Opini

Pikiran Irasional Pendukung Capres

FITRAH manusia itu berakal. Akal (‘aql, logic, homo sapiens) merupakan pembeda (distingsi) antara spesies manusia

Pikiran Irasional Pendukung Capres
IST
Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I, Dosen Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

Oleh Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I, Dosen Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)

FITRAH manusia itu berakal. Akal (‘aql, logic, homo sapiens) merupakan pembeda (distingsi) antara spesies manusia dengan spesies lain, semisal fauna dan flora. Akal digunakan untuk berpikir logis dan sistematis dalam pengambilan keputusan menyangkut segala aspek kehidupan, tanpa kecuali dalam pilihan politik praktis.

Akal akan bekerja keras untuk merekam berbagai informasi tentang kontestan, meliputi rekam jejak, visi-misi, program kerja, anti-korupsi dan lain-lain, yang akan bertarung dalam pemilihan umum (Pemilu). Setelah seluruh informasi diperoleh, dikumpulkan dan diseleksi secara logis dan sistematis, lalu pengambilan keputusan. Maka berpikir logis dan sistematis dianggap sebagai pola pikir rasional, sebaliknya. Pikiran rasional akan menolak berbagai informasi yang melawan akal, semisal hoaks.

Selain itu, belajar secara tidak logis dapat mengakibatkan seseorang berpikir irasional, semisal over fanatik, paranoid, dan hambatan psikis dan emosional. Maka Albert Ellis (1913-2007) mengembangkan REBT (Rational Emotive Behavioral Therapy) atau terapi rasional emosi yang berfungsi untuk mengembalikan pikiran-pikiran irasional seseorang menjadi rasional. Sebab, berpikir irasional dapat mengganggu aktivitas pengambilan keputusan seseorang, sehingga hasil keputusannya keliru.

Realitas politik praktis 2019 ini yang semakin dekat dengan hari pencoblosan, 17 April 2019, berseliweran pikiran-pikiran irasional para pendukung, khususnya dalam pemilihan presiden (Pilpres). Meski tahun ini pemilu dilaksanakan secara serentak, yaitu pemilihan legislati (Pileg) meliputi kabupaten/kota, provinsi, pusat, dan DPD, serta Pilpres. Namun animo masyarakat tampaknya lebih fokus pada konstestasi yang disebut terakhir ini.

Tak terbendung
Akhirnya, pikiran-pikiran irasional para pendukung capres pun tak terbendung berseliweran di belbagai media sosial. Tentu jika pikiran-pikiran irasional ini tidak diatasi, maka akan mengganggu proses demokrasi, baik aspek kualitas maupun kuantitas para pemilih. Bukan mustahil pula akan terjadi distrust kepada para pemenang Pilpres, hingga muncul blok in-group (kita) dan out-group (mereka) yang dikemukan oleh W.G. Sumner (1840-1910) yang berujung pada disintegrasi bangsa.

OLeh karena itu, para pendukung kedua capres, baik pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin maupun Prabowo-Sandi, hendaknya berpikir rasional. Adagium “akal sehat” yang dipopulerkan oleh Rocky Gerung, tidak cukup jika para pendukung masih berpikir irasional dalam memilih capres.

Berikut beberapa pikiran irasional para pendukung capres di antaranya: Pertama, “Jokowi/Prabowo mustahil kalah”. Penggunaan kata “mustahil” di sini menunjukkan penafian kemenangan terhadap kelompok lain. Dalam konteks demokrasi pikiran semacam ini merupakan pikiran irasional. Sebab, setiap kontestan memiliki peluang yang sama untuk menang dan kalah. Ini juga petunjuk bahwa kontestan dan para pendukung harus siap menerima kemenangan dan kekalahan.

Tidak boleh kontestan dan para pendukung hanya siap menerima kemenangan, tapi tidak siap menerima kekalahan, hingga mengancam aparat dan penyelenggara pemilu, baik secara verbal maupun non-verbal, semisal akan menggerakkan people power jika pilihannya kalah. Ironisnya, terkadang pikiran irasional semacam ini dikembangkan oleh kaum terpelajar dan akademisi.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved