Opini

Memberi Suara, Meraih Pahala

EMPAT malam setelah pencoblosan, tepatnya Sabtu malam (20 April 2019) bertepatan 15 Syakban 1440 Hijriah

Memberi Suara, Meraih Pahala
IST
Muhammad Yakub Yahya, Dewan Pengurus TPQ Baiturrahman dan Imam Rawatib Masjid Al-Mukarramah Punge Jurong, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh.

Oleh Muhammad Yakub Yahya, Dewan Pengurus TPQ Baiturrahman dan Imam Rawatib Masjid Al-Mukarramah Punge Jurong, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh.

EMPAT malam setelah pencoblosan, tepatnya Sabtu malam (20 April 2019) bertepatan 15 Syakban 1440 Hijriah merupakan malam Nisfu Syakban. Itulah malam pergantian buku amalan tahunan. Dalam riwayat shahih dari Nabi Muhammad saw, diisyaratkan bahwa sehari dua kali (pagi dan sore), sepekan dua kali (Senin dan Kamis), setahun sekali (malam Nisfu Syakban), amal hamba Allah dinaikkan ke langit, ke sisi Allah Swt.

Saat pergantian buku amalan, dimohon kita awali halaman muqaddimah (pembuka) dengan amal saleh, juga akhiri halaman khatimah (penutup) dengan amal baik. Saat pergantian catatan harian, pagi dan sore, para malaikat pencatat pun saling ganti shift dari tiap kita, juga saat pergantian catatan sepekan dan tahunan, dua pekan jelang Ramadhan. Di antara yang dicatat dalam buku ghaib (dibuka nanti saat kita bangkit) itu, itulah amal kita di Aceh, bersama masyarakat Indonesia, dalam pesta lima tahunan.

Insya Allah, pada Rabu (17/4/2019) ini, pemilu kita meriahkan kembali. Selain pilpres, juga pileg level kabupaten/kota, provinsi, dan pusat. Usai minggu tenang, usai mendengar para kandidat “jual kecap” dan “obral janji”, biar tak tergopoh-gopoh saat masuk ke bilik suara untuk nyoblos, di tempat pemungutan suara (TPS), tips ini moga berkenan. Agar panitia, pengawas, pemilih, kandidat, dan simpatisan semua berpahala. Sebab buru-buru dan tergesa-gesa, itu tabiat setan; perlahan-lahan itu sifat malaikat.

Pagi baik siang Syakban, dengan langkah yang pasti dan nurani yang yakin, bagi yang telah diundang, keluarlah dari halaman rumah. Bismillah, masuklah ke arena pemungutan suara, baik pemilih, aparat, dan golput. Mungkin acara di lapangan bola, tanah lapang, halaman sekolah, depan meunasah, atau muka masjid. “Jika ragu-ragu, silakan pulang saja,” begitu anjuran yang pernah kita baca dari balik lapangan latihan, milik tentara dan polisi.

Bismillahirrahmanirrahim, satu ayat Allah. Amalan dinilai dengan nama Allah. Andai belum karena nama Dia, belum tulus, bukan lillah, itu riya dan pamer, sia-sia belaka. Dalam ibadah ritual dan sosial, sama saja. Basamalah dengan lisan atau di hati. Capek di bawah terik, habis dana dan daya untuk teriakan, yang ada cuma minumam gratis, pahala malaikat tak ada.

Tatkala nyoblos, jika belum dapat undangan, tapi kita sudah masuk calon pemilih baku, datang juga dengan membawa isi dompet: identitas lain. Moga diizinkan “tusuk” foto kandidat. Jika belum yakin pada calon mana pun, lambang apa pun, balik kanan dan pulang saja. Atau simak saja siaran langsung televisi di warung kopi. Ini baik, daripada cuma nanti bikin emosional sendiri di kerumunan, pagi hingga siang. Atau ini bagus daripada merusak surat suara: tidak sah. Memilih hanya hak, bukan kewajiban, yang tentu dijamin oleh aturan negara. Juga tidak memilih, atau tidak datang ke lokasi pesta itu, juga dijamin oleh hukum negeri.

Memotivasi diri
Jika belum mengerti, tanyai pada panitia pemungutan suara atau petugas linmas. Sebab ada anggaran negara bagi mereka untuk melayani kita. Bukan pula bertanya pada orang partai atau kandidat yang dag dig dug itu. Sebab jawaban nanti akan berbeda. Ini ayat pertama: awali, motivasikan diri, semangati diri atas semua urusan, sejak bangun tidur, kecil atau besar, akhirat atau dunia, asal baik dan jroh, termasuk pemilu dengan basmalah, ini adab yang pertama.

Adab kedua, jika sudah selesai urusan apa pun, yang baik-baik, dunia atau akhirat, besar atau kecil dengan ucapan alhamdulillah. Kalimat pujian hamdalah itu, awal mula dari langkah syukur. Ini juga penggalan ayat-Nya. Kalau kita pelit dengan sekadar sekali saja hamdalah, alhamdulillahi rabbil ‘alamin, betapa kita bisa bersyukur dengan nikmat yang banyak nanti. Jangan sampai begini, kalau kalah kita salahkan, itu takdir, tapi manakala menang, kita bilang itu kemampuan saya. Jika memang nanti yang menang itu, kandidat yang kita jagokan, jalan syukur nikmat masih panjang.

Barangkali kesyukuran itu berupa ketaatan pada produk hukum dan pengawasannya. Jangan memancing dan memanas-manasi mereka yang duduk di ruang dingin dengan tumpukan proposal acara dan jalan pintas murahan. Mungkin juga patuh setia pemilih, selama anggota dewan yang terhormat itu, taat dan setia pada Allah. Termasuk syukur itu menegur dan meluruskan jalannya jika tergelincir. Bangunkan dengan lembut atau keras, jika anggota dewan tidur lelap. Atau terlalu banyak mimpi. Kandidat yang menang, wajib banyak ruku’ dan sujud, lebih lama dan banyak daripada sebelumnya. Sebab dosa sebuah jabatan itu tambah banyak.

Maka adab ketiga adalah astaghfirullah. Istigfar itu wajib bagi pemilih, golput, dan yang dipilih, baik menang apalagi yang kalah. Sebab sejak genderang kampanye ditabuh, buruk sangka, umpat, tabur janji itu subur benar. Kelak yang kalah mungkin akan mengambinghitamkan siapa pun, termasuk aturan, lawan main, panitia, pemilih, dan saudaranya yang menang. Tak mungkin kita hidup tanpa istigfar. Sebab nabi pun yang ma’shum, ribuan kali meminta ampun pada Allah. Istigfar, astaghfirullahal ‘azhim itu, di samping ampun dosa juga tambah rezeki.

Adab keempat itu membaca innalillah, kalimat istirja’. Penggalan ayat Allah ini, bukan hanya kita hayati saat mendengar orang meninggal, tapi lebih serius dari itu: kehilangan materi, kematian, ketakutan, krisis, kemarau, banjir, bahkan bocor kereta, kita sering baca inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Ini pula satu peket kehidupan kita: senan, susah, dan salah. Saat senang dan menang, syukur. Kala susah dan kalah, sabar dan tegar. Dan manakala salah, taubat setiap pagi dan petang. Menang dan kalah, inna lillaah.

Ujaran kelima, insya Allah. Ini akan sedikit mengurangi nilai kemunafikan kita, bagi yang doyan mengarang janji. Jangan buat rencana, progran, kemauan, kehendak, petisi, atau “akan-akan” dalam tipe apa pun, denga siapa pun, kapan pun, tanpa dibingkai dengan makna penggalan ayat “jika Allah menghendaki”, insya Allah Ta itu. Tak pula boleh kita permainkan kata itu, jika memang kita tak berdaya.

Demikianlah lima zikir yang mesti kita lazimkan, internalisasi, hayati, rasuki, dan imani, menurut Abu Laits As-Samarqand --dari Samarqandi, negeri yang bertetangga dengan kampung Imam Bukhari (Bukhara)-- ditambah dengan corak zikir lain, dengan lisan dan hati, misalnya kalimat hawqalah (la hawla wala quwwata illa billah) dan tahlil (la ilaha illallah). Sebab hakikat zikir itu dalam hati. Jika obat dokter dan apotek sudah tak cocok, maka obat hati di atas ini, pemilu atau usai pesta demokrasi, dengan izin Allah akan mujarab. Moga jiwa raga yang menang akan tetap terhormat, dan bagi yang belum menang (bukan kalah), kalbu-nya akan damai dan syahdu. Insya Allah. (myakubyahya2018@gmail.com)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved