Irwandi Pernah Tolak Izin PT Linge Mineral

Gubernur nonaktif Aceh, Irwandi Yusuf, menegaskan, dirinya pernah menolak memberikan persetujuan izin

Irwandi Pernah Tolak Izin PT Linge Mineral
SERAMBI/MAHYADI
Seratusan massa yang terdiri dari mahasiswa, ormas serta OKP menggelar aksi demo menolak rencana penambangan emas di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, oleh PT Linge Mineral Resource 

JAKARTA - Gubernur nonaktif Aceh, Irwandi Yusuf, menegaskan, dirinya pernah menolak memberikan persetujuan izin produksi kepada PT East Asia Mineral, pemegang saham 80 persen pada PT Linge Mineral, perusahaan tambang yang beroperasi di Kecamatan Linge, Aceh Tengah.

Pengakuan Irwandi Yusuf itu disampaikan sehubungan dengan hebohnya penolakan masyarakat terhadap izin usaha pertambangan di bumi Aceh termasuk Kecamatan.Linge Aceh Tengah.

“Tidak sah. Hana rekomendasi gubernur. Pernah mereka (PT East Asia dan Bupati Aceh Tengah) datang menghadap saya antara 2009 dan 2010, minta persetujuan izin produksi. Saya tolak. Saya katakan, untuk memberi makan 5 juta rakyat Aceh kami belum merasa perlu menggaruk simpanan emas kami dalam perut bumi. Masih banyak resource lain untuk kehidupan rakyat,” tulis Irwandi Yusuf mengenai penolakan tersebut melalui pesan yang dititipkan melalui fasilitas rekannya yang berkunjung ke rumah tahanan KPK. Irwandi ditahan terkait dengan proses hukum tindak pidana korupsi.

Menurut Irwandi, selang beberapa waktu kemudian, datang lagi delegasi PT East Asia, tapi tetap ditolak memberi persetujuan izin. “Jadi, si bupati sepertinya sudah duluan bikin surat izin, baru kemudian menghadap rame-rama kepada saya untuk minta rekom,” ujarnya.

Irwandi Yusuf menambahkan, masa pemerintahannya pada 2007-2012, mengusulkan tutupan hutan 60-65 persen, tapi kemudian dikoreksi menjadi 45 persen pada pemerintahan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf. “Dulu aku mengusulkan tutupan hutan 60 atau 65% dalam rencana tata ruang Aceh, tapi kemudian dikoreksi oleh pemerintahan setelahnya,” ujar Irwandi.

Akibatnya beberapa kawasan hutan lindung berubah jadi areal penggunaan lain atau APL. “Tapi untungnya, Menhut dan LH menolak perubahan tersebut,” tutup Irwandi Yusuf.

Sebelumnya dari Dataran Tinggi Gayo Aceh Tengah, Jaringan Anti Korupsi Gayo (Jang-Ko) mempertanyakan peran dan fungsi Wali Nanggroe dalam upaya menyelamatkan hutan Aceh, khazanah kekayaan Aceh, dan pertambangan energi Aceh.

Wali Nanggroe punya fungsi dan peran sebagaimana diatur dalam Qanun No. 8 Tahun 2012 Tentang Wali Nanggroe. “Dalam Qanun ini jelas di sebutkan ada Majlis Hutan Aceh, Majlis Khazanah Kekayaan Aceh dan Pertambangan Energi Aceh untuk melindungi kegiatan eksploitasi hutan Aceh,” kata Koordibator Jang-Ko, Maharadi.

Harusnya Paduka Yang Mulia, Wali Nanggroe bersikap menolak saat kekayaan Aceh dikuasi oleh asing. Kehadiran PT Linge Mineral Resources dan PT Emas Mineral Murni yang beroperasi di Nagan Raya dan Aceh Tengah, merupakan jenis perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA).

Jang-Ko juga meminta Plt Gubernur Aceh juga mengakomodir sikap penolakan dan mencabut izin penambangan pengolahan biji emas oleh PT Linge Mineral Resources proyek Abong di kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.

Disebutkan, PT Linge Mineral Resource, mendapatkan IUP Eksplorasi pada tahun 2009 dengan nomor 530/2296/IUP-EKSPLORASI/2009 dengan luas area 98.143 ha, komoditas Emas DM, di Kecamatan Linge dan Bintang Aceh Tengah. IUP Eksplorasi diterbitkan oleh Bupati Aceh Tengah. Status IUP Eksplorasi PT Linge Mineral Resource adalah CNC. Dari luas tersebut, 19.628 ha berada di KEL dan HL, sisanya 78.514 Ha Hutan Produksi.

Kemudian pada 4 April 2019, PT Linge Mineral Resource menerbitkan pengumuman rencana usaha dan/atau kegiatan dalam rangka studi AMDAL, dengan data sebagai berikut;

- Jenis rencana usaha: Penambangan dan Pengelohan Bijih Emas Dmp
- Luas: 9.684 Ha
- Produksi: maksimal 800.000 ton/tahun
- Lokasi: Proyek Abong, desa Lumut, desa Linge, desa Owaq dan desa - Penarun, kecamatan Linge, Aceh Tengah.

“Kami menolak rencana penambangan biji emas itu, selain merusak lingkungan dan mencemari air dengan limbah, kehadiran perusahaan tidak bermanfaat untuk masyarakat. Kami tidak mau hutan dan alam tempat kami menggantungkan hidup hancur, kami tidak mau situs sejarah Linge hancur, itu tempat sakral suci orang Gayo, Linge itu rumah peradaban kami. Indentitas kami,” tukas Maharadi.(fik)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved