Salam

Pemilu Penting, Namun Persatuan Lebih Penting

Di tengah berbagai spekulasi dan saling klaim hasil pemilu dan efeknya, ada seruan menarik yang dikeluarkan Rabithah Alawiyah

Pemilu Penting, Namun  Persatuan Lebih Penting
Tribun Jogja/ Suluh Pamungkas
Ilustrasi Pemilu 

Di tengah berbagai spekulasi dan saling klaim hasil pemilu dan efeknya, ada seruan menarik yang dikeluarkan Rabithah Alawiyah. Organisasi Islam yang menjadi wadah resmi habib se-Indonesia, melalui ketua umumnya, Habib Zen Bin Smith menegaskan bahwa organisasinya tidak terkait dengan urusan politik praktis. Namun sebagai bagian dari anak bangsa yang cinta negara, Rabithah selalu peduli dengan kepentingan politik kebangsaan. “Apa pun hasil pemilu, kita tetap harus berpegang pada semangat ukhuwah. Pemilu penting, tetapi yang lebih penting adalah persatuan kita sebagai satu bangsa.”

Terlepas dari apapun hasil yang diumumkan kelak, Rabithah berharap KPU tetap menjaga keadilan dan kejujurannya dalam penyelesaian perhitungan suara. Juga seluruh masyarakat untuk tetap menjaga persatuan di atas segala perbedaan pandangan. “Jangan lupa bahwa kemenangan yang didapat dengan kejujuran akan sangat berarti bagi kita semua.”

Habib Zen menilai, pemilu atau segala hajatan demokrasi adalah salah satu cara untuk membentuk pemerintahan yang adil dan benar-benar mewakili rakyat, serta memperkokoh persatuan bangsa. Karena tujuannya mulia, maka semua pihak yang terlibat mesti menjalankan peran secara mulia pula. Mulai dari penyelenggara, pengawas, peserta pemilu, hingga pendukung diminta mengedepankan kejujuran dan keadilan demi pemilu yang bermartabat.

Selain itu, kita juga punya catatan penting dari Debat Capres Jokowi dan Prabowo pada 30 Maret 2019. Yakni, keduanya berkomitmen dan bersepakat tak memutuskan rantai persahabatan meski ada perbedaan.

Secara kebangsaan, komitmen keduanya bisa diartikan keinginan kuat menjaga persatuan dan kebersamaan. Inilah modal penting bagi seluruh anak bangsa untuk selalu menjaga kesatuan dan persatuan, dan menghindari perpecahan. Komitmen itu –bila tak diingkari– tentu menjadi semangat dan patut dicontoh oleh seluruh anak bangsa. Kebersamaan, persaudaraan, serta saling menghormati harus selalu menjadi komitmen besar para figur publik. Apapaun yang terjadi, kita harus tetap bersatu. Perbedaan apapun yang ada, kita harus bersama dan terus bersilaturahmi tanpa dibatasi perbedaan apa pun.

Sebagaimana diserukan para cendikiawan dan negarawan, kita memang harus segera merajut persatuan dan kesatuan, terutama pasca-Pemilu 2019, seiring ada gejala keretakan karena memiliki perbedaan pilihan. Di masa sebelum pencoblosan terlihat banyak perselisihan menyangkut pilihan politik. Hal itu wajar terjadi dalam demokrasi asalkan dikelola dengan baik.

Mantan Menteri Pertahanan dan juga Ketua MK, Prof Dr H Mahfud MD mengatakan, daya rekat bangsa Indonesia, begitu kuat sejak masa lalu. Hal itu seharusnya menjadi modal agar masyarakat dapat semakin dewasa dalam mengelola perbedaan itu agar tidak berlarut-larut.

Ya, sejak awal kita semua sudah sepakat bahwa Pemilu bukan ajang perang, tapi momentum menentukan arah pembangunan Indonesia ke depan. Momentum untuk mendapatkan pemimpin Indonesia yang amanah dan bela rakyat. Seluruh anak bangsa tentu bersepakat pemilu harus berjalan damai, jujur dan adil. Juga harus menggembirakan. Menggembirakan bagi rakyat karena menyambut hadirnya presiden dan wakil presiden yang amanah, mampu meningkat ekonomi rakyat, memberantas kemiskinan, pengangguran, dan menjamin harga kebutuhan pokok yang terjangkau oleh rakyat kebanyakan.

Kita mengimbau dan mengingatkan semua elemen masyarakat agar tidak menghiraukan pernyataan maupun manuver kelompok-kelompok tertentu yang ingin membangun persepsi kegentingan atau ketegangan pasca Pemilu 2019.

Semua elemen bangsa harus menjaga agar situasi di negeri ini kondusif. Jangan selalu berbicara permusuhan. Masyarakat memposisikan Pemilu 2019 sebagai pesta demokrasi sehingga harus dinikmati dengan suka cita dengan menghindari gesekan yang bisa menimbulkan perpecahan.

“Harapan kita pesta demokrasi jangan dijadikan ajang yang berdarah-darah, yang menang jangan sombong yang kalah jangan bermusuhan. Perbedaan pendapat dan pilihan boleh-boleh saja, tetapi persatuan bangsa dan kebersamaan harus lebih diutamakan,” kata Ketua DPR-RI Bambang Soesatyo. Nah!?

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved