Citizen Reporter

Geliat Sastra Kaum Migran di Taiwan

Taiwan merupakan negara favorit kedua tujuan pekerja migran Indonesia setelah Malaysia

Geliat Sastra Kaum Migran di Taiwan
IST
ETTY DIALLOVA, Mahasiswi Sastra Inggris asal Lampung, juri Award Taiwan Literature Award for Migrans (TLAM) 2017 di Taiwan, melaporkan dari Taiwan

OLEH ETTY DIALLOVA, Mahasiswi Sastra Inggris asal Lampung, juri Award Taiwan Literature Award for Migrans (TLAM) 2017 di Taiwan, melaporkan dari Taiwan

Taiwan merupakan negara favorit kedua tujuan pekerja migran Indonesia setelah Malaysia. Berdasarkan data statistik pemerintah, sebanyak 870.000 imigran asing datang ke Pulau Formosa ini. Pemerintah Taiwan sangat mendukung kegiatan para pekerja migran untuk mengisi liburan mereka dengan kegiatan bermanfaat, sebagai bekal pengetahuan dan keterampilan.

Banyak kegiatan positif yang dapat diikuti pekerja migran Indonesia di sini. Salah satunya adalah exit program yang diselenggarakan Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei.

Perkembangan literasi di kalangan pekerja migran juga mendapat perhatian serius dari kalangan penggerak sastra di Taiwan. Salah satunya, Mr Chang Chen. Pemilik Perpustakaan Briiliat Time ini menggagas perlombaan menulis untuk pekerja migran di negara tersebut. Taiwan Literature for Migran (TLAM), perhelatan karya sastra ini, dimulai tahun 2014 dengan peserta pekerja migran dari Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Thailand. Hadiah utama lomba ini berupa uang tunai sebesar NTD 100.000 atau setara dengan Rp 45.800 000 (NTD 1= Rp 458) dan trofi. Purnapekerja migran yang telah pulang ke Indonesia pun masih bisa mengikuti lomba ini. Tahun 2019 merupakan periode keenam Taiwan Literature for Migran digelar. Pihak penyelenggara membuka lebih luas lingkup peserta lomba. Tahun 2018, perlombaan menulis ini diikuti oleh pekerja migran yang berada di Hong Kong, Malaysia, dan Singapura. Pada tahun 2019 penyelenggara menambah Korea dan Jepang ke dalam list peserta. Saat ini perlombaan telah dimulai terhitung sejak 1 Maret hingga 12 Mei 2019. Bahkan acara penyerahan akan diselenggarakan di daerah Alishan, tempat terindah di puncak gunung Taiwan selama dua hari.

Pihak penyelenggara menggelar press conference pada Minggu (24/3/19), sebagai pengumuman resmi perlombaan ini. Hadir sebagai tamu undangan, pemenang TLAM 2017 dari Indonesia, Etty Diallova dan pemenang TLAM 2018 dari Filipina. Perlombaan menulis dengan total hadiah NTD 320.000 atau setara dengan Rp 150. 000 000 ini merupakan perlombaan menulis yang digadang-gadang pekerja migran, khususnya di Taiwan. Selain hadiahnya menggiurkan, pemenang lomba yang berada di luar Taiwan akan didatangkan sekaligus liburan. Taiwan Literature for Migrants sebagai wadah penyalur aspirasi dan keluh kesah pekerja migran yang hidup di perantauan.

Di Taiwan pekerja migran yang dominan di sektor informal harus bekerja selama 24 jam untuk menjaga pasien. Banyak kisah kehidupan yang mereka alami, baik susah, senang, dan gejolak rindu kepada keluarga di kampung halaman.

Penggagas perlombaan sastra Chang Chen mengutarakan, awalnya ia tidak pernah menyangka jika TLAM akan konsisten dan banyak diminati pekerja migran yang mencintai literasi. Setiap tahunnya jumlah peserta kian meningkat dan telah memasuki penyelanggaraan keenam bahkan memperluas jangkauan perlombaan meliputi Taiwan, Singapura, Malaysia, Hong Kong, Macau, ditambah lagi Korea dan Jepang pada tahun ini.

“Saya tidak menyangka Taiwan Literature Award for Migrants (TLAM) akan berjalan dan terus berkembang. Saya berharap dengan perlombaan ini pekerja migran dapat membagikan pengalaman dan impian mereka di masa depan. Terutama rekan-rekan di Taiwan, kita bisa saling mengenalkan kebudayaan negara masing-masing, karena kita berada di satu pulau,” tutur Chang Cheng.

Press conference dihelat di Jianshan South Road, Daan District, Taipei City ini dimulai pukul 10.00 waktu setempat. Acara dibuka dengan pembacaan karya pemenang TLAM 2017 dari Indonesia, Etty Diallova dengan karyanya bertajuk MERAH. Cerita yang ditulis pekerja migran asal Lampung ini diangkat ke sebuah film oleh sutradara Liu Chunyou yang juga akan tayang di televisi Taiwan. Selain menyumbang devisa terbesar bagi negara, pekerja migran Indonesia juga mengepakkan sastra Indonesia di negara berjuluk Naga Kecil Asia ini.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved