Opini

Melihat ‘Antusiasme’ Pilpres 2019

ANTUSIASME menurut KBBI berarti; kegairahan, gelora, semangat, minat yang besar terhadap sesuatu

Melihat ‘Antusiasme’ Pilpres 2019
IST
Cut Zamharira, S.IP., M.AP, Staf Pengajar Prodi Ilmu Administrasi Negara FISIP UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Oleh Cut Zamharira, S.IP., M.AP, Staf Pengajar Prodi Ilmu Administrasi Negara FISIP UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

ANTUSIASME menurut KBBI berarti; kegairahan, gelora, semangat, minat yang besar terhadap sesuatu. Kondisi seperti ini biasanya dilatarbelakangi oleh besarnya harapan, rasa senang pada momen atau objek yang dinantikan oleh seseorang. Misalnya, ketika menjelang Ramadhan tiba, umat muslim menyambutnya dengan berbagai persiapan, termasuk hari meugang di Aceh. Sama halnya seperti mahasiswa yang akan diwisuda, sekian tahun melalui perjuangan, tentu persiapan menjelang hari H dilakukan jauh-jauh hari dengan penuh antusias.

Antusiasme pada hal-hal kebaikan sangat dianjurkan dalam agama Islam, baik kebaikan yang berhubungan kepada Allah maupun kepada manusia, sebagaimana firman-Nya, “...berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148). Sebaliknya, berlomba-lomba dalam keburukan atau kejahatan adalah perbuatan terlarang, baik dari sisi agama maupun negara.

Pada 17 April 2019 nanti, Indonesia akan mengadakan pemilihan presiden dan wakil presiden (Pilpres) serta pemilihan anggota legislatif (Pileg) periode 2019-2024. Pemilu tahun ini menjadi yang pertama kalinya pilpres dan pileg dilakukan serentak (detik.com, 2019). Segala persiapan menjelang hari tersebut sudah dilakukan berbagai pihak, baik pemerintah, calon anggota legislatif, partai politik (parpol), serta masyarakat Indonesia.

Pemerintah memastikan ketersediaan anggaran pelaksanaan pemilu dan keamanan menjelang dan saat pemilihan umum. Calon legislatif beserta timsesnya berkampanye dari daerah ke daerah, mencetak berbagai atribut kampanye dan memajang spanduk di lokasi-lokasi yang dianggap strategis. Sebanyak 20 parpol (16 partai nasional dan 4 partai lokal) akan ikut dalam elektoral 2019 ini.

Sedangkan masyarakat terbagi atas beberapa model. Ada yang terus mengakses informasi mulai dari mencari tahu track record calon presiden dan caleg, baik melalui media cetak, elektronik dan online, serta menonton debat capres untuk melihat sejauh mana visi dan misi masing-masing capres, guna menentukan pilihan. Model seperti ini pun terbagi lagi; ada yang fanatik pada satu calon, sangat antusias mencari-cari kesalahan lawan dan menyebar apapun berita yang sekiranya menguntungkan sebelah pihak, sekaligus menjatuhkan lawan.

Namun ada pula yang sudah mempunyai pilihan, akan tetapi menghindari perdebatan yang menurut logikanya tidak penting, dan ia telah terbekali literasi digital yang baik. Sedangkan kaum apatis, tidak bergeming dengan euforia pemilu, karena menganggap tidak akan ada perubahan yang signifikan terhadap pembangunan dari hasil pemilu nanti.

Tak terkontaminasi
Manusia sepatutnya lebih mengutamakan otak yang bekerja rasional ketimbang emosi, sehingga pikirannya tidak mudah terkontaminasi. Karena di era milenial ini, kampanye dan dukungan tidak hanya berlangsung di dunia nyata, namun dunia maya pun tak kalah meriahnya. Bahkan menurut pengamatan penulis, justru di dunia mayalah yang lebih semarak menyambut pilpres dan pileg ini.

Menjelang pemilu, muncul “pengamat politik” dadakan, seperti pedagang musiman. Komentar mereka terkadang lebih banyak menyudutkan pasangan lawan dari pada menawarkan solusinya. Ada yang di dunia nyata tidak pernah berbicara dalam forum apapun, bahkan cenderung pendiam, namun di dunia maya sangat gencar beradu argumen.

Ada yang gontok-gontokan demi membela jagoannya, hingga terputus tali pertemanan dan persaudaraan hanya gara-gara beda pilihan. Melek politik itu perlu, bahkan penting, tapi jangan konyol. Di dunia nyata, seseorang membutuhkan waktu minimal 3,5 tahun untuk menjadi sarjana ilmu politik. Belum lagi untuk melanjutkan ke jenjang master, doktor. Akan tetapi di dunia maya, siapa pun dalam sekejap menjadi “sarjana, master, doktor, bahkan profesor di bidang politik”.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved