammad Ismail, S.P., M.Si , Peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh, alumnus Pascasarjana Agribisnis, Institut Pertanian Bogor (IPB).

Peran dan pandangan pemimpin bangsa menjadi aspek penting dalam rekonstruksi dan restrukturisasi pertanian dalam pembangunan nasional (Wibowo, 2004).

BERANGKAT dari pandangan di atas, maka seyogyanya sektor pertanian menjadi prioritas (leading sector) dalam pembangunan. Pasalnya, porsi terbesar penduduk negeri ini masih menggantungkan hidupnya pada bidang yang dianggap kumuh oleh generasi muda, sehingga mereka enggan dan mulai meninggalkannya.

Tinggal menghitung hari, republik ini akan menggelar perhelatan akbar lima tahunan yakni pemilihan presiden (pilpres) yang ke-8 sepanjang sejarah kemerdekaan. Serangkaian tahapan sudah dilalui oleh dua pasangan calon (paslon) Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin dan penantangnya Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno. Lalu, akankah kedua paslon memiliki narasi kuat membangun sektor pertanian?

Pertanyaan besar ini muncul disebabkan dua hal: Pertama, masalah penguasaan lahan. Persoalan sektor pertanian masih belum bisa keluar dari masalah, terutama penguasaan lahan yang dimiliki petani khususnya petani tanaman pangan yang hanya menguasai 0,5 ha per petani (Jawa) dan 1,0 ha (luar Jawa) atau disebut sebagai petani tunakisma (lahan sempit).

Dengan lahan yang sempit, petani sulit meningkatkan produksi pertanian, konon lagi ingin menerapkan sistem pertanian berbasis teknologi (mekanisasi). Oleh karena itu, pemerintah harus serius memberikan akses lahan yang layak bagi petani untuk kesejahteraan mereka.

Dan, kedua, regenerasi petani. Estafet masa depan pertanian dalam ancaman nyata terutama dari aspek pelaku. Generasi muda zaman now sudah mulai enggan nimbrung di sektor pertanian meskipun mereka berasal keluarga petani. Dalam benak pemuda kita, sektor pertanian identik tidak prestisius dan membanggakan kendati pun bagi alumni perguruan tinggi basis pertanian. Ini adalah momok bagi keberlanjutan pertanian kita. Oleh sebab itu, pertanian ke depan harus berbasis teknologi dan dapat meningkatkan nilai prestise bagi kaum muda.

Tantangan penting
Memasuki tahun politik seperti ini, menjadi tantangan penting bagi kedua kandidat untuk menarik simpati dan menggerus suara saat pemilihan. Ajang Pilpres tentu akan meluaskan rayuan hingga level desa/dusun. Seharusnya inilah momentum bagi pemerintah untuk menggaet para pemuda tani bersama-sama untuk bangkit, bukan sekadar meningkatkan produksi. namun juga akses pasar dan agroindustri. Pertanian terintegrasi (korporasi) sejatinya memberikan harapan besar bagi petani untuk mengembangkan produknya.

Pemerintah memang telah menuai beberapa keberhasilan di bidang pertanian, teranyar melakukan ekspor bawang merah ke Thailand sebanyak 5.600 ton dari target 9.000 ton (Kementan, 2018). Padahal sebelumnya Indonesia tergolong negara penerima (impor) (Kompas, 2018).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved