Tafakur

Jangan Golput

Golongan putih (golput) sudah menjadi slogan penting dalam jajaran terma politik di kalangan masyarakat pemilih

Jangan Golput
IST
Jarjani Usman

Oleh: Jarjani Usman

“Kezaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang jahat, tetapi karena diamnya orang-orang baik.” (Sayyidina Ali ‘alaihissalam).

Golongan putih (golput) sudah menjadi slogan penting dalam jajaran terma politik di kalangan masyarakat pemilih. Golput dianggap sebagai pilihan untuk tidak memilih siapa pun calonnya. Tapi benarkah golput itu golongan putih, golongan tidak memilih atau kelompok tidak memihak?

Sebenarnya, walaupun golput dianggap atau menganggap diri sebagai golongan putih, bukan berarti tidak memihak. Itu bisa bermakna kebeperpihakan, khususnya ketika tidak ikut memilih yang terbaik di antara yang baik. Ketika jumlah pemilih yang seharusnya memilih calon yang baik, tidak ikut memilih, maka jumlah suaranya akan berkurang. Bahkan bisa jadi dikalahkan oleh suara pemilih calon sebaliknya. Oleh karena itu, tetaplah penting memilih dan meninggalkan golput. Kalaupun semua calon dianggap buruk, harus dipilih yang paling sedikit buruknya.

Tentunya dalam memilih pemimpin harus dipertimbangkan banyak hal. Misalnya, kepakaran, pengalaman, integritas, dan siapa saja orang-orang di belakang calon tersebut. Alasannya, orang-orang di belakang layar itu juga akan ikut mewarnai kebijakan-kebijakan yang disahkan nantinya. Makanya jangan kecewa bila nantinya muncul kebijakan-kebijakan yang bagi terasa diskriminatif dan anti-Islam, misalnya, akibat banyak orang muslim yang golput. Politisi sekaligus mantan Perdana Menteri Turki, Necmettin Erbakan juga pernah menyatakan bahwa muslim yang tak mau peduli politik, maka akan dipimpin oleh politisi yang tak peduli Islam. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved