Jurnalisme Warga

Menyentuh Langit di Puncak Pantan Terong

MALAM itu terdengar suara gemuruh dari langit, pertanda hujan bakal mengguyur kota kediamanku

Menyentuh Langit di Puncak Pantan Terong
IST
CHAIRUL BARIAH, Kepala Biro Umum Universitas Almuslim Peusangan dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Takengon, Aceh Tengah 

OLEH CHAIRUL BARIAH, Kepala Biro Umum Universitas Almuslim Peusangan dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Takengon, Aceh Tengah

MALAM itu terdengar suara gemuruh dari langit, pertanda hujan bakal mengguyur kota kediamanku. Petir yang menggelar tampak membelah langit di ujung sana. Langsung aku bergegas menutup pintu dan jendela rumah. Padahal, aku ada janji bersama keluarga untuk mengajak mereka jalan-jalan melihat pameran di lapangan Kota Bireuen. Tapi itu mustahil, dikarenakan hujan turun begitu deras sehingga aku putuskan untuk tetap di rumah bersama keluarga.

Suami dan anak-anakku coba membunuh rasa sepi dengan menikmati hiburan di televisi. Sementara aku berjalan ke arah jendela dan membuka kain gorden di jendela kamarku. Ya, bagiku hujan itu adalah anugerah yang diturunkan Allah Swt. Hujan yang begitu deras dan langit pun tertutup awan hitam bagai mengingatkan karena besok subuh aku berencana melakukan perjalanan rekreasiku bersama keluarga kecilku ke kota dingin Takengon, Aceh Tengah.

Rencana kepergian ke kota dingin itu memang sudah kami rencanakan tiga hari lalu. Tahu tentang rencana rekreasi ini anakku yang nomor dua, meski masih pagi buta bangunnya sangat cepat, karena angan-angannya ingin piknik ke Aceh Tengah. Padahal, malam itu hujan begitu deras mengguyur tempat kami tinggal di Matangglumpang Dua. Perasaanku rasanya sangat senang karena bisa berlibur dengan seluruh anggota keluarga ke daerah yang aku tinggalkan puluhan tahun lalu.

“Bun, Bunda! Bunda kok bengong sendiri di kamar? Ayo Bun, kita pergi. Bunda kan sudah janji mau ajak kami jalan-jalan,” ujar anakku. Aku terkejut dan langsung berdiri dari tempat dudukku. Lalu aku menjawab, “Tapi kan masih hujan, Nak?” Lalu anakku menjawab dengan nada manja, “Tapi hujan sudah berhenti, Bunda. Emang Bunda tidak lihat kalau hujan sudah berhenti?” ujarnya.

Aku penasaran dan ingin segera melihat ke luar jendela. Ternyata anakku benar bahwa hujan sudah reda. Akhirnya, tanpa basa-basi langsung aku dan anakku bergegas menuju mobil yang di dalamnya suami dan anak sulungku sudah menunggu sejak 30 menit lalu.

Pagi itu, Sabtu, pukul 06.00 WIB seusai shalat Subuh, aku awali perjalanan bersama keluarga menuju Takengon. Jalan yang penuh liku dan menanjak terkadang membuat laju mobil tersendat karena ada tanah yang longsor dari tebing jalan. Namun, rintangan tersebut tidak mematahkan semangat kami untuk sampai ke Takengon.

Kota penghasil kopi ini menyimpan banyak cerita tentang kisah hidupku. Satu hal yang cukup kuat hubungan aku dengan Takengon adalah di dalam tubuhku mengalir darah keturunan Gayo. Sebab, ibu dari ayahku asli Gayo, berasal dari Kampung Wih Lah, Kecamatan Pegasing. Pada masa kecil aku sempat mengenyam pendidikan di SD Paya Tumpi yang kini bernama SDN 3 Kebayakan, Aceh Tengah.

Kemudian, aku hijrah ke Jakarta selama beberapa tahun hingga kembali lagi ke kota kelahiranku, Matangglumpangdua, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen. Seiring perjalanan waktu, aku menikah dengan seorang pria Aceh bergaris keturunan Yaman, Timur Tengah yang sangat baik dan menjadi suamiku, hingga aku dikaruniai dua orang arjuna.

Udara yang segar dengan hawa sejuk mulai terasa ketika kami sampai di gapura “Selamat Datang di Kota Takengon” pada pukul 08.00 WIB. Aku dan keluarga berhenti sejenak di daerah yang dinamai Singah Mata. Di sini kami berfoto dengan latar belakang Danau Lut Tawar. Kala itu pengunungannya masih diselimuti kabut putih. Kemudian, kami menuju sebuah desa yang tak jauh dari Singah Mata, yakni Desa Paya Tumpi Baru. Di desa inilah ketika masih kecil aku pernah tinggal. Aroma khas kopi Paya Tumpi menyambut kedatangan kami di rumah saudara kandungku yang hidup bersahaja.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved