Nyala Heroisme dari Kerkhof

DIBANGUN sejak 1880, Kerkhof menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi lebih dari 2.200 serdadu Hindia Belanda

Nyala Heroisme dari Kerkhof
SERAMBI/BEDU SAINI
KOMUNITAS seniman Apotek Waruena melukis mural di tembok gerbang pemakaman Kerkhoff Peucut, Banda Aceh, Minggu (31/3). Mural tersebut dengan inmemorial maklumat perang Belanda terhadap Kerajaan Aceh. 

DIBANGUN sejak 1880, Kerkhof menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi lebih dari 2.200 serdadu Hindia Belanda. Bangunan yang dirintis oleh Pemerintah Belanda itu, menjadi saksi dahsyatnya perang yang berkecamuk di provinsi yang menjadi ‘daerah modal’ republik ini. Kerkhof sendiri berasal dari Bahasa Belanda, yang berarti halaman gereja atau kuburan. Oleh Pemerintah Belanda selaku penyandang dana, mempercayakan Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) menjaga kondisi makam.

Nah! Jika Anda menyambangi Kerkhof sekarang, maka akan mendapati dinding yang dulunya kusam menjadi semarak dengan mural. Seperti pemandangan yang terlihat saat Serambi menyambangi Kerkhof, Selasa (16/4). Adalah ‘Apotek Wareuna’ Komunitas muralis ‘menyulap’ sisi dinding yang dulunya terlihat bermuram durja menjadi lebih hidup.

“Mural tersebut bercerita tentang peringatan perang Aceh 13 April 1873, tatkala penjajah Belanda mengeluarkan ultimatum. Kami sudah menyiapkan 30 mural bertema perjuangan, untuk dilukiskan di dinding Kerkhof,” beber Kasi Pelestarian Cagar Budaya Disbudpar Aceh, Yudhi.

Ia menjelaskan, pihak Yayasan Dana Peucut (Stichting Peutjut Fonds) menyambut baik gagasan tersebut. Pun begitu, kata Yudhi, meski sudah mempunyai konsep dan menggandeng komunitas muralis, keberlanjutannya masih menunggu anggaran. Digarap sejak 8 Maret 2019, pengerjaan mural tersebut sementara dianggap selesai.

Dipilihnya mural, kata Yudhi, karena seni rupa tersebut tengah digandrungi oleh warga kota. Sehingga dipandang cukup efektif menjadi pengingat sejarah, khususnya dalam menyampaikan pesan kepada kawula muda.

Hingga kini, kompleks makam terawat baik, dengan batu nisan berbalut cat putih di tengah taman bunga. Mengutip almarhum Sejarawan Aceh, Rusdi Sufi, kala itu lahan tempat makam serdadu militer Belanda tersebut dibeli dari seorang Yahudi yang menjadi tuan tanah di kawasan Blower, Banda Aceh.

Selain menjadi tempat pengistirahatan terakhir bagi sebagain besar tentara Kerajaan Hindia Belanda, dalam area perkuburan itu juga terdapat makam Putra Mahkota Sultan Iskandar Muda, yaitu Pangeran Pho-tu-tjoet yang konon dihukum mati oleh sang ayah. Keberadaan pemakaman itu pernah diusik dengan dirusaknya belasan nisan oleh orang tak dikenal (OTK) pada pertengahan tahun lalu. Namun sekelumit kisah semasa hidup setiap jasad yang bersemayam di Kherkof, dinukilkan pada batu nisan. Seakan batu-batu itu menuturkan cerita si pemilik nisan.(nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved