Jurnalisme Warga

Merawat Seni Tutur Nandong di Simeulue

NANDONG adalah sebuah kesenian tradisional Simeulue yang sangat populer di kalangan masyarakat Simeulue

Merawat Seni Tutur Nandong di Simeulue
IST
MORIS MESASILAE, Pemerhati Seni Budaya Simeulue, melaporkan dari Sinabang

MORIS MESASILAE, Pemerhati Seni Budaya Simeulue, melaporkan dari Sinabang

NANDONG adalah sebuah kesenian tradisional Simeulue yang sangat populer di kalangan masyarakat Simeulue. Seni tutur nandong dimainkan dengan menggunakan alat musik kedang (gendang) dan biola serta dapat dimainkan oleh sekurang-kurangnya dua orang, yaitu penabuh kedang dan pemain biola merangkap sebagai pembawa syair nandong.

Idealnya, nandong dimainkan oleh 3-5 orang atau lebih. Namun demikian, nandong dapat juga dibawakan oleh hanya seorang saja tanpa alat musik, misalnya ketika sedang mendayung perahu atau memancing, bekerja di sawah atau juga ketika sedang memetik cengkih jika tiba musimnya.

Memainkan atau membawakan kesenian nandong, disebut juga kumedang. Kesenian ini sering ditampilkan pada acara perhelatan perkawinan, sunatan atau pada pertunjukan kesenian setiap perayaan 17 Agustus setiap tahun atau pada acara tontonan umum lainnya.

Seni tutur nandong idealnya dilaksanakan pada malam hari hingga menjelang subuh. Itu karena, bagi peseni dan penikmat nandong semakin larut malam dan menjelang dini hari merupakan momen puncak atau klimaks menikmati alunan suara penandong yang mendayu-dayu dan sayup-sayup sampai.

Ada beberapa jenis pantun nandong yang lazim dibawakan dalam setiap acara. Pantun-pantun tersebut umumnya saling berkait serta berisikan tentang romantika kehidupan manusia, seperti pantun kasih yang erat kaitannya dengan perasaan kasih sayang, asmara atau pun percintaan; pantun untung, lebih menceritakan tentang nasib dan peruntungan hidup seseorang; pantun rantau, menceritakan suka duka, penderitaan dalam merantau juga berisi petunjuk dan nasihat. Masih banyak jenis pantun nandong yang keseluruhannya berjumlah sekitar 16 jenis pantun.

Bila kita cermati lebih dalam isi dan susunan bait demi bait pantun nandong, sungguh syair-syair tersebut merupakan karya sastra yang luar biasa, sarat makna hasil gubahan penandong-penandong generasi terdahulu. Betapa tidak, isi dan untaian pantun tersebut yang saling berkait selain bercerita tentang romantika hidup juga berisi nasihat, mengandung tata krama dan pedoman berperilaku.

Namun di sisi lain, eksistensi nandong tersebut akhir-akhir ini menunjukkan tanda-tanda tergerus oleh perkembangan zaman dan modernisasi di bidang seni dan musik dari berbagai genre. Nandong nyaris ditinggal dan kurang diminati terutama di kalangan generasi muda, alunan nandong telah mulai jarang didengar dan dilantunkan, kecuali jika ada acara-acara tertentu. Dalam acara tontonan umum, publik lebih memilih suguhan kesenian yang bersifat ketangkasan dan heroik seperti debus (rampano), tari pedang, silat dan sebagainya. Jika tiba giliran tampilan Nandong, penonton cenderung menjauh dari stage untuk sesaat dan akan mendekat kembali jika ada suguhan lainnya seperti tari-tarian.

Adalah Yopi Andry, seniman Simeulue, berdomisili di Yogyakarta yang telah memberi sinyal dalam bukunya “Nandong, Seni Tradisional Simeulue yang Terlupakan” yang diterbitkan tahun 2008 bahwa di tengah gempuran musik-musik modern, nandong seolah tenggelam ditelan ingar bingarnya alat-alat musik modern. Tetapi karena nandong berisi lirik-lirik yang bertutur tentang romantika kehidupan masyarakat, maka nandong tetap ada  kendati antusiasme masyarakat, terutama kaum muda terbilang minim.

Apa yang disampaikan Yopi ini mengingatkan kita bahwa musik modern yang juga terus berkembang sesuai dengan perkembangan industri musik merupakan salah satu ancaman terhadap keberlangsungan kesenian tradisional seperti nandong yang perlu diantisipasi. Namun, di sisi lain karena nandong berkisah tentang peri kehidupan manusia sehari-hari, maka ada rasa optimis kepada kita bahwa seni tutur tersebut masih relatif kuat dan mengakar di tengah masyarakat. Hanya saja bagaimana memproteksi dan menjadikan seni nandong ini agar lebih digemari oleh kalangan muda dan masyarakat pada umumnya.

Melihat fenomena tersebut dan karena kesenian tradisional nandong merupakan atau termasuk kesenian tertua yang telah menjadi warisan budaya, untuk itu perlu adanya langkah-langkah penyelamatan dari gerusan dampak modernisasi musik serta perlu upaya-upaya maksimal untuk menjaga dan merawat serta melestarikannya, apalagi seni tutur Nandong ini telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2016 sebagai salah satu warisan budaya nasional tak benda di propinsi Aceh, khususnya Simeulue. Upaya penyelamatan dan pelestarian tersebut dipandang perlu agar generasi muda Simeulue khususnya dan masyarakat lain pada umumnya dapat mengetahui dan bahkan menguasai seni budaya nandong.

Selain dari upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan pencinta Nandong lainnya, ada beberapa komunitas dan pekerja seni yang cukup aktif memperkenalkan kesenian nandong ini ke berbagai pelosok Tanah Aair. Komunitas tersebut, antara lain, Central Culture Simeulue dan Group Siar Smong Jakarta. Kedua komunitas seni ini sering memperkenalkan kesenian nandong ke berbagai daerah, misalnya ke Yogyakarta, Bandung, Kampus Unbraw Malang, Bali, dan Jakarta tepatnya di Gedung TIM dan Warung Apresiasi Bulungan bahkan sampai ke Malaysia.

Tidak hanya kedua komunitas tersebut yang punya atensi terhadap pelestarian seni tutur nandong ini, tentu masih ada pekerja seni dan pemerhati nandong lainnya yang punya perhatian terhadap keberadaan kesenian ini. Misalnya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh yang telah memprakarsai dan memperkenalkan nandong ke sekolah-sekolah di Simeulue dengan program “Nandong Go To School” nya.Kegiatan tersebut merupakan suatu terobosan yang patut di apresiasi dalam upaya memperkenalkan kesenian Nandong kepada pelajar dan siswa di Simeulue karena mereka adalah generasi penerus yang akan melanjutkan dan menjaga warisan seni budaya nasional tersebut.

Perhatian terhadap kesenian tradisional nandong ini tidak pula hanya di kalangan pemerhati dan pekerja seni atau seniman nandong saja, tetapi juga beberapa mahasiswa telah menjadikan seni nandong ini sebagai tema pokok objek penelitian untuk skirpsi maupun disertasi mereka untuk meraih gelar doktor, termasuk beberapa peneliti dari perguruan tinggi lainnya. Hal ini membuktikan kepada kita bahwa seni nandong juga telah menjadi objek penelitian ilmiah.

Selebihnya terpulang kepada pihak yang berkompeten, baik pemerintah maupun lembaga terkait atau juga komunitas dan pekerja seni lainnya, bagaimana menginisiasi dan kapan memulainya. Namun, sebagai catatan yang perlu digarisbawahi bersama bahwa nandong adalah aset budaya nasional dari Simeulue yang perlu diselamatkan.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved