Pemko Bantu Pelaku Usaha Mikro

Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman menyatakan, kehadiran Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS)

Pemko Bantu Pelaku Usaha Mikro
IST
WALI Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, menandatangani naskah peluncuran Tabungan Qurban dan Tabungan Umrah LKMS Mahirah Muamalah Syariah, di Balai Kota 

* Lewat LKMS

BANDA ACEH - Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman menyatakan, kehadiran Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) di Kota Banda Aceh kini sangat dirasakan para pelaku usaha mikro dan kecil. Pasalnya, mereka bisa mendapatkan tambahan modal usaha dengan mudah, tanpa agunan dan tidak memberatkan.

“Nasabah LKMS umumnya adalah nyak-nyak (ibu-ibu) penjual sayur, pembuat dan penjual kue tradisional, pedagang kaki lima dan lainnya yang selama ini meminjam uang dari rentenir,” kata Aminullah kepada Serambi, Minggu (14/4), terkait peran LKMS dalam membantu pelaku usaha mikro dan kecil di Kota Banda Aceh.

Selain mudah dan cepat, katanya, sistem pendanaan yang dijalankan LKMS non-riba karena tidak dikenakan bunga, melainkan bagi hasil. “Kehadiran LKMS sangat dirasakan para pelaku usaha mikro dan kecil. Jumlah anggaran yang disediakan untuk pelaksanaan LKMS sekitar Rp 4 miliar. Dari dana sebesar itu, sudah bisa membantu membebaskan 1.011 orang pelaku usaha mikro dan kecil di Banda Aceh, dari jeratan rentenir,” tandas Wali Kota.

“LKMS telah banyak membantu anak yatim piatu dari putus sekolah. Dengan ada pembiayaan dari LKMS, orang tua anak yatim, bisa kembali berusaha dan berjualan, sehingga anak-anak mereka kembali bersekolah,” tambah Aminullah.

Dana LKMS senilai Rp 4 miliar itu, ungkap Wali Kota, dikelola sebuah perusahaan bernama PT Mahirah, milik Pemko Banda Aceh. Perusahaan itu yang menjalankan LKMS tersebut. Hingga kini jumlah warga nasabahnya terus meningkat.

Sementara itu, Direktur PT Maharih, T Hanansyah mengatakan, sejak awal didirikan beberapa tahun lalu, jumlah nasabahnya hanya berkisar 500 orang. Namun saat ini nasabahnya sudah seribuan orang. Nilai pembiayaan yang diberikan, memang masih rendah antara Rp 500 ribu hingga Rp 5 juta.

“Meski masih rendah, namun pembiayaan itu sudah sangat membantu para pelaku usaha mikro, terutama nyak-nyak pedagang sayur, pedagang kue-kue tradisionil di Pasar Aceh, Pasar Peunayong dan Pasar Kampung Baru, serta ibu-ibu pembuat kue di gampong-gampong yang selama ini mengalami kesulitan modal usaha,” ujarnya.

Penyaluran dana pembiayaan LKMS, kata T Hanansyah, tidak menggunkan agunan, tapi cukup dengan kepercayaan dan kejujuran. Dalam ajaran Islam, dana pembiayaan itu diberikan atas dasar amanah, kepercayaan dan kejujuran penerimanya untuk mengembalikan. Kenapa perlu dikembalikan, karena dana itu akan digulirkan kembali kepada orang lain yang membutuhkannya.

“Dana LKMS itu, kita gulirkan seperti bola salju. Mulai dari bulatan yang kecil sampai menjadi bulatan besar, yang akhirnya ia memberikan kesejahteraan bagi pelaku usaha mikro dan kecil,” pungkas T Hanansyah.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved