Terorisme di Selandia Baru

Pelaku Teror Mesjid di Christchurch Brenton Tarrant Diduga Pernah Ancam Bunuh Warga Melbourne

ABC memperoleh bukti percakapan pesan Facebook antara pria yang tak bersedia disebutkan namanya itu dan Tarrant pada Agustus 2016.

Pelaku Teror Mesjid di Christchurch Brenton Tarrant Diduga Pernah Ancam Bunuh Warga Melbourne
POOL New via Sky News
Brenton Tarrant ketika dihadirkan di pengadilan Sabtu (16/3/2019). Tarrant dikenai dakwaan pembunuhan kepada jemaah Masjid Al Noor dan Linwood ketika Shalat Jumat di Christchurch, Selandia Baru (15/3/2019). Wajahnya diburamkan untuk mempertahankan haknya mendapat persidangan yang adil. (POOL New via Sky News) 

SERAMBINEWS.COM - Seorang warga Melbourne mengungkapkan pelaku penembakan jamaah masjid di Christchurch, Brenton Tarrant, pernah mengirimkan ancaman pembunuhan karena mengkritik kelompok anti imigran garis keras, United Patriots Front (UPF) pada 2016.

Baca: Dinilai Bertindak Rasis, Gelar Nobel Penemu DNA James Watson Dicabut

ABC memperoleh bukti percakapan pesan Facebook antara pria yang tak bersedia disebutkan namanya itu dan Tarrant pada Agustus 2016.

Tersangka pembunuh massal ini dalam pesan itu mengatakan, "Saya harap suatu hari kamu berhadapan dengan tiang gantungan".

Dalam percakapan itu, Tarrant membela kelompok anti-imigran UPF sebagai "kelompok etno-nasionalis terkemuka di Australia".

"Ketika kamu bicara menentang UPF, kamu bicara menentang hak saya untuk memiliki rumah bagi rakyat dan budaya saya," tulis Tarrant.

"Hal ini membuat kamu telah ditandai," tambahnya.

Baca: Perusahaan China Ciptakan ‘Mesin Pendonor Sperma’, Harganya Capai Rp 91 Juta

Tarrant memperingatkan pria itu untuk "memilih kata-kata kamu dengan hati-hati" dan "memikirkan siapa yang kamu hina".

"Saya harap kamu bisa sadar suatu hari dan jika kamu seorang Marxis, saya harap suatu hari kamu berhadapan dengan tiang gantungan."

Penerima ancaman ini mengaku telah melapor ke kantor polisi Eltham di pinggiran Melbourne pada September 2016. Dia menyertakan salinan percakapan FB dan memperingatkan petugas bahwa Tarrant bisa berbahaya.

Baca: Kasatpol PP Banda Aceh: Seharusnya Parpol dan Caleg Bersihkan Sendiri APK

Menurut dia, saat itu polisi hanya menyarankan untuk memblokir Tarrant di media sosial. Petugas tersebut tidak membuat laporan resmi.

Halaman
123
Editor: Fatimah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved