Jurnalisme Warga

Keindahan Alam dan Kuliner di Barat Aceh

CALANG, ibu kota Kabupaten Aceh Jaya, hampir setiap Sabtu dan Minggu sepi. Sebagian warganya yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS)

Keindahan Alam dan Kuliner di Barat Aceh
IST
Mustafa Ibrahim Delima Pegawai di BPS dan anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Aceh Jaya 

Mustafa Ibrahim Delima
Pegawai di BPS dan anggota
Forum Aceh Menulis (FAMe)
Chapter Aceh Jaya

CALANG, ibu kota Kabupaten Aceh Jaya, hampir setiap Sabtu dan Minggu sepi. Sebagian warganya yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS) dan pedagang, memilih menghabiskan hari liburnya ke Banda Aceh, Meulaboh atau pulang kampung halaman masing-masing.

“Sabtu-Minggu di Calang, sepi bang. Penduduk Calang rata-rata pendatang, ketika libur biasanya mereka pulang ke kampung masing-masing. Ada yang ke Banda Aceh dan ada juga ke Meulaboh,” kata Ferdy, kolega saya asal Lamno yang bertugas di Kankemenag Aceh Jaya.

Sebagai seorang pendatang yang bertugas di BPS Aceh Jaya, biasanya saya juga memilih pulang kampung di Sigli, pada setiap akhir pekan. Tapi pada Sabtu dan Minggu kemarin (13-14 April 2019), saya dan Pak Amir Fadhly --atasan saya yang juga baru pindah tugas ke BPS Aceh Jaya yang sebelumnya bertugas di BPS Kota Langsa-- berkesempatan mengeksplor spot-spot wisata yang ada di Aceh Jaya dan Meulaboh. “Sebagai orang statistik, kita harus tahu banyak tentang potensi-potensi yang dimiliki daerah tugas kita ini,” kata Pak Amir.

Pagi Sabtu (13/4) itu pun, kami berangkat dari Calang menuju Melaboh, Aceh Barat. Sepanjang perjalanan, terhampar kebun sawit dan lahan gambut. Jalannya yang lurus dan mulus sepanjang 88 kilometer bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Hanya di beberapa titik, kita harus hati-hati karena banyak sapi yang menyeberang jalan.

Menikmati ‘kupi khop’
Sesampai di Meulaboh, tempat pertama yang kami kunjungi adalah warung kopi kupi khop Pante Keunangan, di Kuta Padang yang masih termasuk dalam kawasan kota Meulaboh. Warung kopi berupa sebuah café sederhana yang terbuat dari kayu ini persis di pinggir sungai Kuta Padang, dengan hamparan halaman yang luas.

Pohon-pohon waru yang tumbuh dimanfaat para pengunjung untuk memarkir mobil dan sepeda motor. Tempat duduk pengunjung dibuat gazebo-gazebo kecil yang mampu memuat 3-6 orang. Ada belasan gazebo di sana. Saya dan Pak Amir, memesan kupi khop biasa, yaitu bubuk kopi yang diseduh dengan air panas dan disajikan dalam gelas terbalik tanpa ditambah susu.

Untuk menyeduhnya disediakan sedotan atau dengan mengangkat piring alas gelas kopi. Ada yang mengatakah gelas terbalik ini terinspirasai dari kupiah meukeutop Teuku Umar, Pahlawan Nasional asal Aceh itu. Bagi yang tidak suka kopi, jangan khawatir, kelapa muda dan sari tebu juga tersedia di sini.

Bagi anda yang suka susu, bisa juga memesan kupi khop susu, atau kupi khop dingin, tentu dengan harga yang sedikit berbeda. Selain kupi khop, juga ada Mie Aceh dan lontong kacang. Kupi khop panas dan Mie Aceh, menemani suasana siang kami di Kota Meulaboh.

Puas menikmati keindahan alam dan nikmatnya kuliner khas Aceh Barat itu, kami pun kembali ke Aceh Jaya. Setelah Shalat Asar di Masjid Teunom, kami singgah di Simpang Padang Kleng, menikmati kupi ie jok (kopi nira), yang di Banda Aceh dikenal dengan Nirapresso. Bedanya, kopi nira di sini diseduh secara sederhana dengan air nira yang sedang mendidih.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved