Balai Bahasa

Layakkah Sastra Diperdebatkan

Sebelum kita membahas apa sastra layak diperdebatkan, kita seharusnya perlu tahu apa itu sastra

Layakkah Sastra Diperdebatkan
IST
Para pemenang Festival Musikalisasi Puisi melakukan foto bersama dengan Kepala Balai Bahasa Aceh, dewan juri, dan panitia.

Oleh: Rauzatul Jannah

Sebelum kita membahas apa sastra layak diperdebatkan, kita seharusnya perlu tahu apa itu sastra. Karya Sastra adalah ilmu pengetahuan segala hal, merupakan ungkapan, perasaan yang meletup-letup, perasaan apa yang dialami, kemudian disusun dengan bahasa yang estetika (indah). Di samping itu, sastra juga merupakan sebuah rekaan manusia, bisa dari pengalaman pribadi, orang lain, ataupun cerminan. Sastra juga merupakan ilmu tertua setelah filsafat, karena sastra sudah ada sejak zaman dulu kala.

Pondasi awal sastra Indonesia merupakan cikal bakal dari Aceh, sebut saja Hamzah Mansuri, sastrawan Aceh yang dikenal diluar tapi di Aceh namanya bagaikan tabu. Sastra itu sebenarnya mengabdi kepada batin, bukan otak. Sastra juga dibagi menjadi tiga, yaitu: 1) Teori sastra, yang membicarakan teori dan pendekatan apa yang berkembang, 2) Sejarah sastra, yang membicarakan sejarah sastra sejak pertama kali hadir di dunia, dan 3) Kritik sastra, yaitu kecaman, pendapat seseorang terhadap sebuah karya. Dan layakkah sastra untuk diperdebatkan? Menurut saya pribadi, sastra adalah keindahan yang luar biasa, “orang gila yang memuntahkan isi pikirannya”.

“Menulis itu ibarat rambu, tapi bukan berarti kamu harus ketakutan setengah mati saat menerobos lampu merah, lakukan apa yang kamu mau, tapi lakukan itu dengan jujur”. Saya tertampar saat membaca kutipan tersebut, karena saya juga pernah membaca pada salah satu opini sastra, dia menulis: apresiasi itu penting, tapi jauh lebih penting adalah dirimu sendiri. Chairil Anwar, seorang penyair hebat nusantara, dia mendobrak kemapanan lama penulisan puisi dengan kebebasan dalam menulisnya. Dia peduli pada setiap tulisannya, meskipun tidak menafikan kritik dan saran. Baginya kebenaran adalah ketika kita tidak terbebani dengan kemapanan. Dan saya setuju dengan itu, karena saya juga tidak suka dengan aturan, karena sebenarnya itu hanyalah pengalihan rasionalitas hidup.

Dan bagaimana dengan sastra, sastra saat ini sudah sangat banyakmengalami perubahan, sehingga layak atau tidak sebenarnya itu menurut pandangan pribadi setiap orang. Tetapi setiap keputusan tentunya sudah menilik an mengetahui sastra terlebih dahulu, karena orang yang menyampaikan orasi tanpa tau apa-apa hanyalah sampah. Tentunya fenomena sastra ini sangat populer jika diperdebatkan, karena akan muncul berbagai pendapat yang berbeda-beda. Karena Plato dan Aristoles saja mempunyai pendapat yang berbeda. Padahal, Aristoteles merupakan anak didik dari Plato sendiri. Tapi bukankah pendapat itu bebas? Sebagai seorang manusia yang mempunyai akal sehat, tentunya kita punya pendapat sendiri setiap persoalan yang akan kita jumpai, karena IQ setiap manusia itu tidak akan sama.

Walaupun mempunyai pendapat yang berbeda, tentunya kita juga harus menghargai pendapat orang lain yang berbanding terbalik dengan kita. Plato mengatakan: sastra adalah hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis). Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. Oleh karena itu, nilai sastra semakin rendah dan jauh dari dunia ide. Sedangkan Aristoteles mengatakan: sastra sebagai kegiatan lainnya melalui agama, ilmu pengetahuan dan filsafat. Sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sederetetan karya seni (Wellek dan Warren).

Menurut saya, karya sastra sangat layak diperdebatkan, karena sastra memiliki jutaan seni yang kreatif, indah, dan berbagai tokoh yang terlibat didalamnya. Sastra juga merupakan sebuah alternatif yang positif untukmenuangkan ide. Daripada menghabiskan waktu untuk yang tidak perlu, ukankah lebih baik kita bersastra? Dan bersastralah secara Islam

Balai Bahasa Aceh Selenggarakan Festival Musikalisasi Puisi
Balai Bahasa Aceh menyelenggarakan Festival Musikalisasi Puisi Tingkat SMA/Sederajat Se-Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Kegiatan yang diikuti oleh sepuluh sekolah ini dilaksanakan pada tanggal 10—11 April 2019 di aula Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Lampineung, Banda Aceh. Pada tanggal 10 April 2019 dilaksanakan technical meeting (taklimat) beserta check sound (orientasi pentas) dan tanggal 11 April 2019 dilaksanakan festival musikalisasi puisi.

“Festival Musikalisasi Puisi ini bertujuan untuk menggali dan mengembangkan segenap talenta seni sastra dan musik para siswa, menumbuhkan sikap positif dan kecintaan siswa terhadap karya sastra dan musik, meningkatkan apresiasi dan pemahaman para siswa terhadap karya sastra (terutama puisi dan musik), dan menumbuhkan semangat sportif (bersaing secara sehat) dan bertanggungjawab di kalangan siswa.” ungkap Ketua Panitia Festival Musikalisasi Puisi, Ibrahim Sembiring, saat melaporkan sekaligus menginformasikan perihal pelaksanakan kegiatan festival tersebut.

Festival Musikalisasi Puisi dibuka oleh Kepala BalaiBahasa Aceh, Drs. Muhammad Muis, M.Hum. Dalam kata sambutannya, Muhammad Muis menginformasikan bahwa Festival Musikalisasi Puisi merupakan salah satu kegiatan program unggulan Balai Bahasa Aceh dan Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun. Dalam festival ini setiap peserta wajib menampilkan satu puisi wajib dan satu puisi pilihan yang telah disediakan oleh panitia. Puisi wajib berjudul Inilah Aceh karya Fikar W. Eda.

Sedangkan puisi pilihan, ada tiga judul yang disediakan panitia yaitu Berguru Kepada Hulu Danau Lut Tawar karya Salman Yoga S; Jerit Sebatang Pohon di Lauser karya Basri Emka; dan Sungai Tamiang karya MH. Agam Fawirsa. “Seluruh puisi yang ditampilkan dalam festival ini adalah karya para penyair Aceh. Hal ini memang sengaja dilakukan agar para peserta juga dapat mengetahui namanama penyair Aceh beserta karya-karyanya” beber Ibrahim Sembiring.

Kriteria penilaian dalam festival ini meliputi: PenafsiranPuisi (1. Makna; 2. Suasana), Komposisi (1. Bunyi; 2. Melodi; 3. Ritme), Keselarasan (Keserasian alat musik dan vokal), Vokal (1. Artikulasi; 2. Intonasi), dan Penampilan (1. Gerak; 2. Kostum; 3. Tata Rias). Adapun yang tampil sebagai pemenang dalam festival ini yaitu: Pemenang I (SMAN Modal Bangsa), Pemenang II (SMAN 4 Banda Aceh), Pemenang III (SMAN 1 hoknga), Pemenang Harapan I (SMA Lab. School), Pememang Harapan II (SMAN Unggul Ali Hasjmy), dan Pememang Harapan III (SMA Muhammadiyah 1 Banda Aceh). Masing-masing pemenang mendapat uang pembinaan, tropi, dan piagam penghargaan

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved