Gelapkan Rp 325 Juta, Keuchik Tersangka

Penyidik Reskrim Polres Lhokseumawe menetapkan Pelaksana tugas (Plt) Keuchik Matang Ulim, Kecamatan Samudera

Gelapkan Rp 325 Juta, Keuchik Tersangka
ARI LASTA IRAWAN, Kapolres Lhokseumawe

LHOKSEUMAWE – Penyidik Reskrim Polres Lhokseumawe menetapkan Pelaksana tugas (Plt) Keuchik Matang Ulim, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, sebagai tersangka penggelapan Rp 325 juta Anggaran Pendapatan Belanja Gampong (APBK) 2017 desa setempat. Namun, hingga kini polisi belum berhasil menangkap karena sudah kabur.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Rp 325 juta dari Rp 865 juta APBG tahun 2017 di Desa Matang Ulim dibawa kabur Plt keuchik setempat berinisial ILM. Tersangka juga tercatat sebagai pegawai di Pemko Lhokseumawe pada Januari 2018. Eksesnya, proyek pembangunan balai pembelajaran masyarakat, dan dua unit rumah duafa tak bisa direalisasikan.

Informasi yang diperoleh Serambi, kasus tersebut mulai dilaporkan warga ke polisi pada Maret 2018 lalu, setelah mengetahui Rp 325 juta APBG dibawa kabur tersangka. Dalam proses penyidikan, polisi juga sudah memanggil sejumlah saksi dari warga dan aparat desa setempat untuk dimintai keterangan guna mendalami kasus itu.

Lalu, setelah menemukan bukti yang cukup, polisi langsung menetapkan Plt keuchik sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Kendati sudah ditetapkan sebagai, tapi polisi belum berhasil menangkap tersangka karena sudah kabur sejak setahun lalu. “Keuchiknya masih kita kejar,” ujar Kapolres Lhokseumawe, AKBP Ari Lasta Irawan melalui Kasat Reskrim, AKP Indra T Herlambang SH SIK kepada Serambi, kemarin.

Menurut Kasat Reskrim, pihaknya sudah meminta Inspektorat Aceh Utara untuk menghitung realisasi fisik guna mendapatkan berapa kerugian negara dalam kasus tersebut. “Inspektorat Aceh Utara yang menghitung kerugian fisik. Sudah ada kerugian negara sekitar Rp 300 juta lebih,” ujar AKP Indra T Herlambang.

Pada sisi lain, Kasat Reskrim secara terbuka mengakui, pihaknya sudah banyak memanggil saksi dalam kasus tersebut guna dimintai keterangan. Namun, untuk tersangka baru satu orang. AKP Indra menegaskan, untuk penetapan Plt Keuchik sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) sudah dapat dilakukan, karena sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Kasus itu mulai terungkap setelah dilantik keuchik baru pada 21 Januari 2018. Namun, setelah pelantikan keuchik baru, ILM yang menjadi Plt keuchik saat itu sudah menghilang dari desa. Dana tersebut ditarik secara bertahap mulai dari 24 Agustus sampai 29 Desember oleh bendahara, dan kemudian diserahkan kepada Plt keuchik. Ini diketahui berdasakan hasil print tabungan giro desa.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved