Mihrab

Mengenang Cinta dan Rindu Nabi SAW

CINTA dan rindu Nabi Muhammad SAW mudah diucapkan tapi berat dalam praktiknya

Mengenang Cinta dan Rindu Nabi SAW
IST
Dr Tgk Sulfanwandi MA, Pimpinan Dayah Raudhatul Quran, Tungkop, Aceh Besar, dan pembimbing jamaah umrah

OLEH Dr Tgk Sulfanwandi MA, Pimpinan Dayah Raudhatul Quran, Tungkop, Aceh Besar, dan pembimbing jamaah umrah, melaporkan dari Kota Mekkah, Arab Saudi

CINTA dan rindu Nabi Muhammad SAW mudah diucapkan tapi berat dalam praktiknya. Cinta dan rindu Nabi bukanlah sebuah ibadah biasa, bahkan merupakan alat cek-up iman. Tidak tanggung-tanggung, cinta dan rindu Nabi menjadi barometer sempurnanya iman. Suatu hari Umar bin Khatab jalan-jalan dengan Nabi sambil berpegangan tangan. Umar sangat bahagia dan merasa sangat dekat dan dicintai oleh Nabi. Saking senang karena tapak tangannya digenggam oleh Nabi, lalu Umar mengatakan: “Ya Rasulullah orang yg sangat saya cintai setelah diri saya adalah Engkau ya Rasulullah.” Mendengar ucapan Umar demikian, lalu Nabi menjawab: ‘Ya Umar, belum sempurna Imanmu, sebelum sanggup mencintaiku melebihi dirimu, anak dan istrimu, hartamu, serta lainnya.”

Mendengar tanggapan Nabi, Umar kemudian mengatakan, “Ya Rasulullah, mulai sekarang, aku mencintaimu melebihi sayangku kepada diriku, keluargaku, hartaku, dan lain sebagainya.” Lalu, Nabi melanjutkan; “Sekarang engkau Umar, baru masuk orang yang sangat sempurna iman.” Itulah makna hadits Nabi: “Tiada sempurna Iman salah seorang kamu, sebelum mampu mencintaiku, lebih daripada cinta kepada dirinya, keluarga, dan lain sebagainya.”

Dalam kisah lain, seorang sahabat bertanya pada Nabi, ‘Ya Rasulullah, kapan kiamat akan terjadi?’ Mendengar pertanyaan tersebut, Nabi terdiam sejenak (ada kesan Nabi tiada suka dengan pertanyaan tersebut). Lalu, Nabi balik bertanya kepada sahabat tersebut; ‘Kalau kiamat terjadi, persiapan apa saja yang sudah kamu lakukan? Sahabat ini dengan sangat polos menjawab ‘tidak ada apa-apa ya Rasulullah.’

Lalu, Nabi dan sahabat itu sama-sama diam. Beberapa saat kemudian sahabat itu melanjutkan, ‘Yang ada padaku ya Rasulullah adalah Aku sangat mencintaimu, melebihi cintaku pada diriku dan lainnya.’ Mendengar jawaban sahabat demikian, Nabi menanggapinya, “engkau akan Allah bangkitkan bersama orang yang engkau cintai.” Mendengar jawaban Nabi, sahabat tersebut langsung ke luar dari Masjid Nabawi sambil lari-lari dan berlompat-lompat gembira. Sehingga membingungkan sahabat-sahabat yang berada di luar masjid dan penuh tanda tanya apa yang membuat sahabat itu gembira sekali.

Semua sahabat yang di luar masjid lalu berkumpul mengerumuni sahabat yang satu ini. Ia tanpa berhenti melompat-lompat gembira seraya bertakbir ‘Allahu Akbar... Allahu Akbar.” Ketika orang sudah sangat ramai di sekelilingnya, sahabat ini bercerita: ‘Tahukah kalian, apa yg barusan disampaikan oleh Rasulullah kepada saya? Semua sahabat terdiam. Lalu, ia melanjutkan, ketahuilah Nabi baru saja menyampaikan pada saya bahwa “Kamu akan dibangkitkan pada hari kiamat, bersama orang yang kamu cintai.”

Mendengar berita yang datang dari Nabi bahwa Allah akan membangkitkan seorang hamba bersama orang-orang yang dicintainya, semua sahabat yang di luar Masjid Nabawi juga berlompat-lompat seperti sahabat yang tadi. Gembira, bahagia, dan senang hati karena mereka sadar dari segi ibadat sangat lemah, tiada mampu menyamai ibadah Nabi. Tapi, yang mereka punya hanya kekuatan cinta dan rindu karena mereka tidak kuat jauh dari Nabi.

Inilah nilai cinta dan rindu Nabi. Terbukti pada hari Nabi wafat, Umar bin Khatab mengatakan: “Siapa yang bilang Muhammad wafat, maka akan aku tebas lehernya dengan pedang saya ini.” Sehingga, sampai tiga hari Nabi belum dilakukan tajhiz mayat, sampai Abu Bakar pulang dari medan perang dan meleraikan masalah.

Betapa mahal dan tinggi nilai cinta rindu Nabi, sehingga termasuk salah satu tiket surga bayarannya. Maka, tak heran banyak orang ketika ziarah Nabi di Madinah, mereka bershalawat beberapa kali. Lalu, tiada kuat, limpahan air mata, goncangan gemuruh cinta, penuh kerinduan, dan terisak-isak dalam keharuan bahagia cinta. Itu adalah wujud dari besarnya magnet cinta rindu Nabi.

Dalam kisah lain, seorang sahabat bernama Tsuban, menangis terisak-isak. Lalu ditanya oleh Nabi, apa yg membuatmu menangis tersedu-sedu? Tsuban menjawab: Ya Rasulullah, seandainya kami masuk surga, tentu engkau tiada ketemu lagi dengan kami, karena sudah pasti surga untukmu lebih tinggi dan mewah dari surga kami. Ya Rasulullah yang aku tangisi bukan karena mewah surgamu dibanding surga kami, tapi aku tidak lagi jumpa atau jarang-jarang jumpa denganmu. Buat apa surga ya Rasulullah kalau aku tidak melihatmu lagi, biar aku di neraka asalkan mataku masih dapat melihat wajah muliamu.”

Mendengar cinta sahabat Tsuban demikian, Nabi menjawab, “kamu akan bersama saya dalam surga.” Itulah cinta dan rindu Nabi. Sudah sepatutnya kita tunduk kepala, buka hati, melihat ke dalam diri, berapa nilai cinta dan rindu Nabi bila dibanding dengan cinta dan rindu kepada harta, dunia, dan lainnya. Padahal, semua itu belum tentu memberikan manfaat dan bahkan boleh jadi membawa malapetaka bencana pertanggungjawaban berat.

Ada apa dan mengapa kosong cinta Nabi. Padahal, Nabi segala-galanya dalam hidup kita. Sampai Allah mengatakan dalam Hadits Qudsy: “Kalau bukan karenamu hai Muhammad, tiada Kuciptakan alam semesta ini.” Inilah mengapa sosok Nabi Muhammad harus kita cintai melebihi diri kita sendiri. Makanya, tak heran dalam praktik shalawat Nabi, Allah bersama Malaikat lebih dulu bershalawat dan salam kepada Nabi, baru kemudian memerintahkan kita untuk bershalawat kepada Nabi.

Syeikh Abdul Qadir, dalam sebagian suara munajatnya berdoa: “Ya Allah demi kemuliaan Nabi Muhammad SAW, kumpulkan saya bersama Nabi Muhammad, dalam hidup ini sebelum mati.” Apa yang sangat penting dalam doa tersebut “Cinta dan Rindu Nabi.” Apalagi kita sekarang sedang berada di awal bulan Syakban, sungguh sangat patut merenungi kekuatan cinta dan rindu Nabi.

Nabi bersabda: ‘Rajab bulan Allah, Syakban bulan Nabi, Ramadhan bulan umat Nabi.” Ya Allah, tumbuhkanlah cinta dan rindu kepada Nabi-Mu, tiada apa-apanya kami, tanpa pertolongan-Mu dan syafaat Nabi-Mu kepada kami, tumbuhkan dalam hati kami, cinta kepada keluarga dan sahabat Nabi-Mu, Besarkanlah rasa kasih sayang-Mu di hati kami. Amin ya mujibassailin.(*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved