Pascapenembakan Masjid Christchurch, Parlemen Selandia Baru Sepakat Larang Senjata Api Semi-Otomatis

Perdana Menteri Jacinda Ardern mengumumkan rencana perubahan undang-undang menyusul serangan terhadap dua masjid

Pascapenembakan Masjid Christchurch, Parlemen Selandia Baru Sepakat Larang Senjata Api Semi-Otomatis
MARK TANTRUM/GETTY IMAGES
Perdana Menteri Jacinda Ardern merangkul seorang wanita yang hadir di Gedung Parlemen, (19/03) di Wellington, Selandia Baru. 

Ardern menyebut penyerang dua masjid Christchurch sebagai seorang teroris dan dia tidak akan menyebut namanya.

Terdakwa pelaku penyerangan menyandang beberapa senapan semi-otomatis, termasuk AR-15. Dia diyakini telah memodifikasi senjatanya dengan magazin berkapasitas tinggi sehingga dapat menampung peluru lebih banyak.

Apa yang dimaksud dengan senjata semi-otomatis dan senapan serbu?

Senjata semi-otomatis melontarkan satu peluru setiap kali jari penembak menekan pelatuk tanpa perlu mengisi peluru (kecuali ketika peluru di dalam magazin habis).

Senjata jenis ini berbeda dengan senjata otomatis yang melontarkan peluru secara terus-menerus ketika jari penembak menahan pelatuk.

Baca: KIP Aceh Perkenalkan Peserta Pemilu kepada Jamaah Zikir Akbar

Senapan serbu dapat berpindah mode, antara semi-otomatis atau otomatis.

Senjata semi-otomatis biasanya berwujud pistol, senapan, dan senapan sembur, termasuk senapan AR-15.

Senapan AR-15 dapat melontarkan 45 hingga 60 peluru per menit.

Sumber: Violence Policy Center dan assaultweapon.info

Artikel ini tayang pada BBC Indonesia dengan judul : Penembakan masjid Christchurch: Parlemen Selandia Baru sepakat larang senjata api semi-otomatis

Editor: Fatimah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved