Opini

Transaksi Jabatan di Negara Demokrasi

MAKNA subtansial hadis di atas dapat ditelusuri bahwa dengan cara apa pun meminta jabatan itu sesuatu

Transaksi Jabatan di Negara Demokrasi
IST
Dr. Sri Rahmi, M.A., Dosen UIN Ar-Raniry, penulis buku “Kepemimpinan Transformasional”, buku “Kepemimpinan Humanis Religius”, dan anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Banda Aceh.

Oleh Dr. Sri Rahmi, M.A., Dosen UIN Ar-Raniry, penulis buku “Kepemimpinan Transformasional”, buku “Kepemimpinan Humanis Religius”, dan anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Banda Aceh.

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kekuasaan karena sesungguhnya jika engkau diberi kekuasaan tanpa memintanya, engkau akan ditolong untuk menjalankannya. Namun, jika engkau diberi kekuasaan karena memintanya, engkau akan dibebani dalam menjalankan kekuasaan tersebut.” (Muttafaqun `alaih - HR. Bukhari dan Muslim)

MAKNA subtansial hadis di atas dapat ditelusuri bahwa dengan cara apa pun meminta jabatan itu sesuatu yang harus dihindari, terlebih melalui transaksi-transaksi ilegal. Allah Swt tidak akan memberi pertolongan dan tidak akan memudahkan kepemimpinannya, jika upaya menjadi pemimpin dengan cara-cara yang tidak dibenarkan.

Setiap kepemimpinan tentu saja akan mengalami kesulitan. Karenanya jika tidak dapat pertolongan dari Allah, maka sulit menjalani kepemimpinan tersebut. Berbagai bentuk pertolongan dari Allah sangat variatif, seperti beban yang berat menjadi terasa ringan, hal yang sulit menjadi mudah, kesempitan akan menjadi lapang, teguran, koreksi dan perbaikan dari kesalahan yang dilakukan, sehingga tetap berada di garis jalan yang benar dalam melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin.

Penelusuran entitas hadis di atas dan menguak fenomena yang belakangan ini terjadi di negara kita menjadi menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Jika diibaratkan dengan penyakit, maka saat ini transaksi atau jual beli jabatan sudah tergolong pada kejadian luar biasa (KLB). Keadaan ini antara lain disebabkan karena terjadi hampir disemua lini dan hampir setiap hari dilaporkan baik di televisi maupun media cetak lainnya.

Bahkan ada yang terang-terangan dan bukan sesuatu yang tabu lagi, minta dipilih menjadi pemimpin dan akan memberikan sesuatu baik berupa uang atau benda lainnya atau janji bertukar dengan proyek kelak setelah dilantik. Jika sudah menjadi KLB, maka harus dipikirkan dengan serius dan dicarikan “vaksin” yang jitu untuk merespons guna melawan dan menyembuhkannya. Minimal tidak berkembang lagi.

Memprihatinkan
Proses kepemimpinan di Indonesia saat ini sedang berada pada situasi yang memprihatinkan. Bahkan jika boleh jujur saat ini kita berada di era krisis kepemimpinan. Indonesia kekurangan figur yang mampu menjadi pemimpin yang ideal. Menemukan figur yang mampu menjadi suri teladan dan menaungi rakyat (bawahannya) dengan baik telah menjadi sangat langka. Hal ini dapat kita lihat mulai dari kepemimpinan terendah di tingkat desa, provinsi sampai pada kepemimpinan nasional.

Bahkan di satu acara televisi swasta beberapa waktu lalu yang disiarkan langsung, mantan inspektur jenderal (irjen) satu kementerian menyebutkan bahwa transaksi jabatan (kepemimpinan) terjadi juga di lingkungan lembaga pendidikan; mulai dari memperebutkan posisi menjadi kepala sekolah/madrasah, kepala kantor, sampai pada level menjadi pimpinan Lembaga Perguruan Tinggi. Artinya, bahwa transaksi jabatan telah terjadi di semua lini di negara kita. Miris dan sangat memprihatinkan kita semua.

Lembaga pendidikan yang digadang-gadangkan menjadi tempat untuk mendidik karakter dan akhlak calon pemimpin bangsa, diperebutkan oleh orang-orang yang “haus kekuasaan”. Dan saat si peserta didik (di tingkat sekolah/madrasah) atau mahasiswa (di tingkat perguruan tinggi) menamatkan pendidikannya, mereka kembali disuguhi transaksi-transaksi untuk sebuah jabatan yang sedang dipertontonkan oleh para elite negara. Maka jika ini yang terjadi, transaksi leadership akan menjadi seperti penyakit keturunan yang secara sadar terus-menerus diwariskan bagi generasi penerus bangsa.

Jika melihat hakikat dari transaksional leadership adalah perilaku pemimpin/calon pemimpin yang memfokuskan perhatiannya pada transaksi interpersonal antara pemimpin dan orang yang dipimpin dengan melibatkan hubungan pertukaran. Pertukaran tersebut didasarkan pada kesepakatan mengenai klarifikasi sasaran, standar kerja, penugasan kerja, dan penghargaan. Kondisi ini menghidupkan sebuah ritme yang tidak sehat baik dari sudut kultural, apalagi subtansi pemaknaan nilai moralitas keagamaan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved