Opini

Menyoal Sertifikasi Halal di Aceh

ACEH kembali mendapat penghargaan nasional sebagai destinasi wisata halal (Serambi, 10/4/2019). Penghargaan yang dianugerahkan

Menyoal Sertifikasi  Halal di Aceh
IST
Dr. Munawar A. Djalil, M.A. Pegiat dakwah dan pemerhati pemerintahan Dr. Asmawati, M.A. Alumni Ph.D Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) dan ASN di lingkungan Pemerintah Aceh

Dr. Munawar A. Djalil, M.A.
Pegiat dakwah dan pemerhati pemerintahan

Dr. Asmawati, M.A.
Alumni Ph.D Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) dan ASN di lingkungan Pemerintah Aceh

ACEH kembali mendapat penghargaan nasional sebagai destinasi wisata halal (Serambi, 10/4/2019). Penghargaan yang dianugerahkan oleh Menteri Pariwisata RI itu patut diapresiasi, sekaligus sebagai bukti adanya kepercayaan dan harapan besar pemerintah pusat kepada Aceh dalam rangka memperkuat positioning Aceh sebagai destinasi wisata yang layak dikunjungi wisatawan.

Sebagaimana diketahui, Aceh telah meraih tiga penghargaan sekaligus dalam Kompetisi Pariwisata Halal tingkat Nasional pada 2016 lalu, yakni kategori Airport Ramah Wisatawan Muslim Terbaik (Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda), Destinasi Budaya Ramah Wisatawan Muslim Terbaik, serta Daya Tarik Wisata Terbaik (Masjid Baiturrahman Banda Aceh).

Kepercayaan tersebut, tentunya harus dilaksanakan dengan tanggung jawab, komitmen, dan usaha yang kuat. Ini adalah awal dari sebuah kerja besar, Pemerintah Aceh perlu segera menyiapkan Qanun Wisata Halal hingga pembangunan infrastruktur dan instrumen lainnya yang benar-benar mendukung terwujudnya destinasi halal.

Hemat penulis, satu instrumen penting yang belum menjadi perhatian Pemerintah Aceh, tetapi sangat esensi, yaitu menyediakan makanan halal di Aceh. Karena makanan atau kuliner adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan wisata, atau lebih luas makanan merupakan kebutuhan dasar yang di manapun akan dicari dan dinikmati oleh masyarakat.

Kebanyakan kita mungkin masih beranggapan bahwa makanan adalah sesuatu yang hanya berkaitan dengan cita rasa dan rasa kenyang saja. Bahkan, kita suka mencari dan menginformasikan kepada saudara dan teman-teman kedai atau tempat yang menyediakan makanan yang lezat dan nikmat. Tetapi kita sering lupa bahwa makanan halal menjadi syarat penting yang mesti diperhatikan oleh kita sebagai seorang muslim.

Soal makanan
Dalam Alquran dengan jelas Allah Swt memerintahkan manusia untuk memperhatikan soal makanan ini dengan firman-Nya, “Makanlah (wahai orang yang beriman) dari apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kamu dari yang halal lagi baik (halalan thayyiban), dan bersyukurlah akan nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah Dia semata-mata.” (QS. Al-Maidah: 88).

Ayat ini dengan jelas menyebutkan hubungan yang kuat antara memakan makanan yang halal lagi baik dengan aspek ketaatan kita kepada Allah Swt. Dalam kaitan wisata halal di Aceh, maka ketersediaan makanan halal sepatutnya menjadi perhatian utama Pemerintah Aceh, jika ingin bersaing di sektor halal global.

Islam secara jelas telah memberi panduan tentang makanan yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat muslim dengan konsep halalan tayyibah. Konsep halal di sini menunjukkan bahawa makanan yang kita makanan mestilah makanan yang halal secara syar’i, seperti binatang yang halal dimakan dan disembelih dengan menggunakan asma Allah, bersih dan berkhasiat. Sehingga ketika kita memakannya kita mendapatkan rasa “aman”, yaitu aman dari siksaan Allah dan aman dari keburukan di dunia (berbagai penyakit). Thayyib menunjukkan kebaikan-kebaikan yang terkandung dalam makanan yang memberi manfaat kepada tubuh, termasuk gizi, vitamin, kalsium, mineral dan sebagainya.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved