Opini

Menguniversalkan Bahasa Aceh, Mungkinkah?

BAHASA universal adalah bahasa yang dapat digunakan secara global sebagai sarana komunikasi. Pembentukan bahasa universal bertujuan memperkecil

Menguniversalkan Bahasa  Aceh, Mungkinkah?
IST
Azwardi Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).

Azwardi
Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia
FKIP Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).

BAHASA universal adalah bahasa yang dapat digunakan secara global sebagai sarana komunikasi. Pembentukan bahasa universal bertujuan memperkecil miskomunikasi. Beberapa bahasa alamiah, seperti Bahasa Inggris, Prancis, Jerman, dan Mandarin, adalah contoh bahasa yang kini dianggap sudah universal. Sebagian besar bahasa alamiah lainnya tidak dapat berlaku universal karena berbagai faktor, di antaranya karena terbatasnya orang yang menggunakannya.

Di Eropa Barat terdapat hanya satu bahasa yang digunakan oleh kaum intelektual untuk berpikir dan berkomunikasi, yaitu bahasa Latin. Bahasa Latin dapat tersebar karena kejayaan Kekaisaran Romawi yang dibantu oleh pengaruh gereja. Bahasa Latin tidak saja berperan sebagai media pengajaran, tetapi juga satu-satunya bahasa yang diajarkan. Puncak kejayaan bahasa Latin ialah pada abad ke-16. Hal ini disebabkan oleh sangat terbatas orang menggunakannya; hanya kaum cendekiawan yang mengetahui dan menggunakan bahasa Latin.

Selanjutnya, meningkatnya kegiatan ilmiah dalam bentuk pertukaran ide dan hasil penelitian di Prancis dalam bahasa Prancis membuat kedudukan bahasa Latin semakin tergoyahkan. Tahun 1704, ketika Newton menulis karyanya yang berjudul Optick, dia memutuskan untuk menerbitkannya dalam bahasa lnggris. Sejak paruh kedua abad ke-17 bahasa Latin sudah tidak digunakan lagi untuk menerbitkan karya-karya penting. Akhirnya bahasa Latin benar-benar mati.

Satu indikasi matinya suatu bahasa adalah penutur asli (native speaker) bahasa tersebut tidak lagi produktif menggunakan bahanya dalam aktivitas komunikasi sehari-hari. Ketidakproduktifan tersebut tentunya akibat dari persaingan bahasa yang membuat suatu bahasa tergantikan dengan bahasa lainnya. Bahasa Latin misalnya, (yang kini telah benar-benar mati) terkalahkan oleh bahasa Inggris. Selanjutnya, popularitas bahasa Inggris juga tergeserkan oleh kekuatan bahasa Prancis. Kemudian, kejayaan bahasa Prancis pun tergoyahkan oleh nominasi bahasa Jerman.

Geliat positif
Bagaimana perjuangan Bahasa Aceh (BA) mencapai tingkat keuniversalannya? Berdasarkan pengamatan saya, akhir-akhir ini ada beberapa pihak atau komunitas yang peduli akan kebangkitan BA. Fenomena tersebut merupakan suatu geliat positif dari pencinta bahasa ibu BA. Mereka telah meluangkan waktu dan mengontribusikan pikirannya untuk berdiskusi seputar eksistensi BA, baik yang berkaitan dengan kaidah bahasa maupun yang berhubungan dengan realitas pemakaian bahasa oleh masyarakat.

Sebagain ada yang membuat gurup Meurunoe Basa Aceh di jejaring sosial. Sebagian lagi ada yang menyusun semacam kamus berbasis Android BA biar mudah diakses. Sebagian lainnnya ada yang merekayasa website, browser, atau aplikasi-aplikasi lainnya demi akselerasi kebangkitan BA. Ini merupakan bentuk-bentuk upaya yang dilakukan untuk menyelamatkan BA dari kematiannya dan menunda akan kepunahannya. Namun, sayangnya, inisiator-inisiator ini merupakan hamba-hamba la-èh (insan-insan lemah) yang tidak memiliki otoritas publik, political will, apalagi kebijakan anggaran yang dapat membuat program-program briliannya melesat cepat.

Dari diskusi-diskusi yang berkembang, antara lain, teramati bahwa ada indikasi pihak-pihak yang menginginkan BA harus murni seperti yang dipakai oleh nenek moyang (èndatu) zaman dulu, baik kosakatanya maupun tata penulisannnya (ejaan). Ada pula yang sangat apriori dengan pemakaian BA yang berbau modern, meskipun di sisi lain mereka juga tidak dapat melepaskan diri dari menggunakan bahasa yang modern tersebut. Meskipun demikian, tidak sedikit juga yang menginginkan BA ini dapat berkembang menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, yang penting dapat digunakan sebagai alat komunikasi yang dinamis untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang cemerlang ke ruang-ruang publik.

Sebenarnya, keegoan atau ketegaran sikap penutur suatu bahasa dalam mempertahankan suatu bentuk dan kaidah bahasa yang dipakai merupakan salah satu indikator mundurnya, bahkan stagnannya perkembangan suatu bahasa. Misalnya, sikap tidak menerima atau kurang suka dengan pembaruan ejaan, kosakata, dan struktur yang mutakhir dalam BA merupakan penghalang majunya BA. Alih-alih dapat menjadi bahasa yang universal dalam lingkup global atau nasional, dalam skop lokal Aceh pun menjadi teramat sulit. Itulah sebabnya, meskipun pertemuan-pertemuan terkait dengan pemufakatan BA sudah sering dilakukan, sampai saat ini belum ada asuatu formulasi yang konvensional yang mudah dan ikhlas dapat digunakan secara universal di Aceh.

Lihatlah kenyataan, betapa kacaunya penulisan BA pada media-media di ruang publik. Semua ini akibat ketidaksadaran pemakai BA menggunakan bahasanya sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku. Contohnya, lagee (seperti) ditulis lage; peue (apa) ditulis pue atau pu atau peu; cruep (tiarap) ditulis crup atau cruap; phon (pertama) ditulis phoen; boh (buah) ditulis boeh; ureueng (orang) ditulis ureung; ate (hati) ditulis hate; rayek (besar) ditulis rayeuk; nyoe (ya) ditulis nyo; baro (baru) ditulis baroe; pajoh (makan) ditulis pajoeh; ngon (teman) ditulis ngoen; cok (ambil) ditulis coek, soh (kosong) ditulis soeh; lon (saya) ditulis loen, dan lain-lain.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved