Citizen Reporter

Pesta Demokrasi Rakyat Indonesia di Thailand

Tahun ini merupakan kesempatan kedua bagi saya untuk memilih presiden dan wakil presiden baru. Uniknya, tahun ini saya mendapat kesempatan ikut pemilu

Pesta Demokrasi Rakyat Indonesia di Thailand
IST
NADIA ISNAINI, alumnus Program Studi Farmasi Unsyiah dan kandidat Master Bidang Cosmetic Sciences di Prince of Songkla University, melaporkan dai Thailand

NADIA ISNAINI, alumnus Program Studi Farmasi Unsyiah dan kandidat Master Bidang Cosmetic Sciences di Prince of Songkla University, melaporkan dai Thailand

Tahun ini merupakan kesempatan kedua bagi saya untuk memilih presiden dan wakil presiden baru. Uniknya, tahun ini saya mendapat kesempatan ikut pemilu di luar negeri. Sama halnya di Indonesia, seluruh rakyat Indonesia yang berada di luar negeri pun tetap mendapatkan hak pilihnya secara adil seperti kami di Thailand.

Di Thailand, terdapat kurang lebih 2.000 warga Indonesia. Masyarakat Indonesia yang berada di bagian utara Thailand terdaftar untuk memilih di Bangkok, sedangkan yang berdiam di bagian selatan terdaftar di Songkhla.

Saya sendiri terdaftar di Songkhla sebagai pemilih tetap sejak setahun terakhir karena tempat tinggal saya berjarak ± 1 jam dari Songkhla. Uniknya, penyaluran hak pilih di luar negeri tidak hanya dengan datang langsung ke tempat pemungutan suara (TPS), tapi terdapat juga kotak suara keliling (KSK) dan pos. Hal ini dikarenakan tidak semua masyarakat Indonesia berdomisili dekat dengan TPS sehingga untuk tidak menyulitkan dalam penyaluran hak suaranya, mereka bisa memilih pos yang surat suaranya akan dikirimkan minimal 30 hari sebelum pemilihan di TPS dan KSK.

Uniknya, para tim yang tergabung dalam KSK mendatangi satu per satu pemilih langsung ke tempatnya untuk penyaluran hak suara mereka.

10 April 2019 merupakan tanggal yang dipilih untuk pemilu di Thailand, tapi perhitungan suara akan dilakukan bersamaan dengan pemilu di Indonesia, yaitu 17 April 2019. Walaupun sudah disediakan sistem pos dan KSK untuk pemilih yang berada jauh dari TPS, tapi TPS masih memiliki jumlah pemilih tertinggi.

Sejumlah warga Indonesia rela menempuh jarak 4-5 jam menuju ke TPS walaupun sudah disarankan untuk memilih sistem pos atau KSK oleh petugas. Alasannya sungguh luar biasa, “Saya ingin bersilaturahmi dengan masyarakat Indonesia lainnya” atau “Jarang mendapat kesempatan untuk mengikuti pemilu di luar negeri, saya ingin melihat prosesnya.”

Berbeda dengan di Indonesia, TPS luar negeri (LN) buka lebih lama, sejak pukul 08.00-18.00 karena tidak seluruh masyarakat berada di dekat TPS. Bahkan sangat mengharukan lagi, saya melihat beberapa anak buah kapal berlari-lari menuju TPS pada detik-detik penutupan TPS. Saat mereka sampai, seluruh warga Indonesia yang ada di lokasi TPS bersorak untuk semangat mereka dalam menyalurkan hak suara yang luar biasa.

Para petugas bertanya, “Kenapa harus berlari-lari Pak?” Mereka menjawab, “Lima tahun sekali kok. Jadi, harus kami sempatkan demi Indonesia.” Sungguh terharu saya mendengarnya. Di saat seperti inilah saya merasakan bahwa satu suara sungguh sangat berharga untuk kemajuan Indonesia ke depan.

Semoga pemilu di Indonesia yang kemarin berjalan lancar dan tertib dapat menghasilkan presiden dan wakil presiden pilihan rakyat serta para wakil rakyat yang terbaik.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved