Salam

Hargai Masa Tenang!

Kampanye pemilihan umum (Pemilu) 2019 yang berlangsung sejak delapan bulan lalu, kini memasuki masa tenang

Hargai Masa Tenang!
Dok: KIP Langsa
Masuki Minngu tenang Pemilu, seribuan warga ikuti 'Langsa Berzikir' di Lapangan Merdeka Langsa. 

Kampanye pemilihan umum (Pemilu) 2019 yang berlangsung sejak delapan bulan lalu, kini memasuki masa tenang. Terhitung pukul 00.00, Minggu, tanggal 15 April 2019, masa kampanye terbuka dan kampanye dalam bentuk apa pun bagi semua peserta pemilu sudah berakhir.

Selanjutnya, tahapan Pemilu 2019 memasuki masa tenang, terhitung sejak 14-16 April atau selama tiga hari sebelum hari pencoblosan pada 17 April 2019.

Sebagaimana diberitakan Serambi kemarin, selama masa tenang ini, semua peserta Pemilu 2019 dilarang melakukan kampanye dalam bentuk apa pun. Apakah itu kampanye terbuka, tatap muka (dialogis), termasuk dalam bentuk pertemuan-pertemuan terbatas.

Tidak hanya itu, para peserta Pemilu 2019 maupun timses atau simpatisannya juga tidak boleh lagi kampanye di media sosial, seperti sebelumnya.

Sejalan dengan itu, para peserta pemilu atau timsesnya juga diminta untuk segera membongkar atau menertibkan semua alat peraga kampanye (APK) yang selama ini dipasang di daerah pemilihan masing-masing kontestan.

Komisioner Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh, Akmal Abzal SAg telah mengingatkan melalui Harian Serambi Indonesia kemarin bahwa semua alat peraga kampanye peserta Pemilu 2019 harus dibuka atau diturunkan, mengingat masa kampanye telah berakhir dan kini kita masuki masa tenang.

Masa tenang memang berbeda istilahnya dengan minggu tenang. Pada saat Orde Baru dulu berkuasa, kita sangat akrab dengan istilah minggu tenang yang lamanya memang satu minggu (tujuh hari).

Tapi setelah pergantian rezim dan pilpres maupun pilkada dilakukan secara langsung, istilah minggu tenang diganti menjadi masa tenang. Nah, masa tenang itu lamanya hanya tiga hari, bukan lagi seminggu. Masa yang tiga hari inilah yang harus benar-benar dipatuhi dan dihargai oleh setiap peserta pemilu. Jadikanlah masa yang hanya tiga hari ini untuk “puasa kampanye”. Tahan diri dari aktivitas apa pun yang berbau kampanye politik di media cetak, elektronik, dan media online (daring), termasuk di media sosial.

Masa kampanye yang lamanya delapan bulan sudah lebih dari cukup untuk memengaruhi dan meyakinkan calon konstituen agar memilih dirinya atau paslon capres tertentu pada 17 April lusa. Oleh karenanya, jangan lagi berkampanye dalam bentuk apa pun pada masa terlarang ini. Ingatlah bahwa pelanggaran terhadap masa tenang bisa menyebabkan caleg atau paslon capres digugurkan haknya sebagai peserta pemilu, bahkan bisa dipidana. Buzzer politik yang kampanye di masa tenang jelas bisa dipidana sebagaimana diatur pada Pasal 523 ayat (2) juncto Pasal 278 ayat (2) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. Ancaman hukuman bagi pelanggar larangan tersebut adalah dipidana penjara paling lama empat tahun dan denda paling banyak Rp 48 juta.

Selain itu, melalui Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU), komisi tersebut mengatur tentang larangan berkampanye di media sosial sebagaimana tertuang di dalam Pasal 53 ayat (4) PKPU Nomor 23 Tahun 2018.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved